Suripto : Jamaah Maiyah Contoh Nyata National Character Building

0
457
Cak Nun di hadapan ribuan Jamaah Maiyah-dalam acara Halal Bihalal E Arek Suroboyo,di depan Kantor SHW Center di Jalan Imam Bonjol 78 Surabaya, Rabu (19/7/17). (Foto: IB/NN)

Nusantara.news, Surabaya – Toleran, egaliter dan mandiri, jadi gambaran ribuan pemuda yang menyesaki ruas Jalan Imam Bonjol Surabaya, Rabu (19/7/2017). Kendati acara “Halal Bihalal Arek Suroboyo” yang mendatangkan Emha Ainun Nadjib dengan Kiai Kanjeng-nya baru dimulai pukul 20.00 WIB, namun mereka sudah berdatangan beberapa jam sebelumnya.

Seolah tak mau tertinggal, Jamaah Maiyah julukan pengagum budayawan, ulama yang akrab dipanggil Cak Nun tersebut, dengan tertib mengisi ruang kosong hingga 3 meter batas panggung. Areal yang memang disediakan untuk tamu undangan. Situasi itu berlangsung alami tanpa instruksi atau koordinasi sebelumnya.

Mereka seperti tahu peran dan batas masing-masing. Maiyah baru berebut maju mengisi ruang tersisa ketika Cak Nun meminta tamu undangan naik ke panggung dan membebaskan celah itu untuk mereka. Padahal mayoritas yang datang adalah generasi muda dari beragam latar belakang ekonomi, pendidikan, suku bahkan agama. Namun kebanyakan pekerja sektor informal.

Jamaah Maiyah datang dari beragam latar belakang. termasuk agama dan suku. Mereka datang karena tersentuh oleh rasa bangga menjadi Bangsa Indonesia.

“Mereka ini macem-macem pekerjaannya. Dan mereka tidak masalah kerja apa saja karena mereka sangat menikmati dirinya. Mereka tidak cemburu. Kalau mereka punya uang seratus ribu hidupnya adalah seratus ribu. Dia tidak mengatakan hanya seratus ribu… tetapi Alhamdulillah seratus ribu. Betul ndak?” kata Cak Nun yang disambut koor senada Jamaah Maiyah.

Artinya, menurut Cak Nun berapa pun penghasilannya jika pijakannya berdiri di atas pondasi iman yang luas, nilai itu akan membesar dengan sendirinya. Ini untuk mengingatkan akan kesadaran peran masing-masing sesuai kebutuhan. Prinsip ini sangat kontras dengan korupsi, penyakit kronis di Indonesia yang terus terjadi kendati sudah menguras triliunan rupiah uang negara.

“Saya teringat ketika saya masih jadi mahasiswa di tahun 1960-an. Saya sering dengar pidatonya Bung Karno dari radio tentang national character building. Saya tidak ngerti apa itu. Jawabannya baru sekarang ini saya tahu. Ini jawaban yang akhirnya saya tahu (Jamaah Maiyah),” terang Soeripto Djoko Said, salah satu tokoh nasional dalam hajatan yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara tersebut.

Indonesia saat ini memang krisis karakter untuk membangun sebagai sebuah bangsa besar. Dampaknya, dalam percaturan internasional perlahan namun pasti negara yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini kembali menjadi jajahan asing dalam bentuk lain. Indikasi ini terlihat dari lemahnya diplomasi pemerintah ketika menyangkut hajat hidup orang banyak.

Hal ini belum ditambah dengan perilaku politisi, birokrasi hingga elemen lain yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok. Tak heran, kendati dianugerahi sumber daya melimpah predikat sebagai negara berkembang masih terus disandang hingga kini. Inilah yang membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rawan dirongrong kekuatan asing.

kiri ke kanan: Sigid Haryo Wibisono, (Pendiri & Pembina Yayasan Kalimasadha Nusantara), aktivis senior Hariman Siregar, tokoh intelijen nasional Suripto, Cak Nun. (Foto: IB/NN)

Alih-alih bermuka manis mengulurkan bantuan namun sontak berubah bengis ketika sudah mengalami ketergantungan. Ancaman ini yang coba disadarkan Cak Nun melalui Jamaah Maiyah dengan membangun karakter nasional yang kuat seperti mimpi founding fathers NKRI di masa lalu. Termasuk mengembalikan nilai-nilai moral lokal yang sebenarnya merupakan proses berabad-abad, seperti gotong royong, musyawarah dan mufakat, namun semua itu hilang seketika hanya karena ditutupi kepentingan pragmatis pribadi, golongan.

Gerakan ekonomi sektor informal ala Cak Nun melalui Jamaah Maiyah bisa jadi solusi ketika pemerintah yang harusnya hadir, kesulitan memberikan lapangan kerja. Dengan mayoritas generasi muda, mereka merupakan pewaris negeri ini di masa mendatang. Bisa dibayangkan, jika punya modal bangunan karakter nasional yang kuat, harapan untuk menjadi bangsa besar tidak lagi jadi hal yang mustahil. Tentunya dengan campur tangan Ilahiah.

Sebab, bonus demografi yang menjadi anugerah Indonesia saat ini akan menjadi petaka jika negara salah urus. Bayangkan saja, angkatan kerja terus bertambah namun peluang mereka terserap justru mengecil. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2017 saja ada sebanyak 131,55 juta orang. Jumlah itu naik sebanyak 6,11 juta orang dibanding Agustus 2016 dan naik 3,88 juta orang dibanding Februari 2016.

Kenapa sektor informal menjadi solusi? Karena data BPS menyebutkan dari 124,54 juta orang yang bekerja (Februari 2017), sebesar 58,35 persen bekerja pada kegiatan informal. Prosentase ini naik dibanding Februari 2016 seperti yang tersusun di data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia. Data ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan sumber daya alam masih belum mampu menyerap tenaga kerja Indonesia sehingga harus mencari peluang lain melalui pekerjaan informal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here