Suripto: “Merdeka atau Mati, Usir Penjajahan Baru Korporasi Global”

0
794

Nusantara.news, Jakarta – Suripto, tokoh intelijen legendaris tiga jaman ini menguraikan dengan gamblang tentang perubahan global di dunia dan dampaknya ke Indonesia.

Lelaki yang pernah belajar di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad) ini menyebut kebangkitan populisme itu ditandai dengan peristiwa Britain Exit, yaitu keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Sementara di Asia Pasifik, Tiongkok menetapkan One Belt Road, yakni strategi global yang bermuatan ekspansionis yang mengancam negara lain. 

Berikut petikan wawancana Tudji Martudji dari Nusantara.news dengan Suripto usai berbicara di Seminar Memperingati 17 Indonesia Democracy Monitor (INDEMO) dan 43 Tahun Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI) dengan tema ‘Menyikapi Perubahan Global Kebangkitan Nasional Populis’ di Balai Kartini Jakarta, 15 Januari 2017.   

Bagaimana anda menggambarkan kebangkitan populisme di duni saat ini?

Bangkitnya populisme bagi saya adalah aksi dan reaksi dari berbagai negara yang berpusat pada tiga isu sentral yang menonjol di dunia dewasa ini, yakni nasionalisme‎, pergumulan hegemoni antara dua kapitalis (corporate capitalism dan state capitalism), itu karena rasa tidak puas dan kekecewaan publik terhadap sistem yang mapan (anti Establishment).

Apakah ketiga isu sentral tersebut mempunyai implikasi serta dampak kepada Indonesia? 

Di Eropa ada indikasi munculnya, apa yang disebut deglobalisasi yaitu garis kecenderungan yang mementingkan diri sendiri atau kepentingan nasional ketimbang bersama atau Eropa. Garis kecenderung ‎itu dapat dilihat dari sikap Inggris dengan yang disebut Brexit, Marine Le Pen di Perancis, Geert Wilders di Belanda dan Norbert Hofer di Austria.

Semangat nasionalisme itupun muncul dilatarbelakangi sosial yang tidak disebabkan oleh hadirnyacorporate capitalism dan state capitalism di negara-negara Amerika Latin, Asia dan Afrika. Selain itu munculnya semangat nasionalisme itu, disebabkan intervensi asing baik secara militer dan politik di negeri itu, seperti Suriah, Iraq dan Afganistan.

Begitu juga bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan militer yang dilakukan oleh Israel terhadap Bangsa Palestina adalah merupakan reaksi sekaligus inspirasi bagi masyarakat ‎dunia tentang bangkitnya nasionalisme di seluruh penjuru dunia.

Apalagi pembersihan etnis  yang terjadi di Yerusalem Timur yang dilakukan Israel terhadap Bangsa Palestina bukan sebatas penjajahan saja, tetapi merupakan pemusnahan suatu bangsa dari peradaban manusia di Abad 21.

Kemudian dengan terjadinya arus pengungsi yang jumlahnya mencapai jutaan manusia dari negara-negara yang sedang mengalami konflik bersenjata dan perang. Ketika mereka meminta perlindungan dan mencari lapangan kerja ke negara-negara Eropa, ditolak dan ditentang yang kemudian mendapat reaksi yang bermuatan nasionalisme seperti di Perancis oleh Marine Le Pen, di Belanda oleh Geert Wilders, dan Jerman munculnya Neo Nazi.

Di Asia Afrika isu nasionalisme dan anti kemapanan itu adalah reaksi atas hadirnya Global Corporatism, baik dalam bentuk State Capitalism (Cina) maupun Corporate Capitalism (AS-Israel), seperti reaksi yang terjadi di Angola, Zimbabwe, Indonesia, Malaysia, dan Srilanka.

Mengapa sampai terjadi aksi protes dan reaksi?

Karena State Capitalism dan Corporate ‎Capitalism melakukan pendekatan kepada pusat pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik, dikesankan mementingkan pihak pemodal asing, dan merugikan kepentingan nasional. Bahkan, kebijakan publik itu dianggap bentuk baru penjajahan ekonomi di negeri itu. Maka berkembanglah rasa tidak puas serta kekecewaan publik terhadap suatu sistem yang telah mapan, sehingga muncul gerakan protes anti kemapanan yang menuntut terjadinya perubahan. Oleh karena itu ketiga isu sentral Nasionalisme-Popular, Discontent Corporatism, bergerak seiring, tergantung isu mana yang menonjol ke depan di suatu negara.

