Tahniah untuk Mahathir

0
166

TERPILIHNYA Tun Datuk Seri Dr. Mahathir bin Mohamad menjadi Perdana Menteri Malaysia kembali memberikan catatan tentang banyak hal. Dia adalah orang pertama yang bisa mengantarkan oposisi memenangkan pemilu di Malaysia. Dia juga akan dicatat sebagai perdana menteri tertua di dunia, karena dilantik di usia 93 tahun kurang dua bulan. Dr. M, demikian sapaan khas Mahathir, akan jadi orang pertama pula yang bermukim untuk kedua kalinya di Seri Perdana, kediaman resmi perdana menteri Malaysia di Putrajaya. Mahathir juga dulu perdana menteri pertama yang menghuni rumah yang selesai dibangun tahun 1999 itu.

Kembalinya Dr. M ke puncak kekuasaan pemerintahan Malaysia disambut dengan harapan yang tinggi oleh masyarakat negeri jiran tersebut untuk kembali berjaya. Rakyat Malaysia, begitupun dunia, tengah menanti apakah dokter yang sudah amat sepuh ini masih mempunyai resep dan tangan dingin untuk membuat negaranya berjaya. Sebab di masa pemerintahannya dulu, 16 Juli 1981 sampai 31 Oktober 2003, Malaysia melambung menjadi salah satu negara maju di Asia.

Untuk ukuran masa itu, dia adalah negarawan paling berhasil di Asia. Pendapatan per kapita Malaysia  mencapai US$3.500. Anggaran pendidikan Malaysia bahkan tertinggi di Asia Tenggara, yakni 5,2 persen dari GNP. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 1,4 persen dari GNP. Fondasi ekonomi nasionalnya mantap. Buktinya, ketika mereka diterpa krisis, dalam tempo singkat berhasil bangkit. Sementara Indonesia masih terpuruk.

Memang tak terlalu adil membandingkan segala-galanya dengan Indonesia. Alasan yang paling sering jadi perlindungan para penyelenggara negara di Indonesia adalah penduduk dan wilayah Indonesia sangat besar, sementara Malaysia cuma segelintir. Sekilas alasan itu benar adanya. Tetapi, itu tidak bisa menjustifikasi kegagalan pemerintahan di Indonesia.

Pendeknya dalam segala segi, Malaysia sudah terbang ke langit tinggi. Dan itu semua tak bisa dipungkiri adalah berkat kepemimpinan Dr. M.

Mahathir memimpin Malaysia dengan karakter kuat. Sebagai pemimpin sebuah negara berkembang, kesan tangan besinya kadang-kadang juga kelihatan. Pers tidak terlalu bebas di sana, apalagi kalau memakai ukuran Barat yang liberal. Kehidupan demokrasi juga pas-pasan, hampir setali tiga uang dengan Orde Baru. Oposisi disikat sejak masih dari benih. Apa pun di luar skenario Mahathir tidak akan jalan di Malaysia.

Hal itu secara signifikan juga disebabkan pilihan keberpihakan yang juga berbeda. Dia melindungi puak Melayu dengan berbagai undang-undang. Meski etnis Cina sangat berkuasa juga, namun ada wilayah bisnis tertentu yang tak mungkin mereka tembus. Itu bedanya dengan Indonesia.

Di dunia internasional, Mahathir juga memperlihatkan taringnya. Dia sangat bebas mengkritik lembaga internasional atau negara besar manapun yang dianggapnya keliru. Kritik Mahathir sangat tajam dan terbuka. Beberapa kalangan menjulukinya dengan sebutan “Little Soekarno”, mengingat Soekarno juga dulu sangat frontal dengan Barat –tetapi dia selalu merendah agar tidak disejajarkan dengan Bung Karno. “Saya hanya Little Mahathir,” katanya.

Satu kelebihan yang tidak dimiliki pemimpin lain, dia tahu kapan berkata “sudah”. Di masa jaya pemerintahannya, dia  memaklumkan pengunduran dirinya pada 31 Oktober 2003. “Saya rasa sudah cukup. Sekarang giliran orang lain. Sudah 22 tahun. Ini cukup bagi saya,” kata Mahathir.

Dia berhenti tepat pada saat Malaysia telah sukses melewati krisis ekonomi yang menimpa kawasan ini. Dia mengantarkan Malaysia selamat melewati pendakian itu. Dipercaya sampai akhir, itulah bukti sukses pemimpin. Dan Mahathir telah membuktikan itu. Teladan itu terlalu berharga untuk diabaikan.

Kini dia kembali turun ke gelanggang. Melihat usianya, dan sejarah sukses kepemimpinannya  yang pasti akan selalu dicatat dengan tinta emas, rasanya kecil kemungkinan jika Mahathir come back karena ambisi kekuasaan yang tak kunjung padam. Buktinya dia menjanjikan hanya akan memimpin selama dua tahun, dan nanti akan menyerahkan jabatannya kepada Anwar Ibrahim.

Kembalinya Mahathir lebih  karena dia melihat ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan negara. Masalah itu tak berhasil diatasi, atau justru ditimbulkan, oleh murid-muridnya yang menggantikannya di posisi perdana menteri, Abdullah Ahmad Badawi dan Najib Razak. Dari sisi ini, kita bisa membacanya sebagai bentuk tanggungjawab seorang negarawan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here