Tabloid ‘Indonesia Barokah’, Dendam Politik Terhadap ‘Obor Rakyat’?

0
224

Nusantara.news, Jakarta – Media propaganda berupa tabloid kembali memanaskan kontestasi politik di Indonesia. Yang menarik, tabloid propaganda itu seolah bermetamorfosis beralih konten dan berganti kepentingan. Namun ujungnya sama: mendelegitimasi lawan politik di musim pemilihan umum.

Setelah tahun 2014 lalu kita dihebohkan dengan kehadiran tabloid Obor Rakyat, di Pilpres 2019 mendadak muncul saingannya, tabloid Indonesia Barokah. Serupa dengan Obor Rakyat, penyebaran tabloid Indonesia Barokah menyasar sejumlah pesantren dan masjid di pulau Jawa.

Dulu, Obor Rakyat jelas isinya membuat patah hati Jokowi beserta para pendukungnya karena diserang dengan isu Jokowi PKI, antek Cina, dan capres boneka. Salah satu judul Obor Rakyat yang mencolok yakni ‘1001 Topeng Pencitraan Jokowi’, dan ‘Jokowi Capres Boneka’. Tabloid propaganda menyerang Jokowi kala itu diproses hukum, setelah 2 tahun 4 bulan kasus berjalan, sejumlah pimpinannya masuk penjara. Pun begitu, mereka mengaku bukan bagian dari tim Prabowo.

Kini di Pilpres 2019, tabloid propaganda itu muncul lagi dengan nama Indonesia Barokah. Beda nama, beda pula isinya, sekarang giliran capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang kepanasan. Pasalnya, tabloid ini isinya dinilai sangat menjatuhkan harga diri pasangan nomor urut 02 ini. Tabloid Indonesia Barokah dikirim secara misterius melalui kantor pos. Tak jelas siapa di balik tabloid tersebut.

Dari sampul tabloid tertulis beberapa judul artikel, salah satunya ‘Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?’. Sementara di kolom Liputan Khusus juga ada berita berjudul ‘Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik?’ dengan karikatur Ratna Sarumpet, Fadli Zon, Sandiaga Uno, dan Prabowo Subianto. Sebagian artikel juga membahas tentang agama.

Tiga wilayah sentral yakni Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah menjadi area sasaran tersebarnya tabloid tersebut.  Bahkan, di wilayah Tasikmalaya, ditemukan sebanyak 3.482 eksemplar tabloid yang berterbaran di 27 wilayah kecamatan. Bawaslu Kabupaten Blora juga menemukan sebanyak 635 eksemplar tabloid Indonesia Barokah tersebar di 240 masjid se-Kabupaten Blora. Di luar itu, tersebar juga di sebagian daerah di Provinsi Yogyakarta (Sleman, Bantul, Kulon Progo), dan mungkin beberapa daerah lainnya.

Dilansir dari detik.com, Kepala Desa Lembu Purwo, Kecamatan Mirit, Bagus Wirawan yang juga dititipi paket serupa mengaku awalnya tidak tahu jika kiriman paket itu tabloid Indonesia Barokah. Menurutnya sebelum pihak desa menerima paket tersebut, beberapa bulan lalu ada surat edaran dari Kemenag Kebumen yang isinya meminta data seluruh masjid yang ada di desanya.

“Kami cuma menduga mungkin datanya dari Kemenag karena sekitar 3 bulan lalu ada surat edaran dari Kemenag yang meminta daftar seluruh masjid beserta takmirnya, tapi ini saya nggak nuduh lho cuma mungkin saja,” kata Bagus.

Dengan jumlah penyebaran yang amat banyak, tampaknya Indonesia Barokah diproduksi dengan matang dan sistematis. Sehingga wajar jika melihat kasus ini tidak hanya dalam kacamata pelanggaran Pemilu, tapi juga aspek-aspek politik yang meliputinya.

Sebagian kalangan menyebut, tabloid dengan tebal 16 halaman itu sarat dengan ujaran kebencian dan dapat memecah belah masyarakat. Beberapa pengurus masjid yang dikirimi tabloid tersebut melaporkannya ke Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) setempat, berbagai kalangan pun merasa resah.

Namun sebagian lainnya menyatakan sebaliknya, misalnya, di Blora, Jawa Tengah. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) setempat menyatakan bahwa Indonesia Barokah tidak bermuatan ujaran kebencian. Oleh karenanya, mereka tetap mengizinkan tabloid tersebut disebar –meski peredarannya akan dipantau.

Sedangkan pihak kepolisian menyerahkan persoalan tabloid Indonesia Barokah ke Dewan Pers. “Ini merupakan ramahnya Dewan Pers. Jadi Dewan Pers yang harus berdiri di depan dulu, yang melakukan assessment terhadap tabloid tersebut,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (23/1/2019).

