Tanah Prabowo, Bumerang Jokowi  

0
206

BENAR, serangan Capres Jokowi dalam debat calon Presiden kemarin mengenai tanah Prabowo, sesungguhnya menikam dirinya sendiri. Sebab, dia mempersoalkan sesuatu yang sah secara hukum.

Soal ini berawal dari perdebatan mereka mengenai reformasi agraria. Jokowi menyebutkan pemerintah telah membagikan konsesi penggarapan tanah seluas 2,6 juta hektare untuk masyarakat, mulai dari masyarakat adat, petani, nelayan, dan rakyat kecil lainnya. Ditargetkan, ke depan total luas lahan konsesi yang dibagikan mencapai 12,7 hektare. Ini adalah bagian redistribusi aset yang dilakukan pemerintah.

Prabowo mempertanyakan, kebijakan itu populer untuk satu dua generasi, karena satu saat tidak akan ada lagi tanah yang bisa dibagi. Menanggapi itu, Jokowi mengatakan dia tidak membagi-bagikan tanah untuk pengusaha besar. Tiba-tiba Jokowi mengatakan, bahwa Prabowo punya tanah yang 220 ribu hektare di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektar di Aceh.

“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan pada masa pemerintahan saya,” kata Jokowi.

Dengan menyebutnya sebagai “pembagian-pembagian”, capres petahana itu keliru besar. Karena Hak Guna Usaha (HGU) yang diperoleh Prabowo atas tanah itu bukan pembagian oleh pemerintah, seperti halnya masyarakat yang mendapat redistribusi aset dari pemerintah Jokowi. Tanah itu diperoleh Prabowo dengan cara membeli.

Adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri yang mengklarifikasi keabsahan kepemilikan Prabowo. Kalla mengatakan, sebagai Wapres di era Susilo Bambang Yudhoyono, dialah yang memberi izin penjualan HGU atas lahan 220 ribu hektare di Kaltim itu kepada dengan harga US$150 juta. “Semua sesuai aturan. Mana yang salah?” kata Wapres.

Kalau tidak ada yang salah dan semua sesuai aturan, apa alasannya dipersoalkan Jokowi? Karena itulah kita mengatakan “serangan” Jokowi kepada Prabowo itu sama dengan menyerang dirinya sendiri.

Sebab, itu membuka banyak hal tentang Jokowi. Setidaknya tentang kualitas sumber informasi Presiden mengenai masalah tersebut. Entah siapa sumber informasi itu. Mungkin berasal dari Tim Kampanye Nasional (TKN) atau sumber lain. Tapi dari mana pun sumbernya, amat disayangkan Jokowi tidak melakukan konfirmasi ke sumber di lembaga resmi –toh sebagai presiden dia bisa mendapatkan data apa pun dalam hitungan detik.

Jika kesalahan menyangkut soal data dan angka, itu sangat manusiawi. Kekeliruan Jokowi menyebut angka-angka yang berbeda dengan data resmi BPS mengenai impor beras, impor jagung atau panjang jalan desa yang sudah dibangun, mungkin tak terlalu penting dipersoalkan. Sebab, berlebihan juga mengharap orang bisa hafal deretan angka-angka secara tepat.

Tapi, ya, memang itulah risiko petahana. Dia selalu dalam posisi diserang. Karena dalam dirinya melekat hal-hal yang faktual untuk diserang. Kinerja, kebijakan bahwa cara tertawa petahana pun bisa menjadi sasaran serangan. Tidak demikian dengan capres penantang. Dia bebas menyerang, karena dia tak memiliki hal-hal faktual untuk dipertahankan.

Karena Capres Jokowi adalah juga Presiden maka dia inheren dengan kaidah-kaidah tertulis maupun tak tertulis mengenai presiden. Salah satu kaidah tak tertulisnya adalah jabatan presiden adalah posisi di mana orang tak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun. Penampilan presiden di depan publik harus tanpa cacat dan cela, karena dia mempunyai semua piranti kekuasaan yang harus bisa membuatnya tanpa cacat dan tanpa cela.

Kekeliruan sekecil apa pun dapat menjatuhkan kredibilitas presiden. Sebab kredibilitas itu antara lain diukur dari akurasi. Sebagai representasi negara, presiden dalam semua hal harus akurat.

Boleh saja petahana melancarkan serangan kepada penantang. Tapi, serangannya harus benar-benar akurat dan presisi. Kalau serangannya menimpa ruang kosong, dia akan berubah menjadi bumerang yang akan berbalik melukai dirinya sendiri.  Itulah yang terjadi dalam debat calon presiden kemarin.

Apa pun, ini harus menjadi perhatian kedua belah pihak, bahwa dalam tiga debat yang masih tersisa, pertarungan akan benar-benar mematikan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here