Seperti Eropa, isu yang menonjol adalah populisme nasionalisme, begitu juga Donald Trump dalam kampanyenya ketika menjadi calon presiden menonjolkan nasionalisme proteksionisme, sedangkan di negara-negara Asia Afrika dan Amerika Latin lebih menonjolkan anti kemapanan popular discontent, disebabkan keberpihakan elite politik di negara-negara itu berpihak kepada korporasi global atau Corporate Capitalism atau State Capitalism.

Ketiga isu ‎sentral dunia ini mempunyai implikasi serta komplikasi atas perubahan peta global dan regional, dalam arti konflik dan stabilitas keamanan di tingkat regional yang akan membawa dampak terhadap negara-negara yang berada di kawasan itu. Konflik dan stabilitas keamanan di kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh negara-negara yang memainkan peran dalam dimensi geopolitik dan goestrategi, yaitu negara-negara yang membawa perilaku ekspansionisme.

Bagaimana ciri negara ekspansionisme?

Suatu negara, disebut membawa perilaku ekspansionisme jika negara tersebut siap bersaing, berkompetisi dan bertarung di gelanggang regional maupun global untuk menghadapi negara-negara lainnya yang berperilaku ekspansionis juga. Adapun kriteria dan tolak ukur suatu negara disebut ekspansionis adalah negara-negara yang memiliki keunggulan disektor politik, ekonomi, kultural dan militer.

Memang di era digital ini akan lebih lengkap lagi keunggulannya jika negara itu maju di sektor informasi dan teknologi, tetapi komunitas bukan negara juga tidak kalah keunggulannya dengan negara atau state aktor.

Negara mana saja yang mempunyai dimensi geopolitik dan geostrategi?

Tampaknya AS, Israel, Rusia, Tiongkok dan Iran cenderung mempunyai ambisi ekspansif yang siap berkompetisi‎ di arena global maupun regional. Negara-negara seperti Rusia dan Iran untuk sementara ini ambisinya masih berdimensi regional. Seperti Rusia di Asia Tengah dan Timur Tengah, sedangkan Iran sebatas di wilayah Timur Tengah.

Israel lebih memusatkan geopolitik dan geostrateginya di kawasan Timur Tengah, tetapi ambisi globalnya tetap mengikuti jejak AS. Jika Donald Trump nanti setelah dilantik tetap memegang teguh garis pandangannya yaitu, benar-benar mau meninggalkan julukannya sebagai ‘Polisi Dunia’ serta mau menarik diri dari predikat ‘hegemoni’ maka Israel pun geopolitik dan geostrateginya akan dipusatkan keunggulannya di bidang IT. Karena Israel tahu di era digital ini, siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia. Sekalipun dalam kampanyenya, Donald Trump akan membatasi atau menarik diri sebagai hegemon atau polisi dunia, tapi jika melihat realita politik, bagaimana halnya situasi dan kondisi di Timur Tengah?

Iran juga ekspansinya baru pada tataran kawasan Timur Tengah, karena geopolitik dan geostrateginya di kawasan Timur Tengah lebih diwarnai ekspansi kultural, yakni Syiah versus Sunni didukung dengan elemen kekuatan militer. Hal ini bisa kita saksikan di Suriah. Boleh jadi Iran dan Israel bisa sering bersama dalam melaksanakan geopolitik dan geostrateginya di kawasan Timur Tengah. Bahkan, jika ditarik mata rantai lebih jauh, probabilitas kepentingan antara Iran, Israel, Rusia di kawasan ini bisa terjadi dalam mengahadapi AS, sekalipun Israel adalah sekutunya.

Apakah AS rela jika Rusia yang akan jadi hegemon baru di Timur Tengah?

Jika antara kampanye dan realita politik tidak semudah membalik tangan, apalagi peran Nasional Security Council sangat dominan di AS. Sehingga diprediksi garis kebijakan AS mengenai geopolitik dan geostrategi tidak bakal berubah, apalagi di kawasan Asia Pasifik dimana Tiongkok sedang menjalankan perilakau ekspansionisnya melalui strategi ‘One Belt One Road’.

Kemudian, bagaimana dengan Cina?

Selain AS maka Tiongkok pun kini sedang mempersiapkan diri menjadi hegemon baru melalui apa yang disebut geopolitik dan geostrategi ‘Jalan Sutera’ yang diterapkan melalui ‘One Belt One Road’. Karena sebagai ekspansionis itu harus siap bertarung di gelanggang regional dan global, maka Tiongkok juga harus mengandalkan keunggulannya yang saat ini baru di bidang ekonomi atau perdagangan dan modal, sedangkan di bidang teknologi militer dan diplomasi politik masih ketinggalan dibandingkan AS.

