Tak Mengherankan, Rasisme Menguat di Amerika Era Trump

0
82
Warga berkumpul di malam renungan sebagai respon atas kematian pengunjuk rasa di demonstrasi "Unite the Right" di Charlottesville, di luar Gedung Putih Washington, Amerika Serikat, Minggu (13/8). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Washington – Respon yang sangat biasa dari seorang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, atas kejadian kekerasan berbau rasisme di Charlottesville, Virginia pada Sabtu (12/8) lalu mungkin mengagetkan bagi sebuah negara demokratis, tapi sebetulnya tidak mengherankan. Selama sekitar tujuh bulan memerintah, Trump akrab dengan kebijakan-kebijakan kontroversial, di antaranya karena menyinggung SARA.

Trump pernah mengeluarkan Eksekutif Order atau Peraturan Presiden yang melarang 7 negara dengan mayoritas penduduk Muslim memasuki Amerika. Ini dilakukan dalam rangka membatasi imigran, khususnya pengungsi, yang menurut Trump sebagai sumber berbagai masalah di AS. Trump juga pernah berencana membangun tembok yang tinggi, membentang ratusan kilometer di perbatasan antara AS dan tetangga belakangnya, Meksiko. Tujuannya, membatasi imigran dari negeri Amerika Latin itu.

Semasa kampanye Pilpres AS 2016, banyak kalangan, terutama dari rival politiknya menganggap Trump rasis.

Mark Potok, peneliti dari Southern Poverty Law Center’s Intelligence Project, ketika itu, menyebut iklim politik dalam Pilpres AS 2016 sebagai “mencengangkan”, dan penyebabnya adalah Trump.

“Donald Trump membuat situasi di mana pendukung supremasi kulit putih dan kelompok-kelompok sekutunya benar-benar merasa gembira. Mereka merasa punya calon presiden yang akan membawa mereka sekurangnya pada tahun 1968, ketika George Wallace seorang pendukung pemisahan ras mencalonkan diri sebagai presiden Amerika,” kata Potok, saat kampanye Pilpres AS berjalan sengit.

Bahkan kata Potok, ada seorang calon anggota Kongres di negara bagian Tennessee, ketika itu, yang menggunakan slogan Donald Trump “Membuat Amerika Jaya Kembali” (Make America Great Again) mengubahnya menjadi “Membuat Amerika (Kulit) Putih Kembali”.

Setelah Trump terpilih, supremasi kulit putih dirasakan menguat di sejumlah tempat, menimbulkan kekhawatiran konflik berlatar belakang rasisme dan rasialisme bakal terjadi lagi di Paman Sam, negeri yang secara prinsip telah menerima kesetaraan ras tersebut.

Sikap Trump yang tidak secara tegas mengutuk kekerasan atas apa yang dilakukan kelompok supremasi kulit putih dalam peristiwa bentrok berdarah di Charlottesville menuai kritik keras berbagai kalangan, termasuk dari kalangan Partai Republik, partai pendukung Trump.

Tapi sejatinya sikap Trump yang tidak jelas terhadap kelompok ekstrem kanan di AS bukan terjadi kali ini saja. Pada Februari 2016, dalam sebuah wawancara di CNN, Trump juga menolak untuk mengutuk Ku Klux Klan serta menolak pengesahannya oleh mantan anggota klan itu, David Duke.

Sebab itulah, Duke yang juga turut berada di Charlottesville pada peristiwa bentrokan hari Sabtu itu, dengan percaya diri mengatakan kepada USA Today Network, “Kami akan memenuhi janji Donald Trump. Itulah yang kami percaya, itulah sebabnya kami memilih Donald Trump, karena dia bilang dia akan membawa negara kita kembali.”

