Susahnya Mencari Penerus Wayang Timplong Khas Nganjuk

0
80
Kesenian Wayang Timplong asli Nganjuk yang mulai punah. Foto: antara

Nusantara.news, Nganjuk – Tidak semua orang mengenal Wayang Timplong. Bahkan warga Nganjuk sendiri sudah lupa dengan kesenian asli Kabupaten Nganjuk ini. Padahal, Wayang Timplong merupakan wajah asli leluhur mereka.

Sekarang ini pertunjukan wayang kayu khas Kabupaten Nganjuk ini sudah tak seramai di era tahun 1990-an. Keberadaannya seakan ikut tergerus oleh gemerlapnya dunia hiburan modern.

Belum diketahui secara pasti kapan kesenian ini diciptakan. Berdasarkan kenyataan bahwa Nganjuk memiliki sejarah yang cukup tua, upaya untuk mengetahui asal-usul Wayang Timplong akan terkait erat dengan perjalanan sejarah kota Nganjuk.

Namun menurut literatur yang diperoleh Nusantara.News, konon Wayang Timplong berasal dari Dusun Kedung Bajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Kesenian ini sudah ada sejak tahun 1910 dan diciptakan oleh Mbah Karto Guno (Mbah Bancol). Wayang Timplong sendiri sudah eksis selama enam generasi.

Mbah Bancol sendiri adalah pendatang berasal dari daerah Grobogan Jawa Tengah yang menetap di Desa Jetis. Semasa kecil, Mbah Bancol sangat menyukai wayang Krucil atau disebut wayang Klithik di wilayah Jawa Timur. Setiap ada pagelaran wayang Krucil di wilayah Grobogan, Mbah Bancol selalu ingin melihatnya. Dari kebiasaan tersebut akhirnya tumbuh rasa menyenangi wayang Krucil. Dari sinilah Mbah Bancol ingin menciptakan suatu kesenian wayang Krucil yang berbeda dengan yang lain.

Seniman Wayang Timplong menyakini adanya suatu mitos dalam awal pembuatan wayang. Mitos yang berkembang pada seniman Wayang Timplong bahwa dulu melalui sebuah proses yang cenderung mistis.

Awalnya ,Mbah Bancol tengah membelah sebatang pohon waru untuk kayu bakar. Namun anehnya pada satu belahan kayu itu terlihat sebentuk gambar yang mirip wayang. Selanjutnya seperti mendapat tuntunan gaib, Mbah Bancol selanjutnya memahat kayu itu dan mewujudkan bentuk gambar itu menjadi sebuah wayang.

Dari satu wayang yang berhasil dibuat, itu mendorong Mbah Bancol untuk terus membuat wayang yang lain hingga akhirnya terbentuk seperangkat. Dan sebagai pelengkap, Mbah Bancol juga menyiapkan seperangkap gamelan sederhana sebagai pelengkap. Terciptanya suatu karya seni tidak hanya bakat saja yang dibutuhkan.

Perajin Wayang Timplong.

Faktor-faktor pendukung lainnya, Mbah Bancol ingin menciptakan wayang baru, yang tidak membutuhkan banyak biaya dan menghibur semua kalangan masyarakat. Selain itu ada juga potensi masyarakat dalam bidang seni dengan banyak masyarakat bisa bermain gamelan dan sedikitnya hiburan di masyarakat secara tidak langsung potensi tersebut menjadikan suatu karya seni menjadi Populer.

Lakon Wayang Merujuk Cerita Asli Rakyat

Wayang Timplong kemudian berkembang dan tetap hidup di tengah-tengah masyarakat di wilayah Nganjuk. Dari Mbah Bancol lalu turun-temurun dan diteruskan oleh Mbah Tawar, Mbah Juwul, dan Mbah Budho.

Ihwal penamaan Timplong juga belum diketahui. Penduduk Nganjuk hanya menduga istilah tersebut dipilih untuk menamai wayang kayu yang dimaksud, karena mengacu pada bunyi gambang bambu yang merupakan unsur melodis paling dominan dalam iringan Timplong.

