Tahun 2018, Ratusan Perguruan Tinggi Terancam Ditutup

0
425
Ilustrasi Perguruan Tinggi (Sumber: Elshinta)

Nusantara.news, Kota Malang – Di tahun 2018 mendatang, diprediksikan ada ratusan Perguruan Tinggi (PT) yang terancam ditutup. Penutupan itu disebabkan oleh himbauan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) untuk melakukan merger antar perguruan tinggi.

Sasaran merger adalah perguruan-perguruan tinggi swasta yang gagal memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menristekdikti. Selain itu merger juga dilakukan agar tidak terlalu banyak perguruan tinggi karena manajemennya sulit dan biaya yang dibutuhkan sangat besar.

Menristekdikti M Nasir mengatakan ada 4.529 perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan jumlah perguruan tinggi di Cina.

“Lebih baik perguruan tinggi yang kecil-kecil nantinya dapat dimerger, Kalau yang tidak bermutu atau bermasalah, lebih baik ditutup,” kata Nasir di Universitas Islam Malang (Unsima) beberapa waktu lalu.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan tinggi, serta terjaminnyapendidikan di perguruan tinggi yang jelas dengan akreditasi yang baik.

Nasir menyebut jumlah penduduk Indonesia hanya 1/6 dibandingkan Cina, rasionya berbeda dengan Cina yang memiliki jumlah penduduk banyak dan universitasya lebih sedikit. “Namun, meski sediki nantinya perguruan tinggi Indonesia harus berkualitas, jangan kalah seperti Cina.” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa sudah ada beberapa perguruan tinggi yang resmi merger. Termasuk empat sampai lima perguruan tinggi di Jawa Timur (Jatim). “Syarat merger adalah satu yayasan, atau adanya kesepakatan bila antar yayasan. Kami nanti yang akan memfasilitasi,” terangnya.

Sejauh ini, beberapa perguruan tinggu yang merger tersebut, tejai di beberapa titik di Jawa Timur, yakni beberapa perguruan tinggi di Probolinggo, Madiun, dan Pasuruan.

Aktivis Pendidikan, Abdurrahman Narstu merespon terkait rencana Menristekdikti atas himbauan melakukan merger perguruan tinggi. “Kirannya bukan di merger, namun perlu dimaksimalkan tingkat kualitasnya. Bukan malah justru dikurangi jumlah perguruan tinggi,” jelasnya.

“Pendidikan di Indonesia saja belum merata, kok malah dikurangi,” ia menekankan untuk melakukan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Selain itu, pihaknya juga menekankan tanggung jawab pendidikan yang besar ada pada negara. “Jangan sampai pendidikan dijadikan komoditas, barang dagangan dengan menjual kualitas, prestasi dan label internasional dengan biaya selangit yang sukar dicapai masyarakat menengah kebawah,” tandas anggota Komite Pendidikan Universitas Brawijaya tersebut.

Ia lebih konsen untuk Menristekdikti membenahi permasalahan privatisasi pendidikan, perdagangan pendidikan dan kapitalisasi pendidikan. Sehingga menimbulkan jurang diantara masyarakat. “Hanya masyarakat yang berduit saja nantinya akan mengenyam pendidikan, sementara yang lain tidak ini yang harus disoroti,” sindirnya.

Mengutip kata-kata dari Tan Malaka terkait pendidikan ia berpesan, Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali

Jangan jadikan pendidikan menjadi jarak dan jurang untuk kita berkheidupan dan bermasyarakat. karena sejatinya tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here