Tabuik, Ritual Mengenang Asyura Ala Kota Pariaman Sumbar

4
939
Tabuik, ritual khas pantai barat Sumatera yang mirip Ogoh-ogoh di Bali, diselenggarakan setiap 10 Muharam

Nusantara.news – Setiap daerah memiliki tradisi sendiri dalam mengenang peristiwa terbunuhnya cucu Nabi Muhammad di Padang Karbala atau lebih dikenal dengan istilah hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam.

Begitu juga di pesisir pantai barat Sumatera, sejak Sumatera Barat hingga Bengkulu, memiliki tradisi Tabot, berasal dari Bahasa Arab yang berarti mengarak. Di Kota Pariaman tradisi itu terus dilestarikan dengan nama Tabuik.

Mengutip Wikipedia yang data-datanya memang tidak lengkap, Tabuik masuk Sumatera Barat setelah dikenalkan prajurit muslim Tamil asal India yang dibawa oleh Inggris saat mengambil alih Hindia Belanda. Pasukan Tamil itu kemudian menetap di pesisir barat ranah Minang.

Hasil gambar untuk tabuik merupakan upacara adat di

Dua Tabuik dioyak-oyak dulu sebelum diarak ke pantai

Tabuik sendiri adalah upacara yang menggambarkan arak-arakan jenasah Husin, cucu Nabi Muhammad SAW, dari anak perempuan Nabi yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib yang terbunuh pada pertempuran di Padang Karbala. Tradisi ini sebenarnya umum dilakukan di daerah-daerah penganut Syiah.

Namun, Kota Pariaman yang sebagian besar penduduknya penganut Suni tetap melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk ekspresi duka dan tanda penghormatan warga Pariaman kepada cucu Nabi Muhammad SAW yang dibunuh secara keji.

Gambar terkait

Sekali-kali arak-arakan berhenti diselingi atraksi pencaksilat

Bakal hadirnya perayaan Tabuik sudah terasa dua minggu sebelum acara dilaksanakan. Kala itu warga Kota Pariaman sudah melakukan berbagai persiapan, seperti membuat aneka makanan dan kue-kue. Ada pula warga yang menjalankan puasa sunah.

Pas hari yang ditunggu-tunggu, sejak pukul 06.00 pagi seluruh peserta Tabuik dan kelengkapan acara sudah bersiap di alun-alun kota. Para pejabat pemerintahan pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.

Tabuik bukan sekedar nama ritual, melainkan juga nama benda yang menjadi komponen paling penting dalam upacara ini. Tabuik mirip Ogoh-ogoh di Bali. Dia juga diarak menuju pantai dan dilarungkan sesampainya di sana.

Bedanya, Tabuik yang berkerangka bambu dan kayu yang berbadan kuda, berkepala manusia, tegap dan bersayap, atau di lingkungan Muslim lebih dikenal sebagai Buroq, binatang yang menerbangkan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke langit tujuh.

Hasil gambar untuk tabuik merupakan upacara adat di

Tabuik diarak melintas jalan protokol menuju pantai

Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya. Dari jauh penampakan Tabuik jauh lebih ngejreng ketimbang Ogoh-ogoh.

Satu Tabuik dipikul oleh 40 orang. Diikuti oleh puluhan orang lainnya yang berbusana adat dengan membawa rupa-rupa gendang dan tetabuhan. Sesekali arak-arakan berhenti. Puluhan orang memainkan atraksi pencaksilat khas Minang diiringi oleh tetabuhan. Adegan itu menggambarkan pertempuran di Padang Karbala.

Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan dilarung ke laut. Berdasarkan kepercayaan setempat, pelarungan itu dimaksudkan untuk membuang sial. Ada pula yang menyebut, sudah saatnya Buraq terbang ke langit dengan membawa segala sejis arak-arakannya.

Hasil gambar untuk tabuik merupakan upacara adat di

Tabuik pun akhirnya dilarung ke laut

Memang, tradisi Tabuik yang sekarang sudah bergeser dengan sepuluh tahun sebelumnya. Kala itu Tabuik dibuat oleh dua kelompok warga dari kubu yang berbeda dan kemudian diadu satu sama lain. Dalam prosesnya, tak jarang diikuti pula dengan baku hantam para warga dari kedua kubu yang tersulut api amarahnya.

Kini, unsur kekerasan itu telah dihilangkan. Upacara ini lebih diarahkan kepada sebuah atraksi budaya yang menarik dan dapat dikonsumsi oleh para wisatawan. Selain menyaksikan prosesi upacara Tabuik, para wisatawan dapat berkeliling di pasar tradisional dan bazaar yang digelar seiring dengan perayaan ini.

Nikmati juga salaluk dan rakik maco, makanan khas Pariaman yang banyak dijajakan di pinggir pantai. Sayangnya, sampai kini, pelaksanaan upacara Tabuik belum digarap secara maksimal. Masih ada sejumlah kendala yang muncul, terutama dalam hal pendanaan.

Bahkan ada kalanya acara nyaris gagal karena terkendala oleh sumber pendanaan. Bahkan Pemkot sempat mengumumkan pembatalan acara itu. Namun berkat gotong-royong warga Minang yang hendak melestarikan acara itu, tradisi tahunan itu dapat diselamatkan.[]

4 KOMENTAR

  1. Inilah kekayaan rohaniah. Tidak bisa dilihat sekadar dng kacamata jasmaniah. Namun, bagaimana kita memandang momen itu sebagai bentuk olah rohani utk membangun sikap kebatinan yg lurus hanya kepada yg mahakuasa!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here