Keterangan ini cukup masuk akal karena dalang-dalang Timplong umumnya juga berpendapat demikian. Jika suara gambang bambu yang digunakan dalam iringan Wayang Timplong diperhatikan, maka yang terdengar adalah bunyi ‘plong … plong … plong”

Perbedaan sangat mencolok antara wayang kulit dan Wayang Timplong bisa dilihat dari jalan cerita. Jika wayang purwa umumnya yang menceritakan kisah Mahabarata ataupun Ramayana, Wayang Timplong berkisar sejarah di Pulau Jawa dan cerita-cerita rakyat.

Adapun cerita yang diambil dalam pementasan kesenian Wayang Timplong adalah cerita Panji yang mengisahkan mengenai kemelut yang terjadi saat Raja Kediri dan Kerajaan Jenggala bermaksud mengawinkan putera-puterinya dengan putra dari kerajaan Jenggala.

Kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggala pada awalnya berasal dari satu nenek moyang, yaitu Raja Airlangga. Setelah Raja Airlangga turun tahta dan menjadi pendeta, kerajaanya dibagi dua dan diwariskan kepada -putra-puteranya. Pada saat kerajaan Jenggala diperintah oleh Raja Lembu Amiluhur, Kerajaan Kediri diperintah oleh adik yang bernama Prabu Lembu Asmani.

Kedua saudara telah melakukan menjalin kesepakatan bahwa dikemudian hari bila mereka mempunyai anak akan dijodohkan untuk mempersatukan kembali dua kerajaan tersebut. Kebetulan Raja Lembu Amilur mempunyai putera bernama Panji Asma Bangun. Sedangkan Raja Kediri mempunyai putri yang cantik bernama Putri Sekartaji. Niat baik kedua raja untuk menjodohkan puteranya tidak berjalan mulus. Banyak sekali cobaan dan godaan dan peristiwa-peristiwa yang berusaha menggagalkan perkawinan Raden Asma Bangun dengan Dewi sekartaji. Akan tetapi pada akhirnya semua rintangan dan godaan tersebut dapat diatasi.

Pun dalam setiap pementasannya, Wayang Timplong tampil sangat sederhana. Para penabuh gamelan tidak sebanyak dan selengkap yang wayang kulit gaya Yogyakarta maupun Surakarta.

Untuk mengiringi pagelaran wayang, sang dalang hanya dibantu oleh lima orang panjak atau pemain gamelan yang terdiri dari kendang, dua kenong, gambang, dan gong kecil.

Pementasan Wayang Timplong sangat sederhana. Sang dalang hanya dibantu lima panjak atau pemain gamelan.

Gending-gending yang menyertai cerita lakon juga tidak terlampau njlimet, karena wayang ini hanya mengenal gending prahab (keluarnya wayang), grendel (jejeran), ngrangsang (peperangan), sendonan (sulukan), dan andek-andek (Onto Kencono).

Bahkan, kendati kesenian wayang kulit era sekarang kerap dikemas dengan tampilan baru yang terasa lebih segar, karena memasukkan unsur-unsur lawakan dan pesinden lagu-lagu campursari, wayang asli bumi Nganjuk ini tetap pakemnya sendiri.

Artinya, sebagai generasi penerus dari para pendahulunya, para dalang tidak berniat mengubah eksistensi wayang timplong itu sendiri. “Ojo sampek ilang (jangan sampai hilang), Wayang Timplong itu wujudnya yang seperti itu,” terang almarhum Ki Talam yang sudah mendalang sejak tahun 1957.

Selain itu, cerita Wayang Timplong tidak pernah terseret oleh kepentingan politik dan memang tidak ikut politik. Pasalnya khazanah seni tradisi Wayang Timplong telah membuka apresiasi terhadap aneka ragam seni wayang itu sendiri.

Sementara itu menurut Suwoto, panjak yang juga dalang Wayang Timplong, pada tahun 1991 wayang pimpinan Mbah Tawar mengaku sempat tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. “Tahun 1999 lalu sebagai dalang Wayang Timplong saya pentas di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Surakarta,” ujar Suwoto, anggota keluarga Ki dalang Talam.

Diakui Suwoto, selama ini cerita lakon berputar-putar dari cerita-cerita masa lampau, tidak tertutup kemungkinan akan lahir sosok dalang yang mengusung cerita-cerita lakon kekinian.