Kelompok Neo-Nazi atau yang disebut sebagai alt-right” menjadi bagian penting sebagai basis Trump dalam Pilpres 2016 lalu. Trump beserta sejumlah stafnya memang telah lama dituduh secara diam-diam mempunyai hubungan “mesra”  dengan kelompok nasionalis kulit putih, fanatik dan anti-Semit. Kepala strategi Trump adalah Stephen K. Bannon, sebelumnya dia mengelola Breitbart News, sebuah media sayap kanan yang menganjurkan apa yang dia sebut sebagai gerakan “alt-right” itu.

Trump sendiri, sebagaimana dilaporkan The Guardian, memiliki track record rasisme. Pada tahun 1973, dia dan ayahnya pernah digugat oleh departemen kehakiman AS karena melakukan diskriminasi rasial terhadap calon penyewa kulit hitam atas properti mereka.

Pada tahun 1989, setelah remaja Afrika-Amerika dan Latin dituduh melakukan penyerangan dan pemerkosaan terhadap seorang wanita kulit putih di Central Park, New York, Trump menghabiskan USD 85.000 untuk memasang iklan satu halaman penuh di empat surat kabar harian, menyerukan hukuman mati. Kemudian, setelah para pemerkosa itu dibebaskan dengan bukti DNA, Trump tetap terus mendesak agar mereka dihukum dengan mengatakan, “Mereka mengaku bersalah.”

Baru-baru ini, Trump dikabarkan sebagai pendukung utama gerakan “birther”, yang salah satunya mempertanyakan apakah Obama lahir di AS, dan oleh karena itu merupakan presiden yang sah.

Di era Trump pula, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan untuk memperingati Hari Peringatan Holocaust Internasional dengan tidak menyebutkan Yahudi, Yudaisme atau antisemitisme. Mantan sekretaris pers Gedung Putih yang dipecat Trump, Sean Spicer, terpaksa meminta maaf setelah mengklaim bahwa Adolf Hitler, yang membunuh jutaan orang Yahudi selama Holocaust itu, tidak menggunakan senjata kimia.

Dikecam Kalangan Republik

Ketidak-tegasan sikap Trump atas kasus rasisme dikecam kolega Trump sesama Partai Republik. Senator Cory Gardner, Ketua Komite Senatorial Partai Republik Nasional mengatakan kepada CNN’s Union, “Saya pikir presiden perlu meningkatkan (kecaman), dan … sebutlah apa adanya. Ini jahat, ini nasionalisme putih, itu kefanatikan dan itu tidak bisa diterima. Dan jika dia (Trump) tidak melakukan itu, kita terus mendapat pertanyaan mengapa? Tapi saya yakin dia punya kesempatan untuk melakukannya.”

Senator Ted Cruz dari Texas, seorang Republikan, menyebutnya sebagai “tindakan terorisme domestik yang mengerikan”. Dia meminta dilakukan penyelidikan oleh departemen kehakiman mengenai kasus tersebut.

Berbicara dari klub golfnya di New Jersey saat liburan pada hari Sabtu, setelah seorang pria menabrakkan mobilnya ke peserta aksi anti-rasisme, Trump mengatakan, “Kami mengutuk dengan cara yang paling kuat dari pernyataan mengerikan tentang kebencian, kefanatikan dan kekerasan untuk semua pihak. Untuk semua pihak,” kata Trump.

“Sudah lama sekali terjadi di negara kita. Bukan Donald Trump, bukan Barack Obama. Ini sudah berlangsung lama sekali,” tambah Trump lagi.

Trump sama sekali tidak menyebut sebagai peristiwa itu sebagai rasisme. Tidak disebutkan juga mengenai supremasi kulit putih. Dia juga tidak menyebutkan Ku Klux Klan. Sebaliknya, Trump mengulang kata “semua pihak”.

The Daily Stormer, sebuah publikasi neo-Nazi, mengungkapkan kegembiraannya, bahwa komentar Trump atas peristiwa tersebut bagus. Dia tidak menyerang kita. Dia hanya mengatakan bahwa negara harus bersatu. Tidak ada yang spesifik diarahkan terhadap kita. Dia mengatakan, bahwa kita perlu mempelajari mengapa orang begitu marah, dan menyiratkan bahwa ada kebencian … di kedua sisi! Jadi, dia menyiratkan bahwa antifa (anti-fasis) juga adalah pembenci.”

