Tangkal Teror, Hidupkan Siskamling

0
51
"Siskamling atau Ronda harus digalakkan kembali"

Nusantara.news, Surabaya – Salah satu budaya luhur milik bangsa Indonesia yang tidak ditemui di negara lain adalah kegiatan ronda atau Siskamling. Tengah malam sekelompok orang berkeliling kampung memastikan wilayah atau daerah pemukimannya aman. Meski tujuannya menjaga keamanan, ronda juga memiliki banyak fungsi termasuk ajang saling kenal dan berbagi cerita. Tempat sejumlah orang bertemu sebelum dan setelah melakukan ronda, di bangunan pos ronda.

Namun, budaya guyub itu saat ini semakin pudar. Pranata kehidupan masyarakat seperti itu pudar dan ditinggalkan. Banyak alasan yang muncul selain kesibukan dan aktivitas sehingga tidak bisa melakukannya. Mereka terjebak model hidup individu, tidak lagi sempat memperhatikan perkembangan lingkungan juga tetangganya. Kegiatan ronda hilang berganti dengan Satpam yang menerima bayaran. Bisa jadi petugas itu tidak bekerja secara sukarela menjaga keamanan daerahnya, sehingga tak mungkin terpikir munculnya risiko sekecil apa pun.

Masyarakat mulai terbawa pola membatasi bergaul dan ironisnya ada yang tidak saling mengenal atau memahami meski mereka bertetangga di satu RT atau perumahan. Juga tidak mustahil banyak di antara mereka menggeleng kepala saat ditanya tentang kegiatan sehari-hari tetangganya.

Kampung Aman Harus Diwujudkan

Menumbuhkan kampung aman harus dilakukan dan ditularkan ke daerah lain, bentuknya bisa dilakukan dengan menggelar lomba. Seperti yang pernah dilakukan oleh Polres Gresik  beberapa tahun lalu dengan menggelar Lomba Cipta Kampung Aman (LCKA), tujuannya melatih dan meningkatkan kepedulian masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan lingkungan.

Selain di Gresik, LCKA juga pernah dilakukan di Dusun Kemiri RT 22/05 Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek. Pejabat yang hadir dan dewan juri memberikan semangat, mereka sepakat perlu terus menjaga kondisi kampung yang aman. Sejumlah wilayah lain juga banyak yang melakukan itu, dan itu memang harus dicontoh dan digalakkan.

Bom Surabaya Tamparan Menyakitkan

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan (Foto: Tudji)

Ledakan bom di tiga gereja di Surabaya bisa jadi tamparan menyakitkan, imbasnya muncul ketakutan di masyarakat. Selama ini Surabaya dan Jatim dikenal sebagai wilayah aman dari berbagai peristiwa negatif. Insiden Minggu pagi itu tak hanya membuka mata dalam negeri, tetapi juga mata dunia internasional. Tak heran banyak yang kaget keamanan di Surabaya tercabik, jebol oleh ulah teror.

Hingga dua hari pasca peristiwa ledakan rasa takut masih menghantui warga. Sejumlah pusat perbelanjaan tak seperti biasanya, kondisinya sepi. Bahkan, etnis China yang biasanya ramai berkeliaran di Kota Surabaya, mendadak sepi. Sejumlah ruas jalan pun tak banyak lalu lalang warga kulit putih beraktifitas, tak salah jika mereka juga ketakutan. Petugas mulai meningkatkan personil pengamanan. Tak hanya disiagakan di gereja, pusat perbelanjaan, tetapi juga di obyek vital yang tidak boleh ada gangguan keamanan.

Sepinya pusat belanja saat itu, diakui oleh pengelola pusat perbelanjaan Tunjungan Plasa di Jalan Basuki Rahmat. Pasca ledakan bom suasana sepi ikut mempengaruhi kedatangan pengunjung.

“Terasa dampaknya, bazar yang biasanya ramai kini sepi pengunjung, tidak banyak yang datang,” terang Humas TP Surabaya, Amanda.

Tak hanya TP, kondisi serupa juga terjadi di Royal Plaza dan Pasar Atom. Salah satu pusat grosir terbesar di Surabaya, Pasar Atom juga tak disambangi pengunjung sepanjang hari. Berbanding terbalik dengan hari-hari biasa yang selalu berjejal pengunjung.

