Tan Malaka, Antara Cinta dan Revolusi

0
1207

Nusantara.news, Jakarta – Siapa yang tak kenal Tan Malaka? Dialah sosok yang cakap meyakinkan orang, penggalang massa yang ulung, penggugah pergerakan yang efektif, serta pemikir yang mencipta karya-karya mencerahkan.

Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

Tokoh pemuda Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mengambil poin-poin penting dari Massa Actie, utamanya saat Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Lantaran menyimpan buku terlarang ini, Bung Karno harus diadili dengan tuduhan berat di Landraad Bandung pada 1931. Tak heran, isi buku itu juga menjadi ilham yang dikutip Bung Karno dalam pleidoinya: “Indonesia Menggugat.”

Soekarno, bahkan pernah menulis testamen politik yang berisi wasiat penyerahan kekuasaan kepada empat nama, salah satunya Tan Malaka, apabila Bung Karno dan Bung Hatta mati atau ditangkap. “…jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, dialah Tan Malaka.” Kata Soekarno. Tapi di masa pemerintahan Sukarno pula, Tan dipenjara dua setengah tahun tanpa pengadilan.

Tak hanya Soekarno, Muhammad Yamin juga memuja Tan. Bagi Yamin -yang kemudian bergabung dengan Tan dalam kelompok Persatuan Perjuangan- Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan George Washington: merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai. Sedangkan Rudolf Mrazek menyebut Tan sebagai manusia komplet. Ia begitu hebat: pemikir yang cerdas dan aktivis politik yang lincah.

Namun di balik jejaknya yang dipenuhi pergumulan pemikiran dan pergulatan revolusi melawan kolonialisme, pernahkah Tan Malaka memiliki waktu untuk sekadar tenggelam dalam dunia percintaan? Atau lebih spesifik lagi, pernahkah Tan Malaka mencintai perempuan?

Pertanyaan seperti ini tentu saja menggoda setiap orang. Karena selama ini, Tan lebih dikenal sebagi pejuang yang revolusioner yang tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan. Ia bukanlah seorang pecinta ulung yang “flamboyan” seperti Soekarno ataupun Kennedy. Pun seperti Moh Hatta yang bersetia pada satu perempuan. Namun, pemilik nama lengkap Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka ini justru memutuskan untuk tidak menikah alias membujang sepanjang hidupnya.

Meski begitu, bukan berarti pria yang dijuluki sebagai ‘Bapak Republik Indonesia’ oleh Moh Yamin itu tak pernah jatuh cinta kepada wanita. Tan Malaka pernah ditanya oleh salah seorang pengikutnya, Adam Malik, soal dunia percintaan.

“Apa Bung pernah jatuh cinta?”, tanya Adam Malik yang di era Orde Baru pernah menjabat sebagai Wakil presiden. Mendapat pertanyaan itu, Tan Malaka pun menjawab.

“Pernah. Tiga kali malahan. Sekali di Belanda. Sekali di Filipina dan sekali lagi di Indonesia. Tapi semuanya itu katakanlah hanya cinta yang tidak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan (Indonesia).” Pengakuan Tan Malaka itu kemudian ditulis Adam Malik dalam bukunya berjudul Mengabdi Republik.

Pernyataan Tan yang lebih mementingkan perjuangan ketimbang percintaan ini diamini oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik. “Ia (Tan Malaka) tidak kawin karena perkawinan akan membelokannya dari perjuangan. Ia bersikap penuh hormat terhadap perempuan. Ia juga tak pernah berbicara tentang perempuan dalam makna seksual. Dari sudut ini, ia seorang yang bersih,” kata SK Trimurti yang menjalin hubungan baik saat Tan Malaka tinggal di rumah Soebardjo pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sementara menurut Harry A Poeze, peneliti Tan Malaka dari Belanda, dalam pelariannya di luar negeri, Tan Malaka sempat berhubungan khusus dengan sejumlah wanita. Namun, Tan Malaka sadar sebagai tokoh gerakan radikal yang diburu oleh dinas rahasia negara kapitalis seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda, ia tak mungkin bisa menikah.