Propaganda Jelang Pilpres

Propaganda lewat tulisan memang masih dipandang ampuh di tengah era sosial media yang menjangkau hampir seluruh masyarakat. Terlebih tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream, membuat publik akan mencari, menyalurkan, dan membuat sendiri segala informasi lewat sosial media: bahkan ujaran kebencian dan hoax sekalipun. Tak hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata seperti tabloid dan pamflet.

Dalam konteks Pilpres, maka bukan tidak mungkin bahwa kemunculan tabloid Indonesia Barokah ini adalah indikator bahwa propaganda melalui tabloid masih menjadi strategi ampuh untuk mempengaruhi keyakinan dan persepsi publik terhadap kandidat agar yang bersangkutan dipilih atau tidak dipilih oleh masyarakat. Terlebih tidak semua masyarakat kini melek terhadap sosial media digital, sehingga media cetak masih mampu berperan sebagai media yang terjangkau, utamanya masyarakat di wilayah pedesaan.

Isi Tabloid Indonesia Barokah, Bahas Kemarahan Prabowo hingga Obor Rakyat Disebut Fitnah Jokowi

Hal yang menarik dari kemunculan tabloid Indonesia Barokah ini terbit di tiga wilayah paling sentral dalam pemilu 2019 ini, yakni Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah. Jawa Barat dan Jawa Tengah bahkan adalah dua provinsi dengan basis pemilih terbesar yang pantas menjadi rebutan bagi siapapun yang akan bertarung pada bulan April nanti. Sementara Banten, basis suara Prabowo di Pilpres 2014 lalu.

Lebih-lebih, mendekati 2 bulan menjelang hari pencoblosan, kubu Prabowo-Sandi tengah gencar memaksimalkan raihan suara di provinsi Jawa Tengah. Sementara itu, Jawa Barat juga menjadi basis kemenangan sang jenderal pada pemilu 2014. Maka hal yang wajar jika lawan politik Prabowo-Sandi akan memaksimalkan pertarungan dua wilayah ini melalui penyebaran media propaganda layaknya tabloid Indonesia Barokah.

Dari segi motif dibalik terbitnya Indonesia Barokah ini, sepintas balas dendam politik menjadi istilah yang sepertinya sementara ini mampu menggambarkan kemunculan tabloid hantu ini. Sebagai senjata politik balas dendam, Indonesia Barokah menampilkan format berita yang juga memojokkan salah satu kandidat paslon. Secara khusus, pasangan Prabowo-Sandiaga akan dirugikan dengan kemunculan kampanye menyerang seperti ini tentang mereka

Lalu, apakah tepat menyebut tabloid Indonesia Barokah sebagai bentuk black campaign? Ataukah memang kemunculan tabloid ini merupakan teknik propaganda yang lebih halus dibanding Obor Rakyat?

Jika melihat tanggapan Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blora, Jateng, yang menyatakan tidak akan membatasi peredaran tabloid tersebut dan hanya akan memantau peredarannya, tentu justru akan semakin membuka lebar celah kritik dalam hal ini dari oposisi. Pihak Bawaslu juga menyebut bahwa tabloid Indonesia Barokah tidak mengandung unsur pidana Pemilu.

Demikian juga polisi yang menyerahkan persoalan Indonesia Barokah ke dewan pers, apalagi jika tak menangkap ‘dalangnya’ sebagaimana yang dilakukan kepada pemimpin Obor Rakyat, tentu saja tudingan sebagian pihak bahwa polisi berpihak pada salah satu capres sulit dihindari.

Dalam konteks ini, memang terlalu terburu-buru jika menjustifikasi kemunculan tabloid ini didalangi oleh lawan politik Prabowo-Sandi, namun secara sekilas terlihat bahwa peredaran tabloid itu merugikan mereka dan menguntungkan kompetitor mereka. Kasus ini sejatinya cukup pelik dan rentan mengingat masih misteriusnya arsitek di balik nya. Terlepas dalang di balik kegaduhan ini, baik pihak petahana maupun oposisi sesungguhnya telah mengalami kerugian politik yang cukup besar.

Di tengah semakin meningkatnya apatisme politik dan wacana golput, drama seperti ini justru akan semakin membuat pemilih jenuh dan jengkel dengan konstelasi politik yang ada. Utamanya bagi citra petahana, jika tuduhan BPN atas peredaran tabloid Indonesia Barokah ini mengarah pada kubu petahana, tentunya akan semakin mempertaruhkan citra pemerintah yang akhir-akhir ini memburuk.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here