Jakarta - Beijing (2)

Taipan China’s Overseas

0
443
Ilustrasi

Nusantara.news – Pada tahun 1996, satu tahun sebelum krisis finansial di Asia akibat currency war yang dimotori George Soros, majalah Forbes memasukkan 8 pengusaha dari 25 orang terkaya di dunia dan 13 orang dari 50 terkaya di dunia berasal dari Asia.

Pada daftar 50 orang terkaya di dunia menempatkan nama Liem Sioe Liong (orang terkaya Indonesia), selain nama-nama Li Ka-shing (Cina/Hongkong), Robert Kuok (Malaysia), Dhanin Chearavanont (Thailand), Tan Yu (Filipina), Lee Shau-kee (Hongkong), dan Kwek Leng Seng (Singapura) dengan kekayaan masing-masing di atas USD 4 miliar atau setara di atas Rp 500 triliun (USD 1 = Rp 13.300).

Sebelum krisis 1997, Liem Sioe Liong masih memiliki BCA dan Indocement, karena berutang BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) untuk BCA sebesar Rp 53 triliun (terbesar), beberapa aset utama berkurang, saat ini putranya, Anthony Salim berada di ranking ke-5 orang terkaya di Indonesia.

Konsesi Ekonomi pada Taipan

Taipan China’s Overseas khususnya di Asia Tenggara memperoleh konsesi monopolistik dan oligopolistik seperti Om Liem untuk tepung terigu (Bogasari mills) dan semen yang oligopoli (Indocement). Dalam waktu singkat, dia mampu menumpuk kekayaan dan menciptakan konglomerasi usaha. Banyak para taipan Asia yang terhubung secara non-struktural dengan triad (mafia Cina)—secara struktural tidak terbukti—seperti halnya tahun 1990-an nama Tomy Winata dan Sugianto Kusuma (Aguan) yang dikenal dengan istilah 9 Naga. Secara hukum tentu tidak akan ada kaitannya, tapi menjadi isu geo-ekonomi di Asia Tenggara.

Secara bisnis, saham etnis Cina di pasar-pasar saham ASEAN sekitar 50% – 75%, padahal populasi etnis Cina minoritas, misalnya: di Filipina hanya 2%, di Indonesia 5%, di Thailand 10%, Malaysia 29%, dan di Singapura 77%. Para taipan China’s Overseas menguasai bisnis di ASEAN.

Hubungan China’s Overseas dimulai dengan inisiatif Lee Kuan Yew dan Li Ka-shing untuk mempertemukan para taipan Asia di Singapura pada tahun 1991, kemudia berlanjut di Hongkong tahun 1993, sehingga menjadi jaringan bisnis yang sangat kuat. Hal ini didukung oleh pemerintah Cina sehingga jaringan China’s Overseas menjadi bagian dari ekspansi Cina di Asia dan Afrika yang disebut “Jaringan Bambu”.

Pada awal migrasi Cina ke negara-negara Asia Tenggara, ruang geraknya fokus pada bisnis dan perdagangan. Profesi di luar itu nyaris sulit diperoleh, apalagi sebagai pimpinan politik. Gelar ‘Yahudi Kuning’ melekat, karena dominasi taipan di bidang ekonomi dan bisnis di ASEAN.

Migrasi besar-besaran dari rakyat Cina 1949 menyebar di Asia. Sejak awal, taipan China’s Overseas memang akan setengah hati membantu pengusaha pribumi, ini ciri awal baik di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Taipan melahirkan bisnis terdiversifikasi dan sangat oportunistik

Kecepatan keberhasilan taipan lebih kepada dukungan pemerintah (KKN/Korupsi Kolusi Nepotisme), bukan pada spesialisasi kompetitif. Besarnya bisnis Liem Sioe Liong, Bob Hasan lebih karena konsesi yang diberikan oleh Soeharto. Nusamba (Bob Hasan) atau konsesi hutan dan bisnis meubel sebagai ‘Bapak Angkat’ dari pengrajin bersifat captive, begitu juga Barito Pacific bekerja sama dengan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto) mendapat konsesi di Sumatera Selatan seluas 1 juta hektare.

