Tak Hanya Cagub, Partai juga Berpotensi Pecah Suara Nahdliyyin

0
76
Jawa Timur merupakan basis Nahdliyyin di Indonesia. Karenanya, setiap ada agenda politik banyak kepentingan yang ingin menyeret dalam aksi dukung mendukung kendati secara riil tidak berpengaruh pada kesejahteraan mereka.

Nusantara.news, Surabaya – Sebagai basis terbesar di Indonesia, diperkirakan ada 26 juta nahdliyyin dari total populasi sebanyak 39.075.200.000 (sensus BPS 2016, RED) di Jawa Timur. Artinya, sekitar 75 persen warga Jawa Timur berafiliasi dengan NU kendati hingga kini belum ada data valid yang bisa jadi rujukan. Dengan jumlah ini, wajar jika setiap menjelang momen pesta demokrasi seperti Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018, nahdliyyin jadi magnet setiap kekuatan politik untuk berlomba menarik simpati. Tak terkecuali partai politik.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Jawa Timur Musyafak Noer bahkan menegaskan, sikap politik partainya akan mengikuti suara kiai-kiai NU menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018. “Partai kami didirikan oleh para kiai dan tidak mungkin kami tak mengikuti petunjuk yang diberikan, khususnya menjelang Pilkada Jatim mendatang,” terangnya kepada media di Surabaya, Senin (4/9/2017).

Apakah sikap ini yang melatari PPP belum menentukan siapa yang bakal diusung? Kendati berdalih masih tahap penjaringan bakal pasangan calon sebelum digodok final DPP, namun munculnya 2 kader NU yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa, jelas membuat gamang petinggi partai berlambang Ka’bah tersebut.

Pertimbangan jangka panjang jelas akan menjadi rujukan. Apalagi hanya berselang setahun setelah Pilgub 2018 ada gawe besar nasional, Pemilihan Presiden! PPP tentu tidak akan melewatkan kesempatan menjaring suara nahdliyyin Jawa Timur begitu saja. Apalagi jika hanya sekedar mengejar target memenangkan calon di Jawa Timur. “Tetapi kami (DPW PPP, RED) tetap akan menyampaikan ke pusat jika kiai-kiai di Jawa Timur sudah bersikap dan berharap NU tidak pecah pada 2018 nanti,” beber Musyafak.

Kepentingan Jangka Panjang

Dalam kondisi inilah, NU justru berada dalam persimpangan. Melihat kultur Nahdliyyin, mereka tentu akan mengikuti suara kiai NU. Tapi NU yang mana? Sebab melihat dinamika PPP, Musyafak mengaku pernah dipanggil kiai-kiai sepuh di kantor PWNU Jawa Timur, Selasa (29/8/2017). Hasil pertemuan itu, sepakat dukungan akan diberikan kepada Gus Ipul yang sebelumnya sudah mengunci rekomendasi dari PKB.

Saat itu, terang Musyafak, ada beberapa kiai sepuh yang hadir dalam pertemuan. Antara lain Rais Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Mansur, Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah, sejumlah kiai, yakni KH Idris Hamid (Pasuruan), KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Zainudin Jazuli (Ploso, Kediri), KH Nurudin A Rahman (Bangkalan) dan Gus Kikin (Tebuireng Jombang).

Namun bisa jadi keputusan di level elit berubah. Sebab, keberadaan Khofifah juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kendati klaim PPP maupun PKB menyatakan Gus Ipul dapat restu dari kiai sepuh, namun dukungan itu hanya datang dari kiai struktural NU. Sedangkan kiai-kiai NU yang memilih tidak masuk struktural, justru condong ke Khofifah. Seperti yang disuarakan kiai-kiai asal Madura yang selama ini jadi rujukan PPP beberapa waktu lalu.

Rasa gamang itu bahkan sempat diungkap Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy ketika mengisi kuliah tamu di Universitas Islam negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya (26/5/2017). Melihat posisi Khofifah saat ini yang masih menjabat sebagai Menteri Sosial sekaligus Ketua PP Muslimat NU, kedekatan dengan akar rumput yang mayoritas Nahdliyyin membuat PPP tidak bisa mengandalkan keputusan final dari tangan Romi, panggilan akrabnya. Seperti yang dilakukan PKB melalui Suhaimin Iskandar.

“Kami pusing, ada dua kader NU yang maju di Jawa Timur. Tetapi kami sudah bersikap bahwa kader NU yang nanti harus memimpin Jawa Timur. Untuk menentukan siapa, kami masih intens komunikasi dengan partai lain, terutama yang sama-sama berangkat dari NU agar hanya mengerucutkan satu nama saja,” kata Romi kala itu.

Sempat Membuat Gerah Rais Aam PBNU

Berbeda dengan partai politik, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin justru menyoroti kiai yang sempat dijadikan obyek survei dalam Pilgub Jawa Timur. Langkah itu dinilai su’ul adab (tak punya adab alias berperilaku buruk atau tidak tahu sopan santun terhadap kiai) apalagi hanya untuk kepentingan politik praktis. “Iya (su’ul adab), ya itulah. Sebaiknya memang kiai itu jangan dipojok-pojokkan, dimacem-macemkan,” kata Kiai Ma’ruf, Minggu (3/9/2017) ketika hadiri acara di UINSA.

Entah karena segan dengan Kiai Ma’ruf atau sebab lain, PPP pun memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran kandidat bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur. “Sesuai jawaban dan arahan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), kami memperpanjang masa pendaftaran kandidat mulai 1-15 September 2017,” sebut Musyafak.

DUKUNGAN: Gus Ipul didukung struktural NU Jawa Timur harus bersabar ketika PPP memperpanjang masa pendaftaran cagub-cawagub. foto Antara.

Perpanjangan masa pendaftaran tersebut, kata dia, dilakukan usai wilayah mengajukan surat ke pusat sekaligus memberikan kesempatan kepada nama-nama lain untuk mendaftar. Sejauh ini, memang baru Gus Ipul dan Kombes Syafi’in yang mengisi pendaftaran tahap pertama, 23-31 Agustus 2017 lalu.

Dengan perkembangan ini, kiai NU memang harus berpikir untuk kepentingan jangka panjang, terutama menyangkut kesejahteraan Nahdliyyin yang ironisnya, mendominasi angka warga miskin di Jawa Timur. Bahkan jika diperlukan, 2 kader kendati Khofifah hingga kini belum resmi mendeklarasikan maju, digiring ke agenda publik untuk paparkan langkah konkrit jika terpilih untuk sejahterakan rakyat Jawa Timur.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here