Tambang Demi Kesejahteran Rakyat Hanya Mitos

0
192

Nusantara.news, Banyuwangi – Sektor pertambangan ternyata tidak memberikan pemasukan yang signifikan terhadap pemerintah daerah. Terutama tambang yang berara di Tuban. Pendaapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor tambang malah lebih kecil ketimbang PAD dari sektor rumah sakit.

Hal ini terungkap dalam karya tulis Hendra dalam meraih gelar Master of Arts (MA) di Universitas Gadjah Mada (UGM). Karya tukis tersebut dibedah dalam Forum Banyuwangi (ForBanyuwangi) bekerjasama dengan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Banyuwangi, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Osing serta Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat (ForkoMM) Banyuwangi menggelar bedah buku berjudul “Mitos Tambang untuk Kesejahteraan”.

Acara yang digelar pada hari Jum’a’t (10/2/2017) di sebuah cafe di Kecamatan Glagah itu dihadiri oleh Budayawan, Mahasiswa hingga pegiat Wisata. Dalam acara ini,  Hendra Try Ardianto sebagai penulis memaparkan dan membedah secara mendalam buku yang sekaligus menjadi karya tulisnya dalam meraih gelar Master of Arts (MA) di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Hendra, dalam karya tersebut dideskripsikan bahwa tambang tidak selamanya memberikan dampak positif bagi masyarakat.“Lapangan kerja besar terserap hanya saat pembangunan saja, setelah itu hanya sedikit tenaga yang terserap. Pemasukan ke Pemerintah Daerah juga belum tentu disalurkan ke masyarakat kecil, terlebih dana CSR yang selalu disalurkan ke usaha masyarakat yang telah mapan, bukan pengusaha kecil yang justru sangat membutuhkan,” kata Hendra.

Dalam konteks ini, Hendra mencontohkan daerah asalnya yaitu Kabupaten Tuban. Dikatakan pendapatan Pemda Tuban dari tambang sekitar Rp50 miliar, dan angka tersebut bukan sumber pendapatan terbesar. Justru pendapatan terbesar berasal dari rumah sakit yang mencapai Rp160 miliar. Akan tetapi efek kerusakan lingkungan yang ditimbulkanya cukup besar. Lebih lanjut, dengan adanya penambangan semen  dapat berpengaruh terhadap lapisan ozon dan konsumsi air yang sangat boros. “Dalam proses pengolahan semen, proses yang disebut “klinker” membutuhkan air sebanyak 23 liter per detik”, ungkapnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here