Tahun 2025 Tuban Swasembada BBM, Indonesia tak Lagi Impor Minyak

0
127
Presiden Joko Widodo saat meninjau pengoperasian kilang minyak TPPI di Tuban, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Nusantara.news, Tuban – Ada enam proyek kilang minyak yang diperkirakan proyeknya selesai tahun 2025. Dengan selesainya proyek pembangunan kilang tersebut, tentu kebutuhan Indonesia akan pasokan minyak mentah akan terpenuhi sebanyak 1,5 juta barel per hari (bph).

Keenam kilang tersebut di antaranya, proyek penambahan kapasitas kilang (refinery development master program/RDMP) Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, yang pembangunannya melalui dua tahap. Tahap pertama, kajian pendefinisian proyek (Front End Engineering Design/FEED) sudah selesai dan dalam proses kajian internal. Proyek RDMP kilang Balikpapan tahap 1 akan selesai 2020, sebelumnya ditargetkan selesai 2019. Sementara tahap dua proyek RDMP Balikpapan Ditargetkan selesai 2021, sebelumnya Ditargetkan 2020.

Kedua, ada proyek RDMP Kilang Cilacap di Jawa Tengah. RDMP Cilacap ditargetkan rampung 2024, sementara sebelumnya ditargetkan selesai 2021. Proyek Kilang Cilacap masih dalam proses penyertaan aset ke dalam perusahaan patungan yang dibentuk Pertamina dan Saudi Aramco.

Ketiga, RDMP Kilang Balongan di Jawa Barat, masih tahap studi internal. Proyek kilang ini diharapkan bisa selesai bersamaan dengan Kilang Balikpapan dengan pertimbangan pasokan. Proyek ini ditargetkan selesai 2021, sebelumnya target awal penyelesaian kilang ini ditetapkan pada 2020.

Keempat, Kilang Bontang di Kalimantan Timur. Pertamina saat ini masih merampungkan perusahaan yang akan menjadi calon mitranya. Proyek ini ditargetkan selesai 2025.

Kelima, proyek RDMP Dumai di Riau. Saat ini prosesnya belum dimulai oleh Pertamina. Namun dari catatan Perusahaan tersebut, RDMP Dumai ditargetkan bisa beroperasi pada 2025.

Dan terakhir, Kilang Tuban di Jawa Timur. saat ini Pertamina dan Rosneft tengah merampungkan proses pembuatan perusahaan patungan (Joint Venture Company). Perusahaan patungan yang bernama Pertamina Rosneft Processing & Petrokimia ini akan menjalankan proses pembangunan kilang Tuban. Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2024. Target 2021.

Seperti diketahui, saat ini konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional sebesar 1,6 juta bph. Sementara kemampuan produksi minyak nasional di kisaran 800.000 bph. Di sisi lain kapasitas kilang dalam negeri belum menyentuh angka 1 juta bph.

Namun demikian, dengan proyeksi kapasitas kilang menjadi 2 juta bph di 2025 yang didapat dari empat proyek penambahan kapasitas kilang yakni Cilacap, Balikpapan, Balongan, Dumai dan dua kilang baru yaitu Bontang dan Tuban, maka pemerintah tak perlu melakukan impor BBM lagi. Pasalnya kemampuan ladang minyak nasional dapat disuplai dari kilang.

Belum lama, ini Direktur Utama PT Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, Indonesia tidak akan impor minyak lagi karena pasokan minyak mentah sudah menyentuh 1,5 bph pada 2025, namun dengan asumsi enam proyek kilang telah rampung dikerjakan.

“Pada 2025 itu diprediksi kita kalau refinery-nya sudah cukup, kita butuh crude itu 1,5 juta bph,” ujarnya.

Memperkuat Produk Minyak Wilayah Asia Pasifik

Khusus kilang minyak baru di Tuban, pembangunan ini tentu menjadi mega proyek strategis bagi bangsa dan masyarakat Indonesia dalam mewujudkan swasembada bahan bakar minyak.

Rosneft dan Pertamina telah menandatangani kerangka perjanjian kerja sama pada akhir Mei lalu yang menggambarkan pembangunan kilang minyak Tuban, serta pembentukan joint venture untuk menerapkan proyek tersebut.

Kilang minyak Tuban akan dibangun dengan kapasitas 15 juta ton per tahun. Kompleks tersebut akan mengolah minyak mentah impor kelas menengah dan berat. Proyek ini menyediakan konstruksi pengurai katalis bahan bakar minyak untuk jumlah besar dan kompleks petrokimia.

Kompleks tersebut diharapkan dapat mengakomodasi supertank VLCC dengan bobot lebih dari 300 ribu ton, terang perusahaan Rosneft seperti dilaporkan media Rusia TASS.