“Bakal jauh lebih menarik kalau mengangkat cerita si Tommy…,” imbuh Suwoto.

Tampilan Wayang Timplong juga patut mendapat perhatian. Sebab bentuknya sangat unik. Jika wayang umumnya terbuat dari kulit, atau boneka kayu (jika itu wayang golek), kalau Wayang Timplong terbuat dari bahan kayu waru atau pinus. Pembuatan wayang ini cukup rumit dikarenakan kayu harus dipahat sampai pipih layaknya wayang kulit. Pembuat Wayang Timplong juga harus memperhatikan bentuk detail dari wayang itu sendiri. Sementara tangannya terbuat dari kulit.

Wujud Wayang Timplong khas Nganjuk yang terbuat dari kayu.

Hanya Pentas di Acara Ruwatan Desa

Di Indonesia bahkan seluruh dunia, sekarang ini hanya ada lima dalang Wayang Timplong yang masih setia melestarikan kesenian leluhur tersebut.

Adalah Ki Gondo Maelan yang kini telah berusia 80an, asal Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Pria ini sampai sekarang tetap menjaga kesenian Wayang Timplong agar tidak punah.

Diakui Ki Gondo, memang tidak banyak generasi muda yang peduli dengan kesenian ini. Hanya segelintir saja. Itu pun diwariskan dari generasi tua melalui keturunannya langsung.

“Di Nganjuk dan mungkin di seluruh dunia, paling cuma ada lima dalang Wayang Timplong, dan yang tertua, ya saya. Ada Ki Suwoto, Ki Djikan, Ki Gondo, Ki Suyadi dan Ki Talam (sudah meninggal). Biasanya yang meneruskan keahlian bertutur dalam melakonkan wayang Timplong. Wayang Timplong diturunkan ke anak cucu dari keturunan langsung sang dalang. Itu pun kalau para dalang mau mewarisi. Sebab, ada juga dalang yang tidak karena usianya sudah tua, tidak bisa menurunkan ilmunya ke generasi muda,” tutur Ki Gondo dalam acara bersih desa di Kecamatan Sukomoro.

Menurut Ki Gondo, Wayang Timplong mulai jarang ditampilkan. Mengingat kesenian ini sudah tergerus peradaban jaman yang sudah modern. Eksistensi Wayang Timplong terbatas pada komunitas pedesaan yang masih menghargai ritualitas.

Ya, kelestarian Wayang Timplong bisa ditolong dengan sering dipentaskannya wayang tersebut untuk ruwatan desa atau bersih desa. Tujuannya untuk mengusir balak atau pun bencana. Selain itu, Wayang Timplong juga muncul pada saat gelar budaya untuk memperingati hari jadi Nganjuk. Kesenian Wayang Timplong di acara tersebut biasanya berbarengan dengan kesenian-kesenian tradisional Nganjuk lainya seperti Tayub dan Pogokan.

“Adanya ruwatan desa, bersih desa, atau panen raya di tengah-tengah masyarakat, menjadi ruang hidup seni Wayang Timplong. Kita pentas hanya di acara-acara ritual. Harapan kami kesenian ini bisa dipentaskan layaknya kesenian wayang kulit,” harap Ki Gondo.

Dalang Ki Gondo Warsito mengaku Wayang Timplong sering dipentaskan untuk acara ruwatan desa atau bersih desa.

Selama ini pagelaran Wayang Timplong dipentaskan secara sederhana. Di Nganjuk, kesenian ini hanya dapat disaksikan di pedesaan saja. “Bulan Suroan biasanya banyak tanggapan, kadang tiga, empat, sampai enam kali,” ujar Ki Gondo.

Lalu berapa tarifnya? Ternyata sangat murah. Berkisar Rp 750.000 hingga Rp 1 juta,” celetuk Ki Gondo.

Paguyuban Wayang Timplong pimpinan Ki Djikan yang beranggotakan rata-rata orang tua (dengan usia sebagian besar 55-an), juga mengaku jika masyarakat kurang tertarik dengan Wayang Timplong ini.