Namun, sehari kemudian atau pada Minggu (13/8) juru bicara Gedung Putih mengeluarkan sebuah pernyataan baru, bahwa presiden “mengecam segala bentuk kekerasan, kefanatikan dan kebencian, dan tentu saja itu termasuk supremasi kulit putih, KKK, neo-Nazi dan semua kelompok ekstremis”. Trump sendiri tetap tak berkomentar, baik secara pribadi maupun di akun Twitter seperti yang biasa dilakukannya.

Sejarah panjang rasisme di AS

Hingga saat ini rasisme atau rasialisme masih menjadi masalah besar di AS, tidak seperti orang-orang Eropa, orang Amerika cenderung sulit menerima kesetaraan dengan imigran. Survei yang dilakukan sebuah lembaga pada tahun 2015 menyebutkan bahwa 51 persen warga Amerika percaya rasialisme masih menjadi masalah besar di AS.

April 1861 Virginia dan sejumlah negara bagian lain menyatakan diri sebagai negara Konfederasi Amerika, keluar dari AS. Dalam sejarah, Konfederasi Amerika dikenal sebagai ‘Selatan’, sedangkan negara pendukung negara Serikat disebut ‘Utara’.

Di balik pemisahan diri Virginia ini, terdapat gagasan tentang supremasi kulit putih yang menolak penghapusan perbudakan. Dan ketika perbedaan itu tidak dapat dijembatani, maka pecahlah perang saudara. Menghadapi ini, Jenderal Robert E. Lee, seorang perwira tinggi di Angkatan Bersenjata AS, memutuskan mengikuti keputusan negara bagian asalnya, Virginia. Lee menolak tawaran Presiden AS saat itu Abraham Lincoln untuk memegang komando Angkatan Bersenjata AS dan lebih memilih menjadi penasihat militer senior Presiden Konfederasi, Jefferson Davis.

Setelah sempat memetik kemenangan, Jenderal Lee dihadapkan pada kekuatan strategi Jenderal Ulysses S. Grant, koleganya di AS. Lee akhirnya menyerah kepada Grant tepat empat tahun setelah Virginia merdeka. Lee lalu menyerukan rekonsiliasi antara Utara-Selatan dan persatuan Amerika. Namun sebagian orang lebih mengenang Jenderal Lee sebagai “pahlawan Selatan” sehingga mereka mendirikan patung Lee di sebuah taman di kota Charlottesville, Virginia.

Lebih dari 1,5 abad setelah Perang Saudara itu, patung Lee hendak dirobohkan oleh pemerintah kota, tahun ini. Kaum nasionalis kulit putih tak terima dan turun ke jalan memprotes recana tersebut. Terseliplah nama di antara mereka James Alex Fields, Jr., pemuda berusia 20 tahun, yang entah melalui siapa ia mewarisi gagasan yang pernah memicu Perang Saudara di masa lalu. Untuk membuktikan spirit Selatan-nya, Fields tanpa ragu menabrakkan mobilnya ke arah kerumunan orang-orang yang menyerukan anti-Kanan. Kelompok yang ditentang itu didukung anggota Klu Klux Klan, neo-Nazi, dan kelompok rasis lain. Kejadian pada Sabtu naas itu menewaskan satu orang di lokasi kejadian dan 19 lainnya luka-luka.

Inilah untuk kesekian kalinya, sejarah panjang dan mengakar tentang masalah rasisme dan rasialisme di AS, negara yang menjunjung tinggi demokrasi serta kebebasan, kembali mengemuka. Sesuatu yang juga bisa terjadi di negara-negara lain, termasuk Indonesia, karena isu rasialisme itu ada di mana-mana. Keberadaannya ibarat bara dalam sekam, jika pemimpin tidak mampu mengelolanya, memanaslah ia lalu membakar apa saja di sekelilingnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here