Survei Polltrend Sajikan Kandidat Pemimpin Jatim di Mata Kiai

0
44

Nusantara.news, Surabaya – Lembaga Survei PollTrend melansir, telah melakukan survei untuk mengidentifikasi kriteria pemimpin ideal dan mengukur kompetensi sejumlah nama kandidat dalam Pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur 2018.

Responden yang diambil dan menjadi obyek survei adalah sebanyak 61 orang kiai tersebar dari berbagai wilayah sesuai karakteristiknya atau tlatah di Jawa Timur. Yakni, wilayah Madura, Mataraman, Pandalungan, dan Arek.

Wilayah Madura, terdiri dari Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.

Untuk Mataraman, terdiri dari Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Jombang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten dan Kota Kediri, dan Kabupaten Blitar.

Tlatah Pandalungan meliputi, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Situbondo. Untuk wilayah Arek, meliputi Kota Malang, Kota Batu, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo.

“Responden kiai yang kita survei tersebut juga digolongkan menjadi empat kelompok, yakni Kiai Thoriqat, Kiai Pesantren, Kiai Panggung, dan Kiai Politik, itu seperti yang diperkenalkan oleh Endang Turmudzi peneliti dari LIPI,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei PollTrend, Khoirul Yahya mengawali paparannya kepada wartawan di Hotel Aria Surabaya, Rabu (30/8/2017).

Azwar Anas dapat nilai tertinggi untuk Cawagub

Hasilnya, dari data survei tersebut nama Abdullah Azwar Anas yang saat ini menjabat Bupati Banyuwangi, terdata paling diinginkan oleh para kiai, untuk maju sebagai bakal calon Wakil Gubernur (Bacawagub) Jawa Timur di Pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang digelar Juli 2018, mendatang.

Yahya menjabarkan dari perolehan data survei yang dilakukan, elektabilitas Anas menempati angka tertinggi yakni 27,9 persen mengungguli nama atau figur lainnya. Dan, periode survei yang dilakukan oleh surveyor yang diturunkan dengan metode tatap muka dan mengisi kuesioner yang digelar di rentan waktu 17 Juni-17 Juli 2017. Perolehan 61 kiai tersebut lanjut Yahya di dapat dengan dilakukan Focused Group Discussion (FGD).

“Penentuan para kiai setiap wilayah itu berdasarkan Focused Group Discussion (FGD) yang dilakukan selama satu bulan,” terangnya.

Selanjutnya, ditentukan derajat pengaruh sang kiai, baru kemudian surveyor turun ke lapangan menemui responden atau para kiai yang dipilih. Dilakukan wawancara langsung dan mengisi kuesioner dengan instrumen pertanyaan terstruktur.

Kandidat yang masuk dalam survei assessment public opinion maker (POM) adalah kandidat yang masuk dalam orbit pemberitaan media atau tahap kandidasi Bacagub dan Bacawagub di partai politik.

Hasilnya, nama-nama besar masih mendominasi perolehan survei yang digerakkan oleh sejumlah dosen politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya itu, dan memetakan preferensi kiai sebagai salah satu pembentuk opini di Jawa Timur.

”Ini bukan seperti lembaga survei lainnya yang fokus di kalangan pemilih langsung, tapi ini memetakan pilihan opinion maker, dalam hal ini kiai yang memang pengaruhnya besar di Jatim,” terang Yahya.

Dia menyebut hingga saat ini, kiai masih menjadi referensi politik dan sumber opini bagi masyarakat yang merupakan basis pesantren.

“Sekitar 70 persen masyarakat Jatim terafiliasi atau merasa dirinya warga NU. Jadi penting untuk mengetahui sikap para kiai sebagai pembentuk opini warga,” paparnya.

Hasil survei tersebut, untuk popularitas, peringkat pertama Saifullah Yusuf diangka 100 persen, Khofifah Indar Parawansa 93,4 persen, Imam Nahrawi 88,5 persen, Tri Rismaharini 85,2 persen, Ketua DPRD Jawa Timur Halim Iskandar 77 persen, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas 72,1 persen.

Untuk elektabilitas, pemilik panggilan Gus Ipul berada di posisi puncak sebesar 72,1 persen, disusul Khofifah 16,4 persen, Halim Iskandar 3,3 persen, dan Azwar Anas 1,6 persen. Dalam elektabilitasnya terdapat selisih cukup besar, 55 persen antara nama di urutan pertama dan kedua.

“Untuk Azwar Anas, yang paling dilihat adalah faktor kinerja karena dinilai berhasil memajukan Kabupaten Banyuwangi. Begitu juga Tri Risma,” ujarnya.

Kemudian, pengamat politik Islam UIN Sunan Ampel Laily Bariroh mengatakan, secara sosiologis, pengaruh kiai sangat besar di Jawa Timur, terutama dalam relasinya dengan santri, keluarga santri, alumni ponpes yang dalam perjalanannya juga banyak yang mendirikan pesantren, keluarga alumni, dan warga di masing-masing daerahnya.

”Peran kiai cukup besar dan krusial. Ini bisa menjadi masukan bagi kandidat untuk terus memaparkan programnya ke kiai karena kiai mendukung bukan hanya berdasarkan kedekatan personal saja, tapi ada pertimbangan visi, program, kinerja,” ujar Laily.

Khofifah Populer dan Elektabilitas Tinggi

Setelah nama Gus Ipul, nama kandidat perempuan yang saat ini menjabat Menteri Sosial di Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla, yakni Khofifah Indar Parawansa berada di urutan ke dua, dengan catatan angka 93,4 persen untuk popularitas kandidat, dan 16,4 persen untuk elektabilitas. Dan nama Anas yang tercatat terdaftar sebagai kandidat melalui PDI Perjuangan mencapai 72,1 persen.

Melejitnya angka elektabilitas Abdullah Azwar Anas membuat Pengamat Politik Islam dari UIN Sunan Ampel Surabaya itu menyorotinya secara khusus.

Menurutnya, munculnya nama Anas di posisi teratas dan dijagokan bisa menempati kursi “Jatim Dua” atau layak sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Timur
menggambarkan bahwa kiai dan masyarakat membutuhkan pemimpin berkualitas seperti sosok Abdullah Azwar Anas.

“Anas pendatang baru dan berada di daerah paling ujung Jatim, tapi dari pemberitaan media tentang inovasinya, mencuri pandang kiai dan menempatkannya sangat tinggi sebagai sosok yang dinilai pantas menempati posisi Wakil Gubernur Jatim,” katanya.

Ia juga menilai peran kiai cukup besar dan krusial sehingga diharapkan bagi kandidat untuk terus memaparkan programnya kepada para kiai, tidak hanya mengandalkan kedekatan personal, tapi visi misi juga program kerja, termasuk hasil atau kinerja yang telah dilakukan.

Itulah sejumlah nama yang oleh lembaga survei tersebut telah dilakukan pengamatan, dan ditanyakan ke para kiai. Namun, kembali ke masyarakat khususnya mereka pemilik suara untuk memilih siapa sosok yang dinilai pantas menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur menggantikan tongkat estafet dari pasangan Soekarwo – Saifullah Yusuf, yang telah memimpin Jawa Timur hingga dua periode ini. Tentu penilaian itu juga tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang telah dilakukan pasangan berjuluk KarSa saat memenangi Pilgub Jawa Timur sebelumnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here