Hal tersebut dikarenakan dalang, penabuh gamelan serta sinden sudah berumur tua, dan masyarakat sedikit yang mau mempelajari kesenian Wayang Timplong sebagai pelestarianya. Sedangkan generasi muda cenderung menyukai kesenian yang sifatnya baru sesuai dengan pola pikir masyarakat yang berubah modern.

Generasi muda saat ini justru meninggalkan kebudayaan-kebudayaan warisan leluhur sehingga budaya leluhur semakin tergerus globalisasi yang melanda Indonesia. Globalisasi dengan segala mekanismenya telah membukakan pintu yang sangat luas bagi generasi muda Indonesia untuk memandang dunia, memilih, mengambil, dan menginginkan cara-cara hidup yang dipandang sesuai.

“Generasi muda sebagai elemen penting dalam melestarikan kesenian khas daerah, lebih memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian asing dari pada kesenian tradisional yang berasal dari daerahnya sendiri,” ujar Ki Djikan.

Menurut Ki Djikan, umumnya generasi muda merasa gengsi dan malu apabila mempertahankan dan menggunakan kesenian tradisional, karena dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Tanpa mereka sadari sesungguhnya kesenian tradisional atau kebudayaan lokal merupakan jati diri bangsa karena mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada di dalamnya.

Apabila permasalahan ini berlangsung terus menerus, maka akan sangat berpengaruh hal kelangsungan kebudayaan suatu bangsa. Jelas masyarakat tidak lagi mewarisi nilai-nilai budaya leluhur, dan tidak memiliki jati diri.

Sebenarnya ruang untuk wayang langka ini masih perlu dibuka lebar, karena seni tradisi yang konon cuma hidup dan berkembang di daerah Nganjuk. Pemerintah Kabupaten Nganjuk bisa ‘menyulap’ menjadi sebuah ikon dan kekuatan.

Menurut mahasiswa FISIP Universitas Airlangga yang telah melakukan penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (PKM-SH) dengan judul “Eksistensi Wayang Timplong Sebagai Upaya Pelestarian Kebudayaan Lokal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk”, penerus dalang Wayang Timplong selama ini terbatas hanya pada lingkup garis keturunan.

Penerus Wayang Timplong, Suyadi, warga Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabuparten Nganjuk, bersama mahasiswa Unair.

Diperkirakan inilah yang membuat para dalang juga kesulitan dalam mencari penerus. Apalagi selama ini minat masyarakat dan peran serta pemerintah terhadap keberlangsungan wayang kayu khas Nganjuk ini sangat rendah.

“Padahal apabila dikembangkan dengan adanya program pemerintah, misalnya, serta adanya minat masyarakat, maka Wayang Timplong ini dapat menjadi media pembelajaran untuk pendidikan formal, sebab dalam cerita-ceritanya dapat memberikan pendidikan berkarakter untuk anak-anak dan remaja,” kata Julia Permata Maulidhia, ketua Tim PKM-SH ini.

Seperti lazimnya wayang-wayang, Wayang Timplong sebenarnya bisa menjadi alat menyosialisasikan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat. Tentu saja melalui cerita-cerita yang dipertunjukkan. Sayangnya, saat ini sudah jarang terlihat ada pertunjukan wayang tradisional ini, kecuali di desa-desa pada acara khusus seperti ritual. Kalangan remaja termasuk warga Nganjuk sendiri banyak yang belum pernah mendengar nama Wayang Timplong.

”Pertunjukan Wayang Timplong hanya berlangsung di beberapa dusun dan yang meminati pertunjukan pun hanya kalangan orang-orang tua,” tutur Julia.

Keberadaan kesenian Wayang Timplong tidak lepas dari peran serta masyarakat, selama mereka masih menganggap dan membutuhkan kesenian Wayang Timplong tetap lestari. Dari keadaan inilah, Wayang Timplong perlu dukungan generasi penerus untuk melanjutkan dan melestarikan. Selain itu juga dapat dikembangkan ke dalam bidang industri kreatif, yaitu industri wisata di mana suatu kebudayaan lokal dikembangkan dan dipromosikan sebagai ikon suatu daerah. Jika upaya tersebut berhasil, maka akan memberi nilai tambah bagi keberlangsungan kesenian itu sendiri maupun untuk Kabupaten Nganjuk.[]

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here