“Tan Malaka bilang saya orang gerakan radikal dan diburu selalu. Saya harus bisa meloloskan diri karena itu gak ada waktu untuk berkeluarga. Ini nasib seorang revolusioner,” kata Poeze.

Poeze menambahkan, Tan juga pernah mengatakan bahwa, “Jika orang berjuang demi kemerdekaan bersama, maka ia harus rela kemerdekaanya sendiri terenggut.” Dan itu dibuktikannya, demi berjuang membela negeri tercinta, ia rela tak mengurusi kehidupannya sendiri (tak menikah), dan bahkan ia hanya sempat sowan kepada ibunya dua kali setelah ia diasingkan tahun 1922.

Atas kondisi tersebut, Dr Alfian menyebut Tan Malaka sebagai revolusioner kesepian. Mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922 – 1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan.

Perempuan penakluk hati Tan Malaka

Berdasarkan pengakuan Tan Malaka soal tiga kisah cintanya di tiga negara, kita bisa menelusuri siapa saja perempuan penakluk hati Tan itu. Di Indonesia,  dalam buku Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah, Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya di Sekolah Raja (Kweekschool), Bukittinggi, yakni Syarifah Nawawi.

Perempuan di sekitar Tan Malaka. Foto: Syarifah Nawawi, Paramita Abdurachman, dan Tan Malaka

Syarifah lahir di Bukittinggi sekitar tahun 1896, anak dari Guru Nawawi gelar Soetan Ma’moer (1859-1928), seorang guru pribumi yang terkenal di Sekolah Raja Bukittinggi pada zaman kolonial. Hanya saja, cinta itu bertepuk sebelah tangan. Syarifah akhirnya menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur (Jawa Barat) yang saat itu sudah memiliki lima orang anak.

Tahun 1924, Wiranatakoesoema, menceraikan Syarifah. Syahdan, Tan Malaka sempat mendatangi Syarifah untuk meminangnya. Lagi-lagi cinta Tan Malaka ditolak. Sungguh kisah cinta yang sangat pahit. Dua kali ditolak, oleh perempuan yang sama pula.

Syarifah juga tak pernah sekali pun membalas surat-surat dari Tan Malaka. ”Tan Malaka? Hmm, dia seorang pemuda yang aneh,” begitu kata Syarifah kepada Harry A Poeze sewaktu mereka bertemu pada 1980. Syarifah tak menjelaskan di mana keanehan orang “besar” yang menaksirnya itu.

Di Belanda, saat bersekolah, Tan juga dikabarkan sempat berpacaran dengan seorang gadis Belanda bernama Fenny Struijvenberg. Mahasiswi kedokteran itu bahkan kerap datang ke rumah sewa yang ditinggali Tan Malaka.  Namun tidak pernah jelas proses dan akhir dari hubungan mereka.

Sedangkan di Filipina, dalam biografinya Dari Penjara ke Penjara Jilid I,  Tan sempat menyinggung kedekatannya dengan seorang gadis Filipina bernama Carmen, yang menolongnya dalam pelarian, hingga sukses masuk ke negeri itu. Carmen adalah anak dari bekas pemberontak di Filipina dan rektor Universitas Manila.

Hubungan mereka terputus karena Tan ditangkap intelijen Amerika, diadili di Pengadilan Manila dan divonis deportasi keluar dari Filipina. Tan kembali ke Tiongkok, menuju Shanghai dan dia tinggal di sebuah desa kecil selama kurang lebih tiga tahun, dalam keadaan sakit dan tak punya uang. Kabarnya seorang perempuan Tiongkok merawatnya ketika itu. Tak disebutkan bagaimana hubungan mereka.

