Heboh Yerusalem Ibu Kota Israel (2)

Tanda-tanda Keruntuhan Trump dan Yahudi Dunia

0
475
Foto: Getty Images

Nusantara.news – AS memveto rapat Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), padahal semua negara anggota (termasuk Inggris) telah menegaskan tentang Resolusi PBB yang terdahulu, yakni Yerusalem sebagai kota internasional. Dubes AS untuk PBB langsung memveto resolusi yang menjadi resolusi baru (20 Desember 2017).

Bill Clinton dan Barack Obama, dua mantan presiden AS, menganggap ini adalah keputusan Presiden AS terbodoh karena walaupun sudah dikuatkan konstitusi AS, tapi dunia melawan sehingga PBB bersikap bijak.

Lebih jauh, Trump malah justru berniat memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Bahkan Inggris (sebagai sokoguru Yahudi dunia) melalui Perdana Menteri Theresa May tidak setuju keputusan Trump tersebut karena akan menimbulkan kegaduhan dunia.

Negara Islam bersikap

Negara-negara Islam dunia, khususnya Timur Tengah bersatu untuk menentang kebijakan Trump. Palestina, baik Fatah maupun Hamas dan secara resmi dari Presiden Mahmoud Abbas, mengumumkan jihad dimulai dengan gerakan ‘Intifadah’ dan serangan fisik sudah dimulai Israel. Arab Saudi yang semula pendukung Israel dan AS, bersama Qatar sekarang mengecam secara terbuka. Turki dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan, berinisiatif mengumpulkan negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerja sama Islam) untuk berkumpul dan bersikap, pada tanggal 13 Desember di Istanbul, Turki.

Bagi Erdogan yang berambisi menjadi pemimpin Islam, ini adalah momentum terbaik karena dia didukung oleh negara-negara besar berpenduduk Muslim, tidak peduli apa ideologinya. Mereka bersatu, Iran (Syiah), Arab Saudi (Wahabi), dan berbagai negara Sunni menghadiri pertemuan tersebut. Tercatat ada Yaman, Jordania, Qatar, Suriah, Irak, Palestina, Malaysia, Mesir, dan Indonesia.

Presiden RI Joko Widodo mengecam kebijakan Trump tersebut sehari setelah diumumkan, Jokowi kemudian hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa negara-negara Muslim (OKI). Negara-negara besar di benua Eropa, baik dari Uni Eropa, Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Hungaria, Belanda, dan Rusia mengecam keras kebijakan Presiden AS tersebut.

Kebijakan terbodoh Presiden Trump

Pendudukan Israel terhadap negara Palestina sampai saat ini masih belum selesai. AS lalu menjadi “juru damai”, tapi Trump dengan kebijakannya justru memihak kepada salah satu. Dunia pun bersatu untuk menentang AS dan Palestina bangkit melawan dengan dukungan negara-negara dunia.

Jika Palestina kelak merdeka, negara tersebut akan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota, karena diyakini sebagai Kota Suci. Selain bagi umat Islam, Yerusalem memang dianggap sebagai Kota Suci bagi umat Kristen dan Yahudi. Saat ini, di Yerusalem Timur terdapat Masjid Al-Aqsa, masjid yang sangat bersejarah bagi umat Muslim dan menjadi objek wisata spiritual umat Islam sedunia. Apalagi Yerusalem dulunya adalah kiblat utama umat Islam sebelum kemudian dipindahkan ke Kabah (Mekah). Jadi, bagi umat Islam dunia, kota Yerusalem sangatlah bersejarah.

Sementara itu, dalam politik Islam, kaum Yahudi adalah musuh bebuyutan sejak era Nabi Muhammad, (Rasulullah Saw.) dan ini termaktub dala kitab suci al-Qur`an maupun Hadits yang diyakini oleh umat Islam.

Kita tahu tentang Freemason dan Protocol Zion yang bermula sejak awal abad ke-19, dimana umat Yahudi ingin menguasai dunia dan Israel sebagai negara harus memiliki tanah air. Klaim Israel terhadap sebagian wilayah Palestina menjadi sengketa yang tidak kunjung terselesaikan hingga sekarang. Kita memahami kebesaran Rothschild, JP. Morgan, dan keluarga Rockefeller sebagai penguasa keuangan global menentukan arah perkembangan politik dan ekonomi dunia. Kepemilikannya terhadap bank-bank sentral dunia, termasuk The Fed (AS), Citibank, Chase Manhattan, Goldman Sachs, Lehman Brothers, Wardenburg, dan Deutsche Bank, menunjukkan bahwa keluarga Yahudi tersebut adalah raksasa keuangan dunia yang menentukan hitam putih ekonomi dunia.

