Takmir Masjid Cheng Hoo: Toleran, tapi Jangan Hina Al Quran

0
118

Nusantara.News, Surabaya – Radikal dan intoleran, dua kata yang mengakrabi bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Vonis 2 tahun Basuki ‘Ahok’ Tjahaya Purnama atas kasus penistaan agama dan dilanjut pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara lisan oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Wiranto, bukannya menghentikan gejolak. Tudingan kepada umat Islam justru kian santer merujuk dua kata di atas.

Di sisi lain, aksi massa yang mengatasnamakan kebhinekaan menuntut pembebasan Ahok, malah jadi bahan bakar memperuncing persoalan yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menyikapi kondisi ini, takmir Masjid Cheng Hoo Surabaya Ahmad Hariyono Ong mengimbau semua anak bangsa untuk instropeksi diri sendiri.

“Bagi umat Islam, pegangan utama adalah Al Quran dan Al Hadist. Dan itu mutlak sebagai agama rahmatan lil alamin yang diturunkan Allah SWT ke dunia ini. NKRI merupakan hasil kesepakatan bersama founding father kita 47 tahun silam. Marilah kita sama-sama menjaga diri demi keutuhan Indonesia,” ucapnya kepada Nusantara.news usai menjadi tuan rumah acara “Bersih-Bersih 1001 Masjid”, program kerjasama pengurus Masjid Cheng Hoo dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur dan PT Unilever Indonesia Tbk.

Sebagai warga keturunan yang minoritas di Indonesia, ustad Ong panggilan akrabnya, paham betul akan arti toleransi. Apalagi di keluarga besarnya, banyak yang berbeda keyakinan. “Saya mendapat hidayah ketika berusia 13 tahun. Saudara-saudara saya di Kota Batu juga banyak yang non muslim namun semua hidup rukun karena meyakini agama merupakan hak pribadi setiap manusia,” sebutnya.

Umat Islam, tambah ustad Ong, menyikapi kondisi akhir-akhir ini harus mengembalikan kepada dua pedoman utama. Yakni Al Quran dan Al Hadits. “Semuanya dikembalikan pada ajaran Islam, bagaimana Islam mengajarkan. ‘Kan kita ada sumbernya. Sumber kita Al Quran dan hadits,” paparnya.

Dalam dua pedoman itu, sudah termuat ajaran-ajaran bagaimana seharusnya umat muslim dalam berkehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. “Jangan sampai kita (bangsa Indonesia, RED) karena berbeda suku, bangsa dan agama sampai terpecah. Itu menyalahi Al Quran. Di Al Quran pun disebutkan bahwasanya Allah SWT itu menghendaki  perbedaan, tetapi bukan peperangan,” tambahnya.

Perbedaan yang dimaksud dalam kitab suci umat Islam itu adalah, Allah SWT menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling saling kenal mengenal. Ustad Ong sangat menyesalkan jika kesucian firman-firman Allah SWT yang diterangkan terperinci, baik dalam penerapan maupun ajarannya dalam hadis Nabi Muhammad SAW, justru gagal dipahami.

“Saya ingat pesan baginda Rasulullah SAW. Saya sangat…Masya Allah, merinding saya mengingat pesan beliau. Yakni seruan bergaullah antar manusia!” terang ustad Ong menyitir hadits Nabi Muhammad SAW tentang kehidupan antar umat manusia. “Manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan berbagai macam agama. Jika pesan rasul diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, Insya Allah aman. Bergaullah manusia dengan akhlak terbaik. Karena itu, instropeksi merupakan bagian dari agama Islam,” tegasnya.

Karena itu, menyikapi fenomena akhir-akhir ini, sebagai pemimpin jamaah Masjid Cheng Hoo yang secara kesukuan minoritas, toleransi disebut ustad Ong sebagai kunci dalam bermasyarakat. Termasuk menghormati penganut keyakinan di luar Islam. Hanya saja, ada catatan tegas yang dia gambarkan. Yakni jangan masuk masalah akidah. “Tidak menghina Al Quran dan tidak menghina baginda rasul, itu saja. Lain dari itu, kita harus merangkul semuanya,” katanya.

Prinsip itu yang diterapkan dalam aktivitas masjid yang telah berdiri sejak 2003 ini. Di tengah polemik aksi saling usir penceramah yang berbeda aliran, manajemen masjid berarsitek Tiongkok ini menegaskan berdiri di atas golongan. “Masjid ini terbuka, bagaimana pelaksanaannya, manajemen masjid tidak pernah melakukan pembatasan dalam penyebaran syiar agama. Yang NU monggo, yang Muhammadiyah monggo termasuk majelis tabligh. Kita terbuka untuk semua aliran kok,” tutupnya.

Gerakan “Bersih-Bersih 1001 Masjid” sendiri merupakan salah satu agenda rutin Yayasan Unilever Indonesia menyambut bulan suci Ramadan. Masjid Cheng Hoo Surabaya menjadi penutup acara setelah digelar sejak 21 April 2017. Tahun ini, total ada 1001 masjid yang di-cover kegiatan ini dan tersebar di 33 kota/kabupaten di 11 provinsi.

“Kegiatan bersih-bersih masjid merupakan bagian dari cinta masjid, di mana orangorang yang cinta masjid,  Insya Allah hidupnya makmur. Dengan masjid yang bersih, orang yang mau datang beribadah menjadi senang,” kata M Rozikki Ketua PW DMI Jawa Timur. Kegiatan bersih-bersih ini sebenarnya bukan sekadar membersihkan kotoran begitu saja, tetapi juga merupakan sarana edukasi dalam menjaga kebersihan dengan benar.

General Manager Yayasan Unilever Indonesia Sinta Kaniawati menerangkan, visi agenda ini juga dikaitkan dengan program global perusahaan multi nasional itu yang puncaknya pada 202. Yakni menjaga taraf kesehatan masyarakat dunia bagi 1 miliar penduduk. “Kami bergerak bersama masyarakat untuk membudayakan hidup sehat. Ke depan semoga bisa ditularkan kepada masyarakat luas. Makanya, dalam program ini juga diberi tahu cara membersihkan keramik, lantai, dinding hingga area kamar mandi secara benar. Kalau lingkungan bersih tentunya menjadi sehat,” ungkap Sinta. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here