Tan kemudian mendapat tugas dari Komintern (Komunis Internasional) untuk pergi ke Burma (Myanmar). Namun dalam perjalanan menuju Burma, Tan ditangkap agen rahasia Inggris dan ditahan selama dua bulan. Setelah dibebaskan oleh agen rahasia, Tan memutuskan pergi ke Amoy (Xiamen). Di sana, Tan mendapatkan perlindungan di Tiongkok Selatan.

Tan dikabarkan menjalin asmara dengan seorang gadis Amoy berusia 17 tahun berinisial “AP” di sana. AP merupakan murid Tan Malaka belajar bahasa Inggris. Tan yang hidupnya terus berpindah-pindah itu juga akhirnya kembali meninggalkan gadis Amoy. Ia kemudian pindah ke Singapura dan terakhir pulang ke Indonesia.

Sekembalinya ke Indonesia, Tan sempat terpikat dengan keponakan Ahmad Soebardjo, kawan lamanya, yang bernama Paramita Abdurrachman. Paramita merupakan cinta terakhir Tan Malaka. Bahkan disebutkan asmara mereka cukup serius. Sayangnya, Tan memang lebih berfokus ke kegiatan politiknya sehingga jalinan asmara keduanya terputus.

‘Kemerdekaan 100 Persen’ dan persahabatan Tan dengan Jenderal Soedirman

Buku Tan Malaka tentang Merdeka 100 Persen

Suatu malam pada sebuah pertemuan yang dihadiri Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan K.H. Agus Salim (seperti dikutip dari buku ‘Tan Malaka: Merdeka 100 Persen’ karya Robertus Robet), Tan Malaka yang datang tanpa diundang tiba-tiba berkata lantang:

“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian mengapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan? Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku… Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen…!”

Bagi Tan, kemerdekaan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 kurang gegap gempita. Di sisi lain, Sekutu sudah datang dan mulai mendarat di Jakarta pada 9 September 1945 di bawah lembaga otoritas Allied Force of Netherland East Indische (AFNEI) yang dipimpin oleh Inggris. Pemerintah Republik Indonesia memilih untuk tidak menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kedatangan Sekutu ke Indonesia. Namun Malaka justru berpikir bahwa sudah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatan rakyat Indonesia.

Ia berpikir bahwa penggunaan aksi massa itu akan membuat Sekutu merasakan dukungan rakyat terhadap kemerdekaan RI. Maka pada 15 September 1945, Tan berpidato di depan Bioskop Maxim-Cikini, isi pidato terkait dengan “kemerdekaan harus dicapai dengan tangan sendiri atau dikenal dengan istilah kemerdekaan 100 persen”.

Seperti tersiram bensin, kelompok-kelompok pemuda yang pro-kemerdekaan di Jakarta, mulai bergerak. Dimulai dari kelompok pemuda yang paling menonjol keberaniannya, yaitu kelompok Menteng 31, lalu diteruskan kepada kelompok yang lebih terpelajar dan moderat, yaitu kelompok Prapatan 10. Lalu kelompok Menteng 31 mengorganisir diri mereka menjadi 11 orang yang menyebut diri mereka dengan sebutan “komite van actie”, yang kemudian menyiapkan suatu rapat besar di Jakarta.

Pada 19 September 1945, ia menggerakkan para pemuda tersebut ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas). Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan “masih sebatas catatan di atas kertas”. Tan menulis aksi itu “uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”.

Pasca-rapat Ikada, pertentangan antara Soekarno dan Hatta dengan Tan Malaka dalam memandang kemerdekaan semakin meruncing. Tan Malaka menganggap Soekarno dan Hatta telah berkolaborasi dengan Belanda dan Jepang dalam upayanya memproklamasikan Indonesia. Menurut Tan, Indonesia harus merdeka 100 persen tanpa campur tangan Jepang-Belanda yang sudah menjajah bangsa Indonesia. Tan menolak perundingan.