“Mal sepi, di jalanan depan mal juga lengang tidak padat seperti hari-hari biasanya,” terang Humas Royal Plaza, Rani.

Melina, Humas Pasar Atom menyebut pagi itu banyak toko tutup dan pengunjung berkurang drastis tidak seperti Minggu biasanya sebelum terjadi peristiwa ledakan. Banyak pemilik toko memilih tutup, pengunjung juga berkurang. Itu berbeda dengan hari biasa yang bisa sampai empat kali lipat jumlah pengunjungnya.

Bandara Juanda juga meningkatkan pengamanan dan kewaspadaan. PT Angkasa Pura I (Persero) pengelola Bandara Juanda melipatkan jumlah petugas keamanannya. Dari 216 personel menjadi 723 personel dan disebar di semua sudut guna meningkatkan pengawasan.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi saat itu melansir, jumlah petugas keamanan dilipatgandakan dua kali lipat pasca peristiwa pengeboman tiga gereja. Faik menyebut, petugas keamanan yang diturunkan total 3.835 personel. Selain berjaga di setiap sudut juga disiagakan di beberapa posko yang jika diperlukan bisa bergerak cepat.

“Peningkatan pengamanan juga pemeriksaan akan berpotensi menimbulkan penumpukan. Sebab, frekuensi proses pemeriksaan termasuk kendaraan yang akan masuk bandara juga diperketat. Kita harap agar calon penumpang pesawat tiba di bandara tiga jam sebelum jadwal keberangkatan,” ujarnya.

Pengamanan Pelabuhan Tanjung Perak juga di perketat. Saat itu, PT Pelindo III, selain menambah jumlah petugas juga melakukan koordinasi dengan satuan TNI-Polri. Petugas yang diterjunkan di antaranya dari Port Facility Security Officer (PFSO), quality, health, safety, security and the environment (QHSSE), dan Shiftman on Duty.

Corporate Secretary Pelindo III Faruq Hidayat menyebut, masing-masing gugus tugas fokus pada obyek pengamanan yang berbeda. PFSO untuk pengamanan fasilitas pelabuhan secara umum. QHSSE bertugas mengontrol keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan kerja.

“Juga Shiftman on Duty untuk memastikan kinerja operasional bongkar muat tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Tujuannya, kegiatan bisnis tetap berjalan lancar, Pelindo III juga fokus bertugas menjaga efisiensi logistik,” terang Faruq.

308 Triliun Investasi di Jatim Terancam Hilang

“Investasi PMA mencapai Rp308 triliun terancam hengkang” (Foto: Tudji)

Gubernur Jatim Soekarwo tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya, akibat ledakan bom diakui perekonomian Jatim ikut terguncang. Di kesempatan buka puasa di Gedung Negara Grahadi, Soekarwo, Sabtu (26/5) kemarin, Pakde Karwo menyebut jumlah investor dalam dan luar negeri naik, itu yang sudah mengurus ijin prinsip, meminta kepastian jaminan keamanan.

“Mereka sudah mengurus ijin prinsip, dan meminta kepastian keamanan sampai 30 Mei mendatang, bayangkan guncangan peristiwa ini begitu terasa,” ucap Pakde Karwo.

Pakde Karwo menyebut nilai investasi dari PMA yang akan menanamkan modalnya mencapai Rp 248 triliun dan dari PMDN mencapai Rp 60 triliun, total ada Rp308 triliun.

“Kalau kita tidak bisa meyakinkan, maka tidak menutup kemungkinan investasi 308 triliun itu akan lari, berpindah. Tapi yang PMDN Rp 60 triliun itu cenderung landing karena mereka sudah tahu kondisi Indonesia dan lain sebagainya,” terang suami Nina Soekarwo itu.

Lanjutnya, investor PMA akan bertemu 30 Mei mendatang di Hotel Majapahit. Mereka meminta penjelasan dan kepastian tentang kondisi keamanan di Jatim serta pengaruhnya pasca ledakan bom terhadap investasi di Jatim.

“Para investor ingin menanyakan kondisi keamanan di Jatim. Sebab selama ini aman-aman saja dan tidak pernah terjadi peristiwa besar seperti kemarin, serangan bom bunuh diri di gereja,” jelasnya.

Guna memastikan itu, Pakde Karwo akan mengajak Kapolda dan Pangdam V/ Brawijaya untuk membeber kondisi wilayah yang dipimpinnya. Pakde Karwo mengaku akar persoalan telah dipahami, tinggal pendekatan, sentuhan dan pendekatan untuk memberikan pemahaman kepada calon investor, termasuk resep dari Presiden Jokowi, juga akan disampaikan.

