Susi Akan Angkat Isu Illegal Fishing di Forum PBB

0
178
Nelayan menata ikan tuna untuk pangsa ekspor di Pelabuhan Perikanan Samudera, Lampulo, Banda Aceh, Sabtu (12/3). Sehubungan meningkatnya hasil tangkapan ikan tuna Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta Regional Fisheries Management Organisations (RFMOs) menaikkan kuota tangkap ikan tuna Indonesia sebesar 500 ribu ton pertahun. ANTARA FOTO/Ampelsa/nz/16

 

Nusantara.news, Jakarta – Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti akan bikin gebrakan berskala internasional. Saat berkunjung ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Susi akan mengangkat isu illegal fishing. 

Hal ini dikemukakan Susi saat hadir di Seminar Nasional Kewirausahaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (6/5/17), tanpa menyebut kapa dia akan berkunjung ke PBB.

isu itu menurut Susi penting dan tepat diangkat di forum PBB, karena illegal fishing sangat merugikan Indonesia dan juga sejumlah negara lain. Mengapa karena,  illegal fishing  terkait dengan kejahatan transnasional, dan oleh sebab itu penangannya pun harus lintas negara.

 

“Persoalan illegal fishing bukan hanya ada di Indonesia, melainkan juga sudah menjadi persoalan dunia. Perlu kita ketahui, illegal fishing bukan saja menyangkut pencurian ikan, tetapi juga kerusakan lingkungan di laut, trafficking human (perdagangan manusia), perbudakan, dan penyelundupan narkoba. Illegal fishing bukanlah  kejahatan biasa, tetapi sudah terorganisir secara internasional,” ungkapnya.

Menurutnya, jika illegal fishing terus dibiarkan, akan mematikan nasib nelayan Indonesia yang merupakan bagian dari UMKM. Padahal, kekayaan laut Indonesia paling kaya sumber daya ikan di dunia.

Susi mengatakan, sebagai mantan pengusaha ikan, dirinya pernah merasakan sulitnya mendapatkan ikan sejak 2004 lalu.

Masifnya illegal fishing terjadi sejak 2004i. Hal itu terefleksi dari sensus 2003 -2013 yang ditandai turunnya jumlah nelayan. Awalnya, masih ada 1,6 juta nelayan, lalu turun tinggal 800.000 nelayan saja. Bahkan, sudah 115 perusahaan eksportir ikan tutup karena bidang perikanan dianggap tidak menjanjikan lagi. Padahal, sebenarnya ini akibat ulah dari illegal fishing.

“Dalam kaitan ini, yang menjadi ancaman serius adalah merosotnya tangkapan ikan tuna. Padahal, 68 persen populasi tuna dunia bertelur dan berkembang biar di Laut Banda. Kita kehilangan kesempatan emas lantaran induk-induk tuna telah ditangkap di lautan lepas,” ujarnya.

Susi mengatakan dirinya bersyukur karena selama dua tahun belakangan ini ada perubahan yang signifikan. Ini adalah dampak dari banyaknya kapal-kapal pencuri ikan asing yang dia tenggelamkan.

Hasilnya, jumlah ikan tangkap naik, PDB perikanan naik, nilai tukar usaha perikanan meningkat pesat, bahkan konsumsi ikan ikut naik dari 36 kg menjadi 41 kg per kapita per tahun.

“Itu artinya, bidang perikanan mulai menjanjikan,” katanya.

Dia memaparkan,  dengan adanya hasil laut di berbagai negara yang terus mengalami penurunan, maka sebagian besar negara yang memiliki luas lautan di dunia saat ini tengah mencari cara demi memenuhi kebutuhan gizi penduduknya dari hasil laut.

Kondisi itu kebalikannya dengan Indonesia, yang sumber daya lautnya mengalami peningkatan. Akibat dari keadaan itulah ada negara-negara tertentu yang melihat sumber daya yang dimiliki Indonesia dijadikan sasaran jarahannya.

“Mereka itu bisa memantau ikan-ikan kita lewat satelit satelit. Perlu kita sadari, bahwa persediaan ikan Indonesia adalah paling banyak di dunia. Di belahan dunia lain, pengurangan sumber ikannya lebih cepat 3 kali dari yang diperkirakan, seperti Thailand itu,” papar Susi.

Menurut Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan Zulficar Mochtar, banyaknya pencurian ikan di perairan laut Indonesia membuat kondisi volume perikanan, khususnya ikan tuna Indonesia kian berkurang.

Pencurian dan penangkapan ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan merupakan tuntutan dari meningkatnya permintaan ikan secara global.

Bahkan dia mengatakan, walaupun telah banyak ditenggelamkan, namun para pencuri ikan masih tetap berani  beroperasi.  Kebutuhan ikan naik, dan kompetisi menangkap ikan kian tinggi. Jika tak dikelola dengan baik, tuna kita kian terancam. Metode konvensional dalam melakukan pencurian ikan (illegal fishing) di Indonesia dengan cara menduplikasikan izin di Indonesia. Kapal asing illegal fishing yang melakukan hal seperti ini jumlahnya ribuan kapal.

Maka, tak mengherankan jika ikan tuna di perairan Indonesia semakin berkurang. Zulficar memaparkan, secara global sektor perikanan telah 85% mengalami over eksploitasi. Sehingga apabila tidak diantisipasi secepatnya, perikanan di wilayah Indonesia juga akan terancam.

“Sifat ikan tuna itu highly migratory species, artinya ia selalu berpindah ke mana-mana, regional sifatnya sehingga statusnya masuk ke dalam RFMO (Regional Fisheries Management Organizations) regional sifatnya,”  ujar Zulficar dalam diskusi bertajuk Tuna Indonesia Dalam Ancaman, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Tuntutan permintaan ikan secara global membuat kebutuhan ikan menjadi naik dan kompetisi menangkap ikan pun semakin tinggi. Karena itu, walaupun banyak kapal asing yang ditenggelamkan akan tetapi para pencuri ikan tetap nekat beroperasi. Data menunjukkan ada 7.000 hingga 10.000 kapal asing menjarah ikan di perairan Indonesia setiap tahun.  Karena itu, soal illegal fishing ini penting diangkat di forum PBB. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here