Perundingan baru bisa dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen dan menarik pasukannya dari wilayah Indonesia. Tan menyatakan, tak ada penjajah yang mau memberi kemerdekaan kepada wilayah yang dijajahnya. “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang merampok rumahnya. Lihatlah sejarah Diponegoro ditangkap dengan jebakan berunding, begitu juga Imam Bonjol, Belanda mau berunding karena posisinya lemah,” demikian prinsip Tan Malaka.

Sebanarnya, banyak hal yang dijabarkan Tan Malaka dalam konsep ‘Merdeka 100 Persen’ itu. Salah satu yang menarik adalah bahwa kemerdekaan haruslah 100 persen tak boleh ditawar-tawar. Sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sikap dan pandangan Tan ini rupanya sejalan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman sehingga keduanya memiliki hubungan yang dekat. Persahabatan mereka ditautkan oleh persamaan ide dan visi perjuangan, yaitu pencapaian kemerdekaan 100 persen melalui perjuangan tentara yang pantang menyerah.

Sama seperti Tan, Soedirman memiliki perbedaan sikap dengan Sukarno-Hatta tentang perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, sikap Sukarno-Hatta yang cenderung mengedepankan diplomasi dengan Belanda kurang tepat karena hasilnya sering merugikan Indonesia. Pertentangan sikap itu membuat Soedirman merapat ke Tan Malaka yang memiliki sikap yang sama; merdeka harus 100 persen dan berunding berarti tidak merdeka 100 persen. Karena itu, keduanya memilih melanjutkan perang gerilya ketimbang bertekuk-lutut di bawah kekuasaan NICA yang diboncengi kepentingan kolonialis Belanda.

Mereka berdua kerap saling berkunjung dan berdiskusi. Soedirman pernah hadir dalam kongres Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka di Purwokerto. Di kota itu, Tan Malaka mengupayakan konsolidasi 138 organisasi baik sipil maupun militer serta mengampanyekan jalan non-diplomasi demi meraih kemerdekaan 100 persen Indonesia. Dalam piatonya yang berapi-api, Tan Malaka mencatat ucapan Soedirman kala itu. “Lebih baik kita dibom atom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Tan menyatakan kepemimpinan Soekarno-Hatta telah selesai karena lebih memilih menyerahkan diri kepada Belanda ketimbang melawan dengan ikut bergerilya. Tan pun menyatakan dirinya sebagai pemimpin revolusi yang baru menggantikan Soekarno-Hatta. Hal itu sesuai dengan testamen politik yang diberikan Soekarno kepadanya. Inti testamen itu Tan Malaka bersama tiga orang lainnya adalah pengganti Soekarno-Hatta jika ada suatu hal buruk menimpa.

Kritik pedas dan pernyataan Tan Malaka sebagai pemimpin revolusi yang baru membuat Letkol Soerachmad marah besar. Letkol Soerachmad lantas memberi perintah penangkapan terhadap Tan Malaka pada 13 Februari 1949. Sejak penangkapan itu, Tan dikabarkan ditembak mati oleh tentara republik. Namun kematiannya masih diliputi misteri. Diduga, Tan meninggal di Desa Selopanggung, di Lereng Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949.

Tan meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok. Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran.

Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein. Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik.

Di samping itu, pahlawan yang beraliran sosialis dan pendiri Partai Murba ini, dikenal sebagai tokoh yang paling produktif menuliskan gagasannya. Dari sekian banyak karya besarnya, beberapa di antaranya: Parlemen atau Soviet (1920), SI Semarang dan Onderwijs (1921), Dasar Pendidikan (1921), Naar de Republiek Indonesia (1924), Semangat Muda (1925), Massa Actie (1926), Muslihat (1945), Rencana Ekonomi Berjuang (1945), Politik (1945), Thesis (1946), Madilog (1948), Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Gerpolek (1948), Proklamasi 17-845 Isi dan Pelaksanaanya (1948). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here