Namun ketika AS pada tahun 2008 mengalami krisis yang disebabkan oleh Subprime Mortgage, kemudian menghancurkan Lehman Brothers, salah satu sokoguru keuangan Yahudi global. AS sampai saat ini belum pulih secara total, sementara Cina bangkit dan berada di peringkat satu perdagangan dunia.

Trump, pada saat kampanye terakhir Pilpres AS 2016, mengecam keterlibatan AS dalam perjanjian multilateral, dia berjanji akan mengutamakan kepentingan nasional yang populer kala itu dengan jargon “America First”. Dunia pun terkejut dan memprediksi Trump effect akan menghancurkan ekonomi Cina serta mempertahankan posisi AS sebagai raksasa ekonomi dunia.

Gejala kemenangan Trump waktu itu diisukan sebagai populisme global yang mengoreksi sistem demokrasi dan kapitalisme global, dengan AS berkonsolidasi dan mengutamakan kepentingan dalam negeri sendiri.

Saat itu, gerakan populisme menjadi tren dunia, khususnya di Eropa. Tercatat, Inggris keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan istilah Brexit (British Exit). Tapi faktanya, Brexit malah menjadi kebijakan ragu-ragu pemerintah Inggris. Negara lain seperti Perancis, Italia, Belanda, Austria, Jerman juga sebenarnya saat itu tengah populer dengan gerakan ‘populisme’. Tapi ketika kebijakan Trump di AS justru tidak populer, berekses pada gagalnya gerakan populisme di Eropa.

Yahudi iri dengan keberhasilan Jerman di Uni Eropa

Uni Eropa ternyata membuat Jerman bersatu menjadi raksasa Eropa sehingga Inggris tergeser dari negara terbesar Eropa. Kita tahu bahwa penguasa keuangan global berawal dari Inggris (Rothschild), Jerman (Hitler) yang pernah melakukan genosida umat Yahudi pada Perang Dunia II di Eropa.

Elite Yahudi di berbagai negara Eropa melakukan gerakan perlawanan dengan skema populisme yang seolah-olah anti-demokrasi dan kapitalisme. Elite Yahudi ingin mengevaluasi kapitalisme karena sudah tidak efektif lagi untuk menguasai ekonomi dunia. Mulai ada elite Yahudi yang meragukan “kesaktian” The Fed untuk mengatur keuangan global, karena beberapa kali dilakukan penyesuaian suku bunga tidak berdampak signifikan sebagai serangan moneter, khususnya terhadap Cina, Jerman, dan Rusia.

Sementara, lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia tidak lagi efektif untuk pengendalian negara berkembang. Begitu juga ekonomi portfolio setelah krisis 2008, surat utang, obligasi, saham, dan valuta asing tidak lagi menjadi senjata ampuh bagi elite keuangan global.

Sementara itu, ternyata sektor riil, termasuk di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, telah dikuasai oleh Cina melalui Skema One Belt One Road (OBOR).

Kapitalisme Negara (State Capitalism) menjadi momok bagi AS dan elite keuangan global, sehingga dunia penuh ketidakpastian secara ekonomi.

Bandulan ekonomi dunia pun berubah ke Timur. Oleh karena itu, untuk mengamankan sekutunya dari ancaman Cina (Korea Selatan dan Jepang) dibuatlah konflik di Asia dengan fokus Laut Cina Selatan, dan nuklir Korea Utara menjadi alasan. AS lalu memberi sanksi kepada negara komunis yang didukung Cina itu.

Cina memahami Korea Utara sebagai ‘sasaran antara’ karena perselisihan sebenarnya fokus pada siapa yang menguasai Kepulauan Spratly yang saat ini diklaim sebagai wilayah Cina dan beberapa negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Vietnam, serta Filipina.

Seperti diketahui, Kepulauan Spratly menjadi incaran karena merupakan cadangan migas nomor 4 terbesar di dunia.

