Susi Air Kuasai Subsidi Angkutan Udara Perintis

0
532

Nusantara.news, Surabaya – PT. ASI Pudjiastuti Aviation (PT ASIPA) milik Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti makin perkasa. Sejak 2013, maskapai Susi Air ini telah ikut lelang subsidi angkutan udara perintis. Hampir setiap tahun, sebagian besar mereka paket dikuasai. Tahun 2017 ini separuh lebih dimenangkan.

Pemerintah memiliki rencana menghapus subsidi angkutan udara perintis, dan mengalihkan kepada subsidi barang. Rencana pemerintah akan terealisasi tahun 2023. Untuk itu pemerintah memiliki rencana untuk memperpanjang lintasan lapangan terbang perintis menjadi 1.400 meter, sehingga bisa didarati pesawat dengan ukuran lebih besar.

Mengingat pesawat perintis yang biasanya memakai pesawat jenis C212 berpenumpang maksimal 15 orang. Bila dibandingkan dengan pesawat menengah dengan penumpang 50, jumlah pilotnya sama yakni satu serta beban operasional yang hampir sama. Otomatis akan menekan harga tiket pesawat menjadi lebih murah.

Dalam surat keputusan Dirjen Perhubungan Udara No : KP 353/2016 tentang rute dan penyenggaraan angkutan udara perintis untuk penumpang serta penyelanggara dan lokasi subsidi angkutan BBM  pesawat udara TA 2017 dinyatakan, jumlah rute sebanyak 193, setiap minggu frekuensi penerbangan Pulang- Pergi (PP) sebanyak 302. Dengan demikian jumlah penumpang maksimal seminggu sebanyak 9.060 orang.

“Dari 193 rute, tarif tertinggi sebesar Rp 363ribu, ini ada pada rute Palangkaraya-Pangkalan Bun. Tarif terendah hanya Rp 144 ribu itu ada pada rute Binuang -Long Layu ” ujar M. Sudaya, salah seorang konsultan dari Surabaya  yang biasa mengerjakan proyek di Kementrian Perhubungan kepada Nusantara.news, Kamis (16/03/2017)

Namun, ada biaya lain yang belum dimasukkan yakni PPN 10%, Iuran Wajib Pesawat Udara (IWPU) dan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U). “ IWPU besarnya Rp 5.000, kalau PJP2U paling mahal Rp 45 ribu. Maka didapat tarif termahal  Rp 449,3 ribu dan termurah Rp208,4 ribu” jelasnya.

“Setahu saya maksimal jumlah penumpang untuk 193 rute yang disubsidi jumlahnya sebanyak 471.120 penumpang.  Kalau tarif termahal dipakai untuk semua rute maka dibutuhkan Rp 211,6 miliar. Jelas ini bisnis yang menggiurkan untuk dimainkan, sebab subsidinya tahun ini Rp 245,13 miliar. Kenapa bisa begitu? Itu tugas anda untuk menelusuri,” sarannya

Sementara itu melihat Rencana Umum Pengadaan (RUP) Kementerian Perhubungan tahun 2017 dialokasikan Rp 245,13 miliar yang terbagi dalam 14 paket. Dengan rincian sebagai berikut Paket I (Rp 17,17 miliar) , paket II (Rp 18,23 miliar), Paket III (Rp 17,14 miliar,) Paket IV (Rp 37,18 miliar), Paket V (Rp 33,28 miliar),  Paket VI (Rp 17.64 miliar), Paket VII (Rp 12,22 miliar), Paket VIII (Rp 32,73 miliar), Paket IX (Rp 9,7 miliar), Paket X (Rp 6,46 miliar), Paket XI (Rp 9,39 miliar), Paket XII (Rp 10,39 miliar), Paket XIII (Rp 14,4 miliar), dan paket XIV (Rp 9,2 miliar)

Dalam situs www.eproc.dephup.go.id dijelaskan, sampai Kamis (16/03) dari 14 paket tersebut, sepuluh paket sudah selesai dilelang. Paket X, Paket XII, Paket XIII, dan Paket XIV masih dalam proses penetapan pemenang. “Kalau lihat jadwal, rencananya Selasa (21/03) akan diumumkan pemenang lelang” ujar seorang anggota Pokja Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kemenhub melalui email kepada Nusantara.news (16/03/)

Dari 10 paket yang sudah selesai, dalam lelangnya hanya ada dua pemenang yakni PT Marta Buana Abadi ( PT MBA) dan PT ASI Pudjiastuti Aviation( PTASIPA), yang masing-masing memenangkan 5 paket. PTMBA menang di Paket I, Paket II, Paket IV, Paket VI dan Paket VII dengan nilai total Rp 102,44 miliar. Untuk  PTASIPA menang di  Paket III, Paket V, Paket VIII, Paket IX dan  Paket XI dengan total Rp102.4 miliar.

PT ASIPA juga diperkirakan menang di empat paket lainnya,  sebab tidak satu pun penantangnya yang perusahaan angkutan udara.

Sepak terjang PT ASIPA dalam subsidi angkutan udara perintis tercatat sejak subsidi penerbangan perintis diadakan dengan cara pelelangan di tahun 2013. Waktu itu PT Merpati Nusantara Airways (PT MNA) masih beroperasi dan menjadi pesaing, namun tetap saja kalah dari PT ASIPA. Dari 9 paket,  6 di antaranya dimenangkan PT ASIPA dengan Rp 58,75 milar. PT. MNA menang dua paket,  dan sisanya diambil PT PT Aviastar Mandiri (PT AM). Untuk 2014 PT ASIPA menang di 10 paket senilai Rp100 miliar.

Dominasi PT ASIPA mulai tak terkalahkan di tahun 2015. Waktu itu dengan alokasi anggaran subsidi sebesar Rp 620 miliar yang terbagi dalam 37 paket, PT ASIPA mendapat 21 paket senilai Rp 437 miliar. Paket sisa diraih oleh PT MBA (1 paket), PT Trigana Air Service (1 paket) dan sisanya PTAM.

Untuk tahun 2016, dengan adanya penurunan harga minyak dan pemotongan anggaran nilai subsidi pun turun hanya Rp 128.15 miliar yang 7 paket, PT ASIPA mendapat lima paket senilai Rp 105,1 miliar. Dua paket lainnya dibagi antara PT MBA dan PT AM. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here