Harus diakui bahwa taipan Cina memang pedagang efektif dalam lingkungan yang kondusif memberi celah melalui KKN. Namun setelah globalisasi, terkesan sebagian dari mereka adalah ‘jago kandang’.

Estimasi Kepemilikan Saham Taipan di Bursa masing-masing Negara ASEAN

Pada zaman Belanda, Oei Tiong Ham adalah orang terkaya di Indonesia di luar VOC, dia adalah raja gula di Jawa (tahun 1880-an). Dia bergaul akrab dengan penguasa Belanda, sempat punya bank di Semarang, bisnis perkapalan sampai opium. Dia meninggal di Singapura pada tahun 1924, setelah merelokasi bisnisnya ke Singapura.

Jadi, jika saat ini taipan Indonesia transit dan merelokasi pusat bisnis ke Singapura (penerima BLBI) atau yang menempatkan uang tunai di Singapura untuk menghindari pajak, dan hanya menempatkan uang di perusahaan Indonesia sebatas kebutuhan cashflow bulanan, hal ini sudah dirintis oleh Oei Tiong Ham dengan jiwa oportunistiknya.

Taipan berhulu dari Singapura dan Hongkong

Singapura dan Hongkong adalah negara kota pelabuhan yang berbasis jasa. Dengan skema bebas tarif, sehingga menjadi tempat para taipan memarkir uang (dengan tidak mempertanyakan dari mana uang tersebut berasal). Prinsipnya, mereka mengarbitrase inefisiensi ekonomi, dengan menjalankan jasa-jasa lebih baik daripada negara sekitarnya.

Keberhasilan Lee Kuan Yew, salah satunya melakukan negosiasi awal tahun 1970-an agar Indonesia menutup pelabuhan bebas Sabang di ujung paling barat Indonesia di lokasi strategis Selat Malaka. Jika Sabang diteruskan sebagai pelabuhan bebas, tentu Singapura sebagai pelabuhan bebas menjadi tidak strategis.

Singapura membuat proposal akan berbagi dengan Batam, faktanya puluhan tahun justru dijadikan “tempat sampah” bagi Singapura.

Singapura dan Hongkong secara historis adalah tempat para taipan Cina menyimpan modal sejak tahun 1970-an. Tidak jarang juga sebagai tempat penyelundupan dan distribusi narkoba. Kerahasiaan perbankan menjadi modal dasar bagi Singapura dan Hongkong menjadi salah satu penyimpan uang, dan karena itu sulit dilacak. Namun dengan konvensi Keterbukaan Perbankan yang harus diratifikasi bulan Juni 2017 ini, tentu kedua negara juga harus membuka rahasia bank.

Diperkirakan ada sekitar Rp4.000 triliun modal taipan Indonesia bermukim di Singapura dan Hongkong, termasuk negara yang enggan memisahkan uang legal dan ilegal. Upaya program TA (Tax Amnesty) gagal memulangkan uang pengusaha Indonesia yang dihalangi pemerintah Singapura dengan berbagai cara.

Singapura dan Hongkong berhasil menampung kelebihan dana dari Swiss, karena negara tersebut ditekan Uni Eropa (2006), dan kedua negara ini semakin kaya sebagai penampung uang pengusaha/taipan. Bahkan Singapura dikenal sebagai tempat ‘cuci uang’ hasil korupsi di Indonesia. Bahkan ketika krisis moneter (1997-1998) di Indonesia yang berbuntut krisis rasial terhadap etnis Cina karena dianggap sebagai penyebab krisis ekonomi, Singapura adalah tempat pelarian etnis Cina Indonesia yang paling bersahabat.

Dengan GDP per kapita sebesar USD 22.930 di Hongkong, dan USD 22.960 Singapura, dua negara ini sangat sejahtera.