Kesepakatan joint venture ini menandai fase baru dalam penerapan proyek pembangunan kilang minyak modern dan kompleks petrokimia di Indonesia. Proyek ini merupakan elemen penting dalam strategi Rosneft hendak memperkuat kehadirannya di pasar produk minyak wilayah Asia Pasifik,” terang Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia Wiratmaja Puja.

Rosneft dan Pertamina sepakat menggunakan lahan milik Perhutani untuk proyek pembangunan kilang minyak Tuban yang berada di pinggir Pantai Utara, wilayah Wadug dan Mentoso, Kabupaten Tuban.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAplas) Fajar Budiono menyatakan, pembangunan kilang oleh PT Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia tersebut merupakan usaha untuk mengintegrasi rantai bisnis gas dari hulu ke hilir.
“Karena kalau tidak terintegrasi, nilai tambahnya akan jadi tidak menarik,” ujar Fajar.

Kata Fajar, tentu kerjasama ini sebagaui upaya dari pemerintah agar tidak lagi impor bahan bakar minyak di 2025. Sehingga boleh dibilang pembangunan kilang ini bersifat penting, mengingat banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi.

“Selain Pertamina, kan ada juga Lotte dan Chandra Asri yang sedang membangun kilang minyak. Tapi apakah over supply? Tidak. Malah masih kurang,” lanjut Fajar.

Saat ini, Pertamina dan Rosneft telah mengucurkan modal awal untuk pembuatan kilang minyak di Tuban sebesar 400 juta dolar Amerika Serikat (setara Rp5,2 triliun). Dengan masing-masing menyetorkan deposit sebesar 200 juta dollar Amerika Serikat sebagai milestone penting untuk NGRR (national grass root refinery) Tuban.

Seperti diketahui, nilai investasi perusahaan minyak asal Rusia Rosneft untuk membangun kilang minyak di Tuban senilai US$13 miliar (setara Rp 175 triliun). Namun berdasarkan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), nilai investasi pembangunan kilang minyak Tuban akan menghabiskan dana US$15 miliar (setara Rp 199,3 triliun).

Joint venture kilang minyak Tuban antara Pertamina dan Rosneft.

Selain bekerja sama untuk dapat membangun kilang minyak di Tuban, Rosneft membuka kesempatan bagi Pertamina agar bisa menambang minyak di Rusia untuk kemudian dibawa ke Indonesia sebagai cadangan minyak nasional. Potensi ladang minyak di Rusia itu ditargetkan 200 juta barel.

Di negaranya, Rosneft dikenal sebagai perusahaan multinasional terbesar yang dimiliki oleh pemerintah Rusia dan menghasilkan berbagai macam produk perminyakan.

Untuk proses pembangunan kilang minyak di Tuban, diperkirakan akan menghabiskan biaya lebih kurang sebesar 14 miliar dolar Amerika Serikat. Adapun pembagian sahamnya adalah 55 persen untuk Pertamina dan maksimal 45 persen untuk Rosneft.

Menurut rencana, kilang minyak tersebut akan mengolah minyak mentah hingga 300 ribu barel per hari dengan kompleksitas di atas 9 NCI (Nelson Complexity Index) dan karakteristik produk level Euro 5.

Bupati Tuban H Fathul Huda optimis swasembada bahan bakar bisa terwujud, jika kilang minyak Tuban mulai beroperasi. Apalagi pemerintah telah menetapkan Tuban sebagai kawasan pembangunan kilang minyak nasional baru. Kilang ini menempati lahan 6 desa, yaitu Desa Rawasan, Mentoso, Wadung, Remen, Kaliuntu, dan Beji Kecamatan Jenu.

Menurut bupati, kerjasama mega proyek antara PT Pertamina dengan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft Oil Company, bertujuan untuk mewujudkan target swasembada bahan bakar minyak.

Bupati Tuban menambahkan, saat pembangunan kilang minyak, dampak ekonomi yang dirasakan adalah terbukanya peluang kerja. Ia meminta masyarakat di sekitar lokasi pembangunan kilang minyak harus menjadi prioritas PT Pertamina (Persero) dalam penyerapan tenaga kerja. “Untuk menekan angka pengangguran di Kabupaten Tuban,” kata Fathul.

Diperkirakan efek ganda juga akan dirasakan oleh masyarakat adalah terbukanya peluang usaha bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan para tenaga kerja.

Ya, diperkirakan pembangunan kilang minyak Tuban akan melibatkan sekitar 50 ribu tenaga kerja, yang rencananya akan diserap dari wilayah setempat.

