Tak Hadiri Serah Terima, Djarot Tiru Megawati

0
326
Presiden Joko Widodo memberikan ucapan selamat kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) disaksikan Wakil Gubernur Sandiaga Uno dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10).

Nusantara.news, Jakarta  – Ada peribahasa lama, datang tampak muka, pulang tampak punggung. Arti harfiahnya mudah dipahami, karena peribahasa itu tak menggunakan majas atau metafora untuk menyampaikan maksudnya. Tetapi, makna tak tertulisnya, bisa banyak. Orang yang datang dengan penghormatan, mestilah pergi dengan kehormatan pula. Kurang lebih, bisalah diartikan sebagai sikap jantan.

Tapi, Gubernur Djarot Saiful Hidayat tentu punya alasan tersendiri tak mau menghadiri pelantikan dan serah terima jabatan gubernur DKI Jakarta kepada Anies Rasyid Baswedan. Djarot, menurut informasi yang beredar hari ini, sejak pagi-pagi sekali berangkat ke Labuan Bajo. Dia memilih berlibur bersama keluarganya di tempat wisata yang indah dekat Pulau Komodo itu.

Secara formal, Djarot memang tak perlu hadir di acara serah terima yang dilangsungkan di Balai Kota Jakarta, hari ini (16/10/2017) itu. Sebab, sejak hari Minggu kemarin, masa jabatannya sebagai gubernur, sudah berakhir. Mantan wakil gubernur yang sempat mencicipi kursi gubernur sepeninggal Basuki Tjahaja Purnama sejak 15 Juni 2017, digantikan oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, sebagai Pelaksana Harian Gubernur sampai dilantiknya gubernur baru.

Jadi, sekali lagi secara formal, serah terima jabatan itu dilakukan oleh Saefullah kepada Anies Baswedan. Sehingga, kalaupun Djarot hadir, dia hanya duduk di kursi undangan.

Padahal, Saefullah sudah mengundang Djarot untuk datang. “Saya sudah minta kepada Pak Djarot untuk bisa hadir. Pak Djarot terakhir bilang, Insya Allah hadir. Mudah-mudahanlah,” kata Saefullah  Senin pagi.

Tapi, ternyata sampai acara pelantikan usai sore hari, punggung Djarot tak kunjung tampak untuk serah terima memori jabatan. “Pelaksana Harian Gubernur memang saya, tapi serah terima lebih baik dilakukan mantan gubernur kepada gubernur yang baru,” kata Saefullah.

Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono, yang pernah menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Jakarta, mengatakan serah terima itu memang dapat diwakilkan. Namun, sebaiknya, Djarot sebagai mantan gubernur DKI itu hadir. “Terus terang saya kaget, alasannya apa (tidak hadir). Mudah-mudahan ketidakhadiranya karena suatu yang penting,” katanya.

Tanda-tanda Djarot tak mau hadir sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya. “Kita belum tahu, saya lihat nanti,” kata Djarot di Ancol, Jakarta Utara, Kamis lalu, ketika ditanya apakah dia akan menghadiri serah terima dengan Anies Baswedan.

Untuk Jakarta, ini tampaknya tradisi baru. Sebelumnya, setiap gubernur lama selalu melakukan serah terima dengan penggantinya. Peristiwa serah terima yang sangat “fenomenal” adalah acara serupa antara Gubernur Jakarta Fauzi Bowo kepada Joko Widodo, yang terpilih dalam Pilkada 2012. Waktu itu, Senin, 15 Oktober 2012, Gubernur Fauzi Bowo dan Wakil Gubernur Prijanto, menyerahkan memori tugas kepada Jokowi-Ahok. Begitu berkas diterima Jokowi, Fauzi Bowo menyalami dan memeluk hangat gubernur baru itu. Jokowi pun membalas pelukan itu dengan mencium pipi Fauzi.

Padahal, kompetisi Fauzi dan Jokowi selama kampanye sangat ketat. Beberapa kali di antara mereka terlibat perang pernyataan yang keras. Sama seperti Pilkada 2016, pemungutan suara pun dilakukan dua putaran. Jokowi-Ahok unggul dengan 53,82% suara, sementara Foke-Nara mendapat 46,18%, dalam putaran kedua pada tanggal 20 September 2012.

Di hari yang sama, ketika hasil penghitungan cepat oleh sejumlah lembaga survei menunjukkan dirinya kalah, Fauzi Bowo langsung mengucapkan selamat kepada Joko Widodo, tanpa perlu menunggu hasil resmi rekapitulasi KPU Jakarta. Sore itu juga dia menelepon Jokowi untuk menyampaikan selamat. “Dari berbagai quick count, pasangan kami tertinggal. Oleh karena itu, hasil quick count ini kami respect dengan baik, sebab quick count adalah metode ilmiah,” kata Fauzi Bowo.

Tak hanya itu, pada 6 Oktober 2012, atau 9 hari sebelum mengakhiri jabatannya sebagai gubernur Jakarta, Fauzi Bowo mengundang Jokowi ke Balai Kota untuk diperkenalkan kepada semua staf di sana. Jokowi juga diajak ke ruang kerja gubernur, yang akan ditempati mantan Wali Kota Solo itu.

Djarot bersama Ahok juga mengucapkan selamat kepada Anies-Sandi ketika hasil quick count menunjukkan perolehan suara mereka di bawah jumlah suara yang memilih Anies-Sandi.  Dalam jumpa pers di Hotel Pullman (19/4/2017), Ahok mengakui kekalahannya.

Sebetulnya, suasana kebersamaan seperti yang ditunjukkan Fauzi Bowo dan Jokowi, sudah mulai terwujud. Sebab, Anies beberapa kali bertemu Ahok di Balai Kota Jakarta. Sementara, Sandiaga meski tak ditemui Djarot di Balai Kota, namun sempat diajak makan malam di sebuah restoran mewah di Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, akhir April silam.

Namun, suasana itu berubah sejak Ahok dijatuhi vonis dua tahun penjara dalam dakwaan penodaan agama oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan, 9 Mei 2017.

Puncaknya adalah ketidakhadiran Djarot dalam serah terima jabatan gubernur Jakarta, hari ini. Tidak hanya Djarot, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi juga tidak datang dalam acara tersebut. Prasetio memang salah satu pendukung utama pasangan Ahok-Djarot dalam pilkada tempo hari, karena sama-sama berasal dari PDIP.

Ketidakhadiran dua politisi PDIP ini rupanya seperti meniru kebiasaan Ketua Umumnya, Megawati. Megawati, di akhir masa jabatannya sebagai presiden tahun 2004 silam, juga emoh hadir dalam serah terima jabatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, selama 13 tahun, Megawati selalu menolak bertemu SBY. Pertemuan pertama mereka baru terjadi dalam peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus lalu, di Istana Negara.

Sementara Susilo Bambang Yudhoyono ketika pelantikan Jokowi sebagai presiden pada 20 Oktober 2014,  bahkan sampai tiga kali berpelukan dan saling cium pipi dengan presiden yang dijagokan PDIP itu.

Pada akhirnya ini memang soal kedewasaan dan etika berpolitik. Makanya masuk akal juga jika Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyebut ulah Djarot itu sebagai tradisi buruk. “Harusnya selesailah.  Hari ini semua selesai. Mungkin Djarot disuruh orang untuk begitu, tapi sebenarnya tidak perlu. Ada yang selamat datang dan ada yang selamat tinggal. Itu biasa. Dalam hidup kita, normal itu,” kata Fahri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here