Ciri utamanya adalah Ketertutupan

Ciri utama taipan Asia adalah rahasia dan ketertutupan, sebagai refleksi budaya Cina. Robert Kuok menjelaskan bahwa rata-rata orang Cina kurang suka publikasi karena berbagai sebab. Hal ini juga terjadi pada Wallstreet tua (Yahudi), seperti J.P. Morgan, Rothschild (Inggris), Warburg (Jerman), Goldman Sachs (Amerika Serikat), Lehman Brothers (Amerika Serikat), dan Citibank (AS).

Hal ini berubah setelah sistem keuangan dunia modern, apalagi setelah era ekonomi portfolio (saham, surat-surat berharga, valuta asing, dan lainnya), yang mengharuskan transparansi sebagai parameter dalam berbisnis.

Era Kwek Leng Beng (Singapura), Quek Leng Chan (Malaysia), Liem Sioe Liong (Indonesia), adalah tipikal taipan yang menghindari media massa, meskipun jiwa narsis mereka sebetulnya ada, ketika memamerkan kepada kalangan terbatas, jika namanya termasuk sebagai orang terkaya di Forbes.

Seperti halnya Li Ka-shing yang setiap pagi statusnya harus sediakan publikasi tentang diri dan usahanya, baik positif maupun negatif. Tahun 2003, ketika dicerca oleh The South China Morning Post mengenai insider trading yang dituduhkan kepadanya, dia memboikot iklan usahanya di media tersebut selama 20 tahun.

Taipan Cina sudah terbiasa masuk dalam karakter sebagaimana dituntut oleh kebutuhan bisnis. Di era bisnis ketebukaan dan era IT, mereka juga menyesuaikan diri dengan investasi pada bidang IT, sebagai prasyarat kompetisi Global.

Di Indonesia, para taipan era generasi 1 dan 2 yang tertutup, diganti penerus yang bisa lebih terbuka, seperti: Liem Sioe Liong yang mewariskan kepada Anthony Salaim (Salim Group); Eka Tjipta Widjaja (Sinarmas) kepada Franky Widjaja, yang konon saat ini sering ke istana; Mochtar Riyadi (Lippo) kepada James Riyadi yang kosmopolit; Sampoerna dikelola oleh Putera Sampoerna yang berpendidikan Barat menjadi ciri taipan era globalisasi, tidak lagi tertutup.

Bagaimana kiprah Stanley Ho di Macau menjadi raja judi (1961), dan tahun 1986 menjadi taipan bersama Henry Foh sebagai salah satu taipan terkaya di Asia, bersama Cheng Yu Tung, dengan bendera New World.

Nama lain Ananda Krishnan, raja real estate Malaysia (pemilik Petronas Tower) yang dulunya adalah raja judi pasar taruhan gelap Malaysia. Namanya mencuat ketika memimpin Petronas, dan dikenal dekat dengan Mahathir Mohamad.

Di Indonesia ada pengusaha yang sebelumnya berasal dari judi toto anjing, Jan Darmadi (pemilik Hotel Mandarin dan Setiabudi Building), yang sekarang menjadi Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) dari Partai Nasdem.

Kehidupan yang tertutup ketika menjadi besar, mengubah kebiasaannya karena sebagian perusahaan sudah melantai di bursa, transparansi, profesionalitas, menjadi bagian kinerja taipan untuk dapat bersaing di kancah ekonomi global. Sebagian besar sudah mengirim anaknya sekolah ke negara Barat, seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Australia) sebagai tuntutan kebutuhan menjadi taipan berpengaruh di negaranya.

Taipan Indonesia juga beradaptasi pada kompetisi global, anak-anak para taipan disekolahkan di Barat, karena mereka menyadari bahwa sistem bisnis dan keuangan global dikuasai Barat.

Taipan Cina memang diberi talenta khusus dalam berbisnis, mempunyai kemampuan adaptasi yang cepat.

Negara Cina dengan revolusi Deng Xiao Ping mampu mengubah wajah Cina beradaptasi dengan kapitalisme (One State Two System). Keberhasilan Cina juga membuat Donald Trump, Presiden AS, geram dan ingin mengembalikan kejayaan AS di perdagangan dunia. []

Baca Juga: 

Pertama Kalinya Cina Defisit

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here