Jika dikaitkan dengan tiga isu sentral dunia yang menonjol yaitu, nasionalisme, global korporasi dan popular discontent dengan geopolitik dan goestrategi, maka dampak yang mengandung muatan implikasi dan komplikasi politik dan keamanan adalah negara-negara di Timur Tengah, Afrika, Asia, dan Eropa. Untuk di Eropa sedang berkembang yang disebut deglobalisasi, dimana Uni Eropa terancam bubar. Di Perancis semangat menolak imigran, khususnya dari Timur Tengah mendapat perlawanan yang bernuansa semangat nasionalisme-proteksionisme. Di Austria cenderung disebut trend anti kemapanan-populisme, begitu juga di Belanda. Sedangkan di Jerman diwarnai bangkitnya nasionalisme. Sehingga kawasan Eropa menjadi rawan dan kerawanan itu membuka celah bagi Rusia untuk ekspansi dalam arti geopolitik dan geostrategi.

Kehadiran Tiongkok di Afrika mengundang keresahan masyarakat di Zimbabwe dan Angola, karena bantuan dana investasi dari Tiongkok tidak membawa kesejahteraan tetapi membawa beban bagi anggaran belanja negara. Begitu juga kehadiran Tiongkok di Srilanka menimbulkan aksi protes anti Cina.

Jepang, Vietnam dan Korea Selatan merasa gelisah juga dengan One Belt One Road Tiongkok. Demikian pula negara-negara Asean, khususnya yang mengklaim Kepulauan Sparatly, telah menimbulkan ketegangan dan sengketa dengan Tiongkok. Masalah Laut Cina Selatan juga mengundang sengketa terutama AS dengan Tiongkok. Sengketa AS versus Tiongkok ini belum mengarah kepada sengketa bersenjata, apalagi perang terbuka sebab kedua belah pihak tidak mau terjebak dalam ‘thucydides trap’ yaitu siapa yang menjebak siapa.

Tiongkok pun merasa belum berimbang di sektor teknologi militer dalam menghadapi AS. Sisi lain, AS pun seandainya terjadi konflik bersenjata, AS akan menggunakan siasat yang disebut ‘proxy war’ dan sebaliknya Tiongkok menggunakan senjata yang disebut ‘assymetric warfare’

Jika sampai terjadi ketegangan yang memuncak AS versus Tiongkok, maka Israel dalam geopolitik dan geostrategisnya akan mengambil peran, menawarkan jasa-jasanya kepada kedua belah pihak, terutama jasa-jasa di bidang IT.

Bagaimana sikap Indonesia?

Jika kita cermati ketiga isu sentral di dunia tersebut, maka isu itu terkesan berkembang juga di Indonesia. Tuntutan dari berbagai kelompok masyarakat agar kembali ke UUD 1945, mengandung muatan nasionalisme. Begitu juga isu popular discontent dirasakan lapisan masyarakat terbesar, karena cita-cita dan harapan reformasi ternyata semakin melenceng jauh.

Hadirnya atau bercokolnya korporasi global, baik Corporate Capitalism maupun State Capitalismdianggap sebagai bentuk penjajahan baru yang harus ditentang dan diusir dari bumi Indonesia, karena penjajahan model baru itu akan membawa kesengsaraan dan akan membawa nasib generasi muda dan generasi yang akan datang menjadi ‘budak-budak’ di negara sendiri.

Bagaimana seharusnya sikap kita?

Kita tidak mau wilayah Indonesia jadi bagian dari geopolitik dan geostrategi negara-negara yang berperilaku ekspansionis. Kehadiran dan bercokolnya negara-negara asing di Indonesia harus kita tolak dan kita lawan. Untuk itu, kepada putra dan putri Indonesia yang patriotik, mari kita bangkitkan semangat Proklamasi dan semangat Sumpah Pemuda untuk mengusir penjajahan baru dari bumi pertiwi Indonesia. Dan, bertepatan dengan peringatan Malapetaka 15 Januari 1974 atau Malari, yaitu suatu gerakan untuk menentang kehadiran perusahaan Jepang di Indonesia. Maka, mari kita cetuskan lagi slogan pekik “Merdeka atau Mati” mengusir penjajahan baru dari korporasi global. Mari kita selamatkan generasi muda dan generasi yang akan datang, agar Bangsa Indonesia manjadi Tuan di negerinya sendiri.

Rupanya, patut menjadi bahan renungan dan kajian mendalam apa yang terjadi saat ini dan bagaimana nasib Indonesia kedepan. Dipadukan dengan yang di jabarkan oleh Suripto, anak Bupati Cirebon yang dimasa mudanya pernah menjabat Kepala Cabang Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) Bandung ini. Dengan menghidupkan kembali semangat dan pekik Merdeka atau Mati serta Semangat Sumpah Pemuda untuk menjaga Indonesia tetap jaya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here