PMA paling besar adalah Singapura, kemudian dari Jepang, Malaysia, China, Inggris dan negara lainnya. Investasinya berupa chemical, oil and gas misalnya di Sitibondo. Yang besar perusahaan Rosnaft dari Rusia di bidang oil and gas akan bekerjasama dengan PT Pertamina untuk pembangunan proyek di Tuban dengan nilai investasinya mencapai kisaran Rp 190 triliun.

“Untuk Rosnaft akan kita jelaskan tentang jaminan tanah dan pelabuhan. Kalau bulan Juni dan Juli tidak ada realisasi tentang tanah maka mereka bisa pindah. Makanya saya segera ke Jakarta menemui salah satu menteri karena masih ada yang nyantol (bermasalah),” beber Soekarwo.

Soal jaminan keamanan, Pakde Karwo mengatakan tidak bisa menjamin seperti halnya jaminan keamanan gedung. Karena itu soal kualitatif dan menjadi kewenangan pengendali yakni polisi dan TNI.

Spanduk Hujatan dan Lawan Terorisme

Kepanikan, kemarahan campur aduk menghantui benak warga Kota Surabaya. Tanpa ada komando, dipastikan pemikiran mereka sama mengutuk pelaku teror bom dan muncul semangat untuk melawan. Sejak peristiwa keji dan mengerikan itu, di sejumlah sudut dan banyak tempat muncul spanduk bertuliskan kalimat kecaman, mengutuk dan ‘melawan’ aksi teror di antaranya ada kalimat ‘Teroris Jancok’ dan ‘Saya tidak takut, lawan terorisme’.

Salah satunya di lakukan warga di Jalan Ngagel, di perkampungan padat itu terpasang spanduk bertuliskan ‘Teroris Jancok, Ayo Kita Lawan’ ditulis dengan cat hitam dan merah dikaitkan di kedua pohon, dan mudah terbaca oleh pengendara yang melintas.

“Kami Tidak Takut Teroris Jancok” picbon.com

“Sengaja kita pasang sebagai ungkapan kekesalan terhadap pelaku teror,” ujar Arifin warga setempat.

Mewakili warga di kampungnya pemuda itu mengaku geram dan mengutuk pelaku teror. Bahkan, dia mengaku siap melawan terhadap para pelaku teror.

Rangkaiannya, sejumlah kampung di Surabaya menyepakati menghidupkan kembali penjagaan kampung dengan Siskamling. Itu untuk mengantisipasi munculnya gerakan teror dan masuk ke kampung.

Sehari setelah itu, melalui Surat Edaran Walikota Surabaya No.300/4193/436.8.4/2018, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan jajaran Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) menghidupkan Siskamling serta mengaktifkan kembali program swadaya masyarakat, melalui Pam Swakarsa.

Menindaklanjuti itu, di Kelurahan Pakis misalnya, yang setiap RT menerima SE Wali Kota Surabaya langsung melaksanakannya. Slamet Juliono, Ketua RT 02/RW 06, Kecamatan Sawahan misalnya mengaku langsung melaksanakannya.

“Setelah terima SE Wali Kota Surabaya, kita langsung sosialisasikan dengan menghidupkan Siskamling, kita buat jadwal untuk seluruh warga,” ujar Slamet, warga Kembang Kuning Kulon.

Per tanggal 23 Mei 2018, di kampung itu mengaktifkan Siskamling dan meningkatkan kewaspadaan. Termasuk mendata jika ada tamu yang menginap dengan mencatat identitas KTP. “Aturan kita tegakkan dengan mencatat identitas KTP bagi tamu yang menginap 1X24 jam,” tambahnya.
Setiap RT, juga warga diminta untuk memberikan laporan jika menjumpai ada indikasi yang janggal termasuk jika ada warga asing masuk ke lingkungan kampung mereka.

“Kami langsung bergerak cepat selain menyampaikan SE Wali Kota Surabaya, juga untuk mempersempit ruang gerak teroris dengan meningkatkan kewaspadaan terutama di tingkat RT,” tambah Imam.

Semua Eleman Harus Gandengan Tangan

Pasca peristiwa ledakan bom di tiga gereja, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan melangkah tegas, