Swasembada Jagung 2017, Asing Berebutan Pasok Benih

9
6212

Nusantara.news, Lamongan – Target swasembada jagung 2017, membutuhkan ketersediaan benih yang cukup. Petani masih sebagian yang memanen, beberapa perusahaan benih milik asing berebutan menyediakan benih. Pemerintah sendiri menyediakan Rp1,872 triliun untuk pembelian bibit bagi petani.

Selain beras, jagung dan sagu juga makanan pokok. Seiring pesatnya ilmu pengetahuan, jagung bukan hanya dipakai sebagai makanan pokok tapi juga dibutuhkan perusahaan pakan, bahkan bahan biodiesel. Mau tidak mau kebutuhan jagung akan terus meningkat.

Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2016 impor jagung sebanyak  900.000 ton dengan nilai USD 179,86 juta atau sekitar Rp 2,41 triliun (kurs Rp 13.400). ini turun cukup besar dibanding tahun 2015 yang mencapai 3,02 juta ton senilai USD 648,4 juta

Meski impor jagung cukup besar, sebenarnya ada penurunan sangat signifikan impor periode Januari-November 2016 dengan impor jagung di periode yang sama tahun tahun 2015 sebesar 3,02 juta ton senilai USD 648,4 juta.

Untuk impor jagung pada tahun-tahun sebelumnya berturut-turut yakni tahun tahun 2012 dengan volume impor 1,69 juta ton senilai USD 501,9 juta, tahun 2013 impor jagung sebesar 3,19 juta ton senilai USD 918,89 juta, dan tahun 2014 dengan volume impor 3,25 juta ton senilai USD 810,42 juta.

Tidak mengherankan Pemerintah berani mentargetkan tahun 2017 Indonesia swasembada jagung, dengan produksi 25,2 juta ton. Beragam upaya dilakukan untuk mencapai target itu. Kementerian Pertanian (Kementan), memfasilitasi budidaya jagung hibridan dan jagung komposit. Dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) Kementan dianggaran sebesar Rp 2,292 triliun dengan rincian untuk jagung hibrida Rp 2,106 triliun dan jagung komposit Rp186 miliar.

Anggaran sebesar Rp 2,022 triliun dipergunakan untuk bibit. Tercatat 39 ribu ton bibit hibrida dan 10 ribu ton bibit komposit. Untuk bibit hibrida senilai Rp1,872 triliun, kebutuhannya di pasok oleh perusahaan bibit.

Ini tentunya menguntungkan perusahaan benih jagung, saat ini hanya dikuasai oleh 4 perusahaan asing, yaitu PT. BISI International Tbk, PT. Dupont Indonesia, PT. Monsanto Indonesia dan PT. Syngenta Indonesia. BISI nilainya kapasitasnya paling besar yakni 15.000 ton per tahun, Dupont Pioneer sebesar 10.000 ton per tahun, Monsanto sebesar 14.000 ton dan Syngenta sebesar 7.500 ton per tahun. Total kapasitas 42.500 ton/tahun.

Peluang ini dibaca oleh perusahaan bibit jagung. Raksasa bibit dunia dari Amerika Serikat, Monsanto, cukup jeli membaca peluang ini. Monsanto merilis benih jagung hibrida dengan merek DK 959 dan DK 771 (DEKALB). Potensi produksi kedua varietas benih jagung hibrida ini dapat di atas 10 ton/ha, lebih tinggi dari rerata produksi jagung nasional sebesar 5,2 ton/ha. Untuk benih jagung DK 771 ini memiliki keunggulan lebih tahan serangan penyakit bulai.

“Selama musim hujan, volume penjualan benih  jagung hibrida meningkat hingga 368 persen atau naik 2.944 ton. Angkanya (penjualan red) fantastis,”ujar Presiden Director PT Monsanto Indonesia Ganesh Pamugar Satyagraha disela acara Responsible Business Forum on Food and Agriculture di Jakarta, Selasa (14/3/2017)

Tahun sebelumnya perusahaan berhasil membubuhkan penjualan benih jagung hibrida sebesar 4.000 -5.000 ton..

Biasanya, serapan pasar tidak lebih dari 20 % atau berkisar 800 ton-1.000 ton.”Kontribusi penjualan terbesar jatuh pada musim kering (80 persen), usai memanen padi,petani berganti menanam jagung,”  kata Ganesh.

Dalam musim tanam penghujan akhir 2016, Monsanto mensuplai bibit jagung untuk proyek percontohan jagung modern yang ada di Lamongan. Hasilnya pun fantastis bila sebelumnya setiap Ha hanya mampu menghasilkan 5,8 ton, sekarang meningkat jadi 12,7 ton. ” Salah satunya benih Dekalb DK959 yang cukup sukses ditanam di Lamongan ini dengan produktivitas mencapai 12,7 ton/ha,” paparnya

Uji coba ini yang menghasilkan produksi 12,7 ton/hektar ini juga dibenarkan Bupati Lamongan Fadeli,   “Ada 11 varietas jagung hibrida yang diuji coba, dengan lima varietas di antaranya adalah jenis unggulan. Kelima varietas unggulan ini menghasilkan produktivitas paling rendah 8 ton, dan yang tertinggi bisa mencapai 12,7 ton per hektar,” tutur Bupati Lamongan Fadeli yang enggan menyebut varietas yang mampu menghasilkan 12,7 ton/Ha

Pemkab Lamongan pun bersiap meluncurkan kawasan percontohan serupa di beberapa tempat. Dengan bakal diterapkan pada lahan yang lebih luas, menjadi 10.000 hektar di 12 kecamatan terutama daerah sekitar hutan, biar tidak mengganggu areal sawah yang ditanami padi.

Sementara itu raksasa bibit lainnya yakni perusahaan bibit dari Swis Syngenta, melalui Syngenta Indonesia  meluncurkan produk terbaru, yakni NP Perkasa. Kamis (09/03/2017) bertempat di Syngenta Seed Station, di Papar, Kabupaten Kediri. Acara peluncuran tersebut menghadirkan 500 orang perwakilan petani dari wilayah Jawa Timur.

“NK Perkasa merupakan varietas benih yang tahan bulai dan juga menghasilkan produksi yang tinggi,” kata Parveen Kathuria, Presiden Direktur Syngenta Indonesia.

Dijelaskannya, penyakit bulai (perenosclerospora maydis) merupakan penyakit yang sangat dikhawatirkan oleh para petani jagung. Karena serangan itu dapat mengurangi hasil produksi secara signifikan. Di daerah Jawa sendiri, kehilangan hasil produksi jagung akibat penyakit bulai bisa mencapai angka 25-40 persen.

Setiap tahunnya, daerah yang mengalami serangan penyakit bulai semakin meningkat, terutama di daerah tanaman jagung di lahan sawah pada bulan April hingga Juni. Varietas benih jagung tahan bulai yang beredar di pasaran saat ini tingkat produktivitasnya rendah.

NK Perkasa merupakan varietas benih jagung baru dari Syngenta yang memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai dengan tingkat produktivitas tinggi serta dapat memberikan pertumbuhan tanaman jagung yang baik, terutama bagi para petani yang menanam jagung setelah musim padi.

NK Perkasa memiliki pertumbuhan awal yang seragam, sehingga pertumbuhan buah jagung dapat serentak. Varietas ini juga memiliki baris biji yang padat, yaitu 16 atau 18 baris sehingga memberikan rendemen dan hasil produksi yang tinggi. Di samping itu, NK Perkasa mempunyai potensi produksi tertinggi hingga 13,3 ton/ha, dengan rata-rata hasil 9,7 ton/ha.

Sementara Dupont tetap akan mengusung bibit merek pioneer yang selama ini sudah dikenal petani, sejak 1988. Selain itu pasar lokal selama bukan fokus utamanya, separuh produksinya untuk ekspor. Namun melihat kebutuhan lokal yang meningkat mau tidak mau, Dupont pastinya akan melirik pasal lokal. Untuk BISI sebagai produsen bibit terbesar masih anteng-anteng saja, mereka punya pelanggan setia.

Sungguh jagung berbuah simalakama,  ketika kekurangan pasokan jagung, devisa terkuras untuk impor. Namun ketika mau swasembada, petani belum memanen hasil, asing berebutan benih. []

9 KOMENTAR

  1. Halo selamat Malam,
    perkenalkan saya suratman, saya mau beli beni jagung pacific 339 dan 105 dimana saya bisa beli..?
    berate harga benihnya per kilo..?

    moon konfirmasinya.

    terima kasha
    salam
    Suratman 0123757563

  2. DI DAERAH KAMI SSULIT SEKALI MENDAPATKAN BENIH JAGUNG,,,,
    TRUTAMA BENIH NK DEKA MAUPUN PASIPIC….KLOK PUN DA HARGA NYA SANGAT MAHAL

  3. Untuk area yg ph tanahx cukup tinggi yg cocok bibit apa ya…. Sebab untuk mencapai hasil jagung per ha 7ton saja cukup sulit,mohon pencerahaanx….. Mksh

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here