Takut Sepi, Penjual Ikan Enggan Pindah ke SIB Kanjeran

0
165

Nusantara.news, Surabaya – Fasilitas mentereng dan bangunan senilai Rp21 miliar Sentra Ikan Bulak (SIB) Kenjeran, Surabaya, meskipun sudah diresmikan sejak 5 tahun lalu ternyata masih kurang diminati oleh pedagang ikan yang secara turun-temurun biasa berdagang di pinggir jalan.

Padahal gedung berlantai dua bergaya minimalis itu sudah digagas dengan konsep terpadu. Lantai satu untuk tempat berjualan berbagai jenis ikan segar hasil tangkapan warga kampung nelayan, Kenjeran. Di atasnya, lantai dua berderet kios tempat berjualan berbagai menu makanan. Di sana ada juga tempat santai dengan menu hidangan ringan. Gedung yang dibiayai APBD senilai Rp21 miliar sudah diresmikan sejak tahun 2012 oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Selain bertujuan untuk mengangkat ekonomi warga sekitar, khususnya pedagang ikan yang biasa berjualan di pinggir jalan. Lokasi ini, juga untuk penataan dan pengembangan areal wisata pantai. Terbukti, terus dibangun dan dilakukan pembenahan sarana dan prasarana pendukung. Ada taman, areal bermain anak, tempat kuliner untuk keluarga dan lainnya. Diantaranya, ada Taman Suroboyo, Taman Bulan dan fasilitas lain. Entah kenapa, hingga kini belum tampak geliatnya, pedagang ikan tetap memilih berjualan di pinggir jalan alasannya mudah didatangi pembeli, berbeda kalau mereka menempati stand di SIB.

“Saya sudah 10 tahunan, berjualan dari pagi jam 6 sampai jam 6 sore meneruskan orang tua yang sejak lama berjualan ikan di sini,” kata Aini (32) warga sekitar, penjualan ikan.

Ibu dari tiga anak itu, termasuk dua wanita lebih tua yang berjualan di sebelahnya juga senada, mereka mengaku meski gratis, di SIB tidak banyak didatangi pengunjung, dagangannya tidak selaris di pinggir jalan. Selain mengaku kejauhan dari rumah, hanya mengandalkan pengunjung bus pariwisata tidak seramai di lokasi lama yang ditempati.

“Saya sudah nyoba satu tahun, tapi pengunjungnya sepi, jadinya sering rugi,” kata Aini, dibenarkan kedua rekannya sesam pedagang.

Kendala lainnya, karena jauh dari rumah mereka harus mondar-mandir jika ada keperluan, mengambil ikan atau mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya. Keluhan kecil lainnya, karena orang tuanya berdagang di SIB, anak-anaknya jadi banyak jajan.

“Kalau jauh gitu, urusan rumah terbengkalai, anak-anak juga tambah banyak jajan,” tambahnya.

Pedagang ikan lainnya, Musyaffak juga mengaku setelah tiga tahun menempati stan di SIB, kerap merugi. Lantaran tidak banyak pengunjung yang masuk ke sentra perdagangan ikan tersebut. Meski dia mengakui bangunan dan penataan stand bagus, tetapi sarana untuk pengunjung juga perlu ditingkatkan.

“Tiga tahun saya di situ, dagangan sering rugi tidak seperti disini (di jalanan), sehari satu ton saya habis,” kata Musyaffak.

Menghadapi itu, Pemerintah Kota Surabaya tak mau menyerah, dengan personil Sat Pol PP nya, ‘memaksa’ para pedagang menempati stand di SIB. Sebaliknya, personil lain ditempatkan menjaga jalanan aspal agar tidak ada aktifitas berjualan. Namun, kenyataannya masih terjadi kucing-kucingan, setelah petugas pergi, sejumlah pedagang juga meninggalkan areal SIB, kembali berjualan ke jalanan. Tak ayal, kejar-kejaran dan kucing-kucingan antara petugas Pol PP Kota Surabaya dengan pedagang ikan di wilayah itu kerap terjadi. Pedagang pun mengaku cemas, tidak bisa tenang berjualan meski di depan rumahnya sendiri.

Mereka, pedagang juga berbalik melontarkan kritik ke pemerintah kota. Termasuk, menyoroti pembangunan jembatan baru (ikon wisata pantai) yang disebut pembangunannya nanggung.

“Nurut saya jembatan itu nanggung, kok ndak sekalian sampai ke sentral (ke SIB). Jadi bus wisata pengunjung bisa langsung ke sentral ikan,” tambah Mega, yang juga pedagang ikan di pinggir jalan.

Melihat pedagang ikan masih membandel, Tri Rismaharini sempat mengungkapkan kekecewaan. Padahal, bangunan SIB diperuntukkan bagi pedagang ikan, agar selain lebih nyaman bagi pedagang dan pengunjung juga untuk mempercantik kawasan Kenjeran.

Risma meminta SIB segera ditempati, tidak boleh ada stand yang kosong. Jika mengabaikan, akan dimasukkan ke areal tersebut pedagang ikan dari Pasar Pabean, padahal lokasinya jauh dari tempat itu.

“Bagaimana mau ramai, kalau penjualnya saja tidak ada?” kata Risma, saat itu.

Walikota perempuan itu juga minta tokoh masyarakat, termasuk pihak kecamatan, kelurahan, RW dan RT setempat agar mengarahkan warganya penjual ikan untuk menempati stand yang sudah ada, namun hingga sekarang belum membuahkan hasil maksimal.

Padahal, lokasi tersebut juga masuk agenda Presiden RI Joko Widodo untuk dikunjungi. Sebelumnya, infomasi yang beredar, pejabat nomor satu itu akan datang 17/2/2017, namun batal. Informasi lainnya, diundur menjadi 21/2/2017, namun juga batal.

Memang ini kenyataan yang tidak enak, tempat berjualan sudah dibangun tetapi pedagang tidak mengindahkan bahkan menolak menempati. Apa ada yang salah? Bagaimana komunikasi sebelumnya dengan warga khususnya pedagang ikan di daerah itu, sebelum sentra perdagangan ikan dibangun.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here