Selain itu di bidang pendidikan, Bupati Tuban berharap keberadaan kilang minyak baru dapat memberi manfaat bagi masyarakat. “Sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, PT Pertamina dapat memberikan bea siswa dan pelatihan bagi para pelajar di Tuban,” tuturnya.

Pertamina Diuntungkan, Produk Kilang Tuban Bisa Diekspor

Dalam kerjasama joint venture antara Pertamina dan Rosneft, pihak Indonesia sangat diuntungkan. Pasalnya, Pertamina tidak jadi pembeli tunggal produk kilang Tuban. Hal itu juga berlaku di kilang Cilacap yang juga bermitra dengan Saudi Aramco.

Status kemajuan RDMP Cilacap

Sehingga Pertamina tidak perlu mengubah sistem akuntansi keuangannya untuk mengatasi problem pembangunan kilang minyak. Padahal Presiden Joko Widodo pernah meminta perusahaan plat merah itu mengganti standar akuntansinya agar proyek bisa berjalan cepat, yakni yakni Interpretasi Standar Akunthansi Keuangan No 8. (ISAK 8).

Tujuan perubahan sistem akuntansi itu agar Pertamina tidak terbebani seluruh utang dari mitranya. Dengan standar akuntansi yang diterapkan saat ini, BUMN energi ini harus mencatatkan seluruh utang mitranya karena kewajiban membeli seluruh minyak hasil olahan kilang. Selain mengubah skema kewajiban penyerapan produk kilang, Pertamina juga mengubah jadwal pembangunan kilang untuk meringankan keuangan perusahaan. Namun kini, Pertamina tidak perlu gusar lagi.

Sebab, kedua mitra Pertamina tersebut terlah sepakat untuk menyerap hasil produk kilang. Maklum, sebelumnya Pertamina pernah menyampaikan tidak bisa menyerap seluruh minyak dari kilang itu dengan alasan pembukuan keuangan. Jika Pertamina menyerap 100% hasil serapan produk kilang, maka beban utang Rosneft dan Saudi Aramco sebagai mitra akan tercatat juga. Hal tersebut dinilai akan mengganggu arus kas perusahaan.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan, perusahaannya sudah mengambil langkah mengurangi kewajibannya membeli produk hasil kilang untuk mengatasi problem kilang. Jadi, nantinya Pertamina tidak lagi menyerap 100% hasil kilang, tapi berbagi dengan mitranya. Artinya, apabila kebutuhan dalam negeri sudah berlebih, produk kilang itu bisa diekspor. “Mitra-mitra kami ini fair, jika kekurangan ya tidak apa-apa offtaker,” kata Arief.

Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Chief Executive Officer (CEO) Rosneft, Igor Sechin, di Sochi, Rusia guna membahas pembangunan kilang minyak di Tuban.

Terkait produk kilang yang akan diekspor, hal tersebut diserahkan oleh kebijakan masing-masing perusahaan. Adapun hasil produk kilang Cilacap dan Tuban yang akan diserap nantinya disesuaikan dengan kebutuhan Pertamina. Hal ini akan memberikan kepastian terkait beban keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi tersebut.

Secara makro, untuk mewujudkan target pemerintah yaitu Swasembada Bahan Bakar Minyak, maka kilang minyak Tuban bisa menjadi solusi. Apalagi kilang minyak yang digarap Rusia itu, diprediksi bakal menjadi kilang termodern di dunia. Tidak hanya modern, namun juga menjadi kilang terbesar se-Asia dengan tolak ukurnya adalah adalah NCI yang mengindikasikan tingkat efektifitas dari kilang itu untuk memproduksi minyak.

Jika kilang Pertamina sekarang ini NCI-nya 4,6, Kilang Singapura NCI-nya 6,4, maka di Tuban NCI-nya bisa 9,4 dan sekarang yang tertinggi di dunia NCI-nya 7,2. Artinya pada saat ini NCI-nya mencapai di atas 9 pada year covertion setara 92 persen. Sehingga bisa dibilang 100 persen bahan baku. Angka 92 persen tersebut diconvert menjadi available product atau produk yang tersedia.

Yang jelas Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban saat ini memiliki semangat dan komitmen tambahan yaitu bagaimana bersama rakyat membangun budaya dalam menjaga investasi nasional dan internasional yang masuk ke Tuban. Dan yang paling penting untuk disadari, Tuban sudah mencanangkan diri sebagai kota bertaraf internasional dengan adanya kilang minyak tersebut. Untuk melaksanakan cita-cita dari pemerintah pusat melalui nawacita Presiden Joko Widodo, Tuban siap menjadi berdaulat dan mandiri energi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here