Sutopo, Perginya Si Penyambung Lidah Informasi Bencana

0
56
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, berpulang

Nusantara.news, Jakarta – Ibarat setetes air di tanah gersang, begitulah sosok Sutopo Purwo Nugroho. Di tengah keterpurukan performa para pejabat publik, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) ini tampil mengesankan: menawarkan sebuah manajemen kinerja yang profesional dan dedikasi tanpa batas meski raga dikurung penyakit ganas. Dia muncul ketika defisit keteladan dan dedikasi dari para pemangku kuasa berlangsung sekian lama.

Sutopo sebenarnya seorang yang biasa, pejabat eselon 1 di sebuah lembaga yang tidak terlalu mentereng. Ia juga menunjukan standar kerja pejabat yang memang selayaknya: menguasai dan mencintai pekerjaannya, merawat relasi, serta mampu menyampaikan informasi publik dengan detail dan mudah dipahami. Yang membuatnya luar biasa, ia menunjukan standar itu di tengah laku hidup pelayan publik pada umumnya yang kerap bekerja di bawah standar.

Dia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan ramah. Di mata wartawan, pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 ini adalah pribadi yang sangat mudah bekerja sama: bisa dihubungi dan diwawancarai kapan saja, dalam kondisi larut malam sekalipun. Sebagai seorang awak humas dia sangat menguasai masalah dan sangat bertanggung jawab. Penjelasannya soal kebenacanaan mudah ditemukan melalui pesan WhatsApp ataupun pada akun Twitter miliknya.

Seperti diketahui, Indonesia memang disebut sebagai negara berisiko bencana tinggi karena berada di jalur cincin api (ring of fire). Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan menyebut Indonesia sebagai supermarket bencana. Betapa tidak. Bencana gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, erupsi gunung dan kekeringan seakan tak henti menguji negeri ini.

Sepanjang 2018, tak kurang dari 2.564 bencana terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Ribuan bencana itu menyebabkan 3.349 orang meninggal, 1.432 orang hilang, 21.064 orang luka-luka, 10,2 juta orang mengungsi dan terdampak, serta 319.527 unit rumah rusak.

Setiap kali bencana melanda, sosok Sutopo selalu tampil menyampaikan informasi kebencanaan terkini bagi publik di Tanah Air. Dia serupa penyambung lidah sekaligus rujukan paling valid perihal informasi kebencanaan.

Yang mengharukan, dalam kondisi sakit keras pun, dengan tubuh lemah dan wajah pucat, lulusan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada ini tetap bersemangat menyampaikan informasi dan data terbaru soal bencana. Pendeknya, Sutopo bisa disebut sebagai tenaga humas dengan kemampuan lengkap. Tidak hanya pengetahuannya yang luas mengenai kebencanaan, dia juga memahami ilmu bumi dengan sangat baik. Dia pun tak segan berbagi pengetahuan dengan khalayak.

Pada diri Sutopo pula kita melihat sebuah perjuangan yang keras melawan penyakit ganas dan mematikan yang terdeteksi sejak 17 Januari 2018 lalu. Penyakit kanker paru-paru yang menimpanya meski ia bukanlah seorang perokok, tidak membuat Sutopo mengeluh. Saat bercerita tentang perkembangan penyakitnya melalui Twitter tak tersirat nada pesismistis pada setiap kalimatnya. Sebaliknya dia selalu menyemangati dirinya sambil mengingatkan orang lain akan pentingnya menjaga kesehatan.

Tapi sekarang sosok yang kerap disebut Pejuang Bencana itu telah tiada. Ia meninggal Minggu (7/7) dini hari, di Guangzhou, Tiongkok. Perjuangannya berakhir setelah hampir dua tahun melawan kanker paru-paru stadium 4B. Awalnya, ia berencana menjalani pengobatan selama sebulan di sana sejak 15 Juni. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sutopo wafat di usia 49 tahun dan meninggalkan seorang istri serta dua orang putra.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kedua kanan) dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo (kedua kanan) memberikan penghormatan kepada jenazah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat serah terima jenazah di rumah duka Raffles Hils, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu, 7 Juli 2019. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah pada Senin, 8 Juli 2019.

Kepergian Sutopo tentu saja menyisakan kehilangan dan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Berbagai ucapan bela sungkawa atas meninggalnya lulusan S2 dan S3 bidang hidrologi di IPB ini terus berseliweran di media sosial dan grup-grup WhatsApp, salah satunya dari Presiden Joko Widodo. "Inalillahi wa Innailaihi Rojiun. Kita kehilangan seorang yang hidupnya didedikasikan untuk orang banyak," ucap Jokowi lewat akun resmi Twitter-nya.

Percakapan tentang kepergian Sutopo terus deras naik sejak publik mendengar kabar duka meninggalnya Sutopo pagi tadi. Percakapan di antara netizen juga mengandung interaksi tinggi; rata-rata tiap twit mendapat 5.19 interaction rate. Dari pagi hingga siang hari, seperti terpantau oleh Drone Emprit (DE), tren interaksi percakapan tampak naik signifikan per jam dari pagi hingga siang hari.

Sejumlah karangan bunga buka duka cita pun datang baik dari para pembesar republik, maupun para koleganya. Media massa riuh memberitakan perihal kepergian Sutopo, tak terkeuali media asing.

Pendek kata, berpulangnya Sutopo yang notabene pejabat biasa, menyita perhatian dan pemberitaan berbagai pihak. Ia bukan seorang presiden, juga pejabat kelas kakap, namun perlakuan publik terhadap kepergiannya begitu istimewa. ‘Tokoh Perubahan Republika’ yang mulai aktif mengabdi di BNPB sejak begituAgustus 2010 hingga mengembuskan napas terakhirnya ini, memang mempunya tempat khusus di hati masyarakat.

Akhirnya, benar pribahasa "Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama.” Bahwa pangkat, jabatan, kekuasaan dan kekayaan hanyalah fana dan sementara. Seorang manusia ketika meninggal hanya akan diingat akan dua hal, kebaikan selama hidup atau pun sebaliknya.

Selamat jalan Pak Topo.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here