Trump salah langkah dan ambil muka pada elite Yahudi

Carl Icahn (konglomerat Yahudi) adalah yang mendorong Trump untuk maju pada Pilpres Amerika Serikat pada tahun 2016 dan kemudian menang dari seteru Partai Demokrat, Hillary Clinton. Icahn saat ini menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden Trump. Icahn juga merupakan mitra elite keuangan global seperti keluarga Rothschild, JP. Morgan, dan Rockefeller. Icahn juga merupakan elite Yahudi pendukung Partai Republik, bersama mereka berpartner dalam kepemilikan Freeport dan sejumlah raja korporasi minyak dan tambang dunia seperti Newmont dan ExxonMobil, yang tergabung dalam Seven Sisters.

Elite Yahudi, dimotori AS akan melakukan serangan dengan menggunakan momentum kelangkaan energi dan pangan dunia di tahun 2030. Kita tahu, bahwa untuk energi fosil stok terbesar ada di AS dan EBT (Energi Baru Terbarukan) terbesar juga milik AS (shale gas). Diprediksi, bahwa pada tahun 2030 energi fosil bakal langka dan dunia akan mengalami krisis energi. Pada saat itulah, AS akan masuk ke pasar dunia dengan shale gas yang dimilikinya.

Di sisi lain, Cina dengan jumlah penduduk 1,4 miliar saat ini dan mungkin mencapai 1,6 miliar pada tahun 2030  tentu khawatir jika hal tersebut terjadi. Oleh karena itu, Cina  menimbun batubara, migas, dan perlu membangun jaringan sebagai jalur migas. Dari Cina kita pun mengenal Jalur Sutra Baru (New Silk Road), Cina membangun pipa migas dari negara produsen di Asia dan Timur Tengah. Dan yang paling mengherankan, justru British Petroleum (BP) menjadi partner strategis Cina dalam hal ini. Padahal, BP selama ini adalah bagian dari Seven Sisters (Yahudi), dan Inggris yang merupakan sokoguru Yahudi justru malah menjadi partner utama Cina.

Peta persaingan global menjadi tidak pasti karena masing-masing negara membuat prioritas untuk negara masing-masing. Bisa dikatakan bahwa elite global Yahudi tidak lagi kompak, karena di AS sendiri justru mereka “memukul” Trump, seperti Warren Buffett (orang terkaya nomor dua dunia). Proses impeachment terhadap Presiden Trump yang saat ini mencuat di AS juga disponsori oleh elite Yahudi, khususnya dari Partai Demokrat.

Tercatat sejumlah kegagalan Trump dalam kebijakannya yang tidak menguntungkan kelompok Yahudi, misalnya soal pelarangan migran negara-negara mayoritas Muslim dan Hispanik, membangun tembok batas dengan Meksiko, menghidupkan kembali nuklir Iran, dan netralnya Arab Saudi serta Qatar sekarang dari paham Wahabi (ciptaan Yahudi). Terlebih sekarang, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud melalui putra mahkotanya, Muhammad bin Salman, berani menghukum Pangeran Alwaleed bin Talal, (orang terkaya di Arab Saudi dan sekutu Yahudi) yang saat ini masih menjadi tahanan pemerintah Arab Saudi dengan tuduhan korupsi.

Perubahan geopolitik di Timur Tengah dapat dilihat dari pertemuan negara-negara Muslim dalam KTT Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki 13 Desember 2017. Banyak negara Islam bereaksi untuk mengirim pasukan tempur ke Palestina, termasuk Malaysia dengan paham Islam moderat.

Banyak pengamat menilai bahwa Trump telah “kehilangan jurus” sehingga menjadi pecundang dengan mendukung Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel. Kebijakan yang sejatinya dihindari oleh seluruh Presiden AS terpilih walaupun didukung oleh Konstitusi AS.

Memang, Trump sangat rasional tapi tidak bijak karena tidak memiliki pengalaman politik yang cukup, yang dominan tampil adalah karakter sebagai konglomerat (korporasi).

Bagi Israel, tentu menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota telah final, karena merupakan opsi terakhir. Jadi, bagi Israel pintu damai untuk Palestina sudah tertutup. Tentunya, jika hal itu didukung oleh PBB dan negara-negara besar. Maka kita akan melihat, apakah bakal ada perlawanan dari negara-negara Islam dalam membela Palestina, bersatu melawan Israel, khususnya Arab Saudi, Iran, dan Turki?

Dari sidang DK PBB, terlihat jelas AS terkucil karena Inggris (saudara tua) juga sepaham dengan 13 negara anggota Dewan Keamanan lainnya. Trump telah membawa AS dan Yahudi ter-downgrade, dengan kebijakan yang tidak populer dan terkesan bodoh. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here