Tak Mau Bergantung pada Minyak, Arab Saudi  Diversifikasi Investasi

0
135

Nusantara.news, Jakarta – Kedatangan  Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud dari Arab Saudi ke Indonesia dan sejumlah negara Asia lainnya, sebenarnya, kunjungan kenegaraan biasa.  Hanya saja, karena dia adalah pemimpin sebuah negara yang secara spiritual keagamaan mempunyai tempat khusus di hati penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, dan menyandang pula gelar khadimul haramain,  kedatangan  disambut secara besar-besaran.

Secara emosional, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi memang lebih berada dalam konteks  hubungan keagamaan. Hubungan dari aspek lain, baik politik atau  perdagangan, tidak sedeterminan hubungan keagamaan tadi. Arab Saudi adalah negara dambaan hampir semua warga Indonesia untuk dikunjungi, terutama untuk ibadah haji dan umrah.

Setiap tahun ratusan ribu orang Indonesia menunaikan ibadah haji dan umrah ke tanah suci Mekkah. Menurut data Kementerian Urusan Haji dan Umrah Kerajaan  Arab Saudi,  di tahun 2016 kemarin jumlah jamaah umrah Indonesia  tercatat  634.990 orang. Sedangkan untuk   jamaah haji, Indonesia merupakan pengirim jemaah haji terbesar di dunia setelah Pakistan, India, Bangladesh dan Nigeria. Untuk tahun ini, pemerintah Saudi telah menambah kuota haji Indonesia dari 168.800 orang tahun 2016 menjadi 221.000 orang untuk tahun 2017.  Penambahan kuota haji Indonesia ini tentunya tidak lepas dari diplomasi  Presiden Jokowi yang berkunjung ke Arab Saudi pada September 2015.

Selain minta penambahan kuota haji, Presiden Jokowi, dalam kunjungannya, juga menawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menanamkan modalnya di Indonesia untuk membangun berbagai proyek  infrastruktur termasuk di bidang energi seperti kilang minyak, pariwisata, sektor kelautan dan perikanan. Bak gayung bersambut, Raja Salman pun datang beserta rombongannya berjumlah 1500-an orang, termasuk para pangerannya. Kedatangan Raja Salman   yang menghebohkan itu mengalahkan hebohnya kunjungan Presiden Barack Obama beberapa tahun lalu yang juga datang dengan rombongan yang banyak, termasuk pasukan pengawal keamanan presidennya.

Ekspektasi pemerintah Indonesia membutuhkan investasi dari Arab Saudi sekitar US$25 miliar. Tetapi, masyarakat banyak yang  tidak paham sehingga menganggap Raja Salman lewat Aramco-nya akan berinvestasi sebesar itu. Padahal, tidak demikian kenyataannya. Dari 11 Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Raja Salman belum lama ini di Bogor,  Arab Saudi sepakat menggelontorkan dana sebesar US$ 9,4 miliar, di mana salah satunya terkait proyek modifikasi kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap yang dilakukan PT Pertamina (Persero) dan Aramco senilai 6 miliar dollar AS. Selain itu, ada 1 miliar dollar AS untuk pembangunan infrastruktur pemerintah dan swasta senilai 2,4 miliar dollar AS. Untuk investasi Saudi Aramco di kilang Cilacap, prosesnya memang sudah lama. Maka, yang perlu ditindaklanjuti ialah pengembangan kilang yang belum dikerjasamakan atau digarap sendiri.

Pembangunan kilang-kilang ini harus secepatnya diwujudkan untuk mengurangi impor BBM serta menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Apalagi, jika mengingat kebutuhan BBM nasional yang saat ini mencapai 1,6 juta barrel per hari, sedangkan kapasitas riilnya daya tampung di dalam negeri hanya sanggup 800.000 barel per hari. Diprediksikan pada 2022, kebutuhan ini akan mencapai 2,22 juta barel per hari.

Guyuran petrodollar Aramco  tentunya harus disikapi Pemerintah dengan melakukan berbagai percepatan untuk merealisasikan  komitmen Arab Saudi. Meski ekspektasi awal pemerintah sebesar US$ 25 miliar, namun hanya Arab Saudi mengucurkan US$ 9,4 miliar, beda tipis dengan  yang dikucurkan ke Malaysia sebesar US$ 9,3 miliar.

Investasi Arab Saudi tahun lalu ke Indonesia sebesar US$ 900 ribu. Di tahun sebelumnya (2015) sebesar US$ 30 juta. Seyogianya,  angka fantastis yang mencapai Rp 130 triliun ini mesti terealisasi dengan baik.

Banyak  analis yang mengatakan   kedatangan Raja Salman berinvetasi  di negara-negara lain adalah dalam rangka menyelamatkan perekonomian negaranya  yang rada limbung akibat anjloknya harga minyak dunia. Harga minyak yang sempat menembus US$ 120 per barel kini anjlok menjadi kurang dari separuhnya. Bahkan, hingga kini harga minyak masih bergerak di kisaran US$ 50 per barel. Turunnya harga minyak dunia ini mengakibatnya turunnya pula pendapatan negara yang 70%  bersumber  dari minyak dan gas.

Turunnya harga minyak dunia tentu tidak lepas dari penemuan shale oil dan shale gas di Amerika Serikat (AS) yang membuat dunia dibanjiri minyak dan gas murah. Penemuan ini juga yang menjadi penyebab Amerika melepaskan ketergantungannya pada pasokan minyak dan gas Saudi. Lebih buruk lagi, Amerika Serikat bahkan memotong volume impor minyak dan gasnya hingga mencapai 30 persen. Shale oil dan shale gas diperkirakan akan mampu menopang kebutuhan energi nasional Amerika Serikat selama 100 tahun ke depan. Akibat dari kondisi inilah yang membuat produksi migas Arab Saudi kelebihan produksi sehingga menyebabkan negara-negara lain dibanjiri migas Arab Saudi dengan harga yang murah.

Raja Salman juga menandatangani MoU kerja sama di bidang kelautan dan perikanan. Kerja sama ini adalah peningkatan yang pernah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Yakni sejak 2013 – 2015 mengalami peningkatan, baik dari aspek volume maupun nilai ekonominya. Peningkatan kuantitas cukup signifikan yang pada 2013 sebesar 380 ton menjadi 633 ton pada 2015. International Trade Center mencatat, pada 2013 nilai ekspor perikanan Indonesia ke Saudi Arabia meningkat dari US$ 1.999 juta menjadi US$2.744 juta pada 2015.  Dalam dokumen Visi Arab Saudi 2030 yang dicanangkan Raja Salman menunjukkan bahwa Saudi Arabia menghendaki diversifikasi sumber pendapatan nasionalnya. Artinya, ia tidak hanya menggantungkan pada ekspor minyak dan gas buminya.

Diversifikasi investasi Arab Saudi di kawasan Asia, mempunyai nilai yang strategis. Bisa jadi Raja Salman ingin mengatakan, bahwa Indonesia adalah “rumah” yang cocok untuk berivestasi.

Kalau dikatakan perekonomian Arab Saudi limbung gara-gara merosotnya harga minyak dunia, belum sepenuhnya benarnya. Bahkan, Pemerintah Arab Saudi mengklaim kondisi perekonomian negerinya tetap stabil. Bahkan negara itu sudah menyiapkan Visi 2030 yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap migasnya.

Lewat Duta Besar Arab Saudi di Indonesia, Osama bin Mohammad Abdullah Al Shuaibi mengatakan negaranya dalam kondisi stabil meskipun harga minyak anjlok. Jika negaranya melakukan sejumlah kebijakan itu semata-mata demi menopang kestabilan ekonominya dengan pembukaan rekening khusus dan memberikan bantuan keuangan bagi masyarakat yang menghadapi masalah-masalah keuangan. Begitu pula tentang “Visi 2030” yang dicanangkan pemerintah Arab Saudi, adalah merupakan rangkaian reformasi ekonomi yang mengurangi ketergantungan negara itu dari minyak. Ini merupakan diversifikasi pendapatan negara yang tidak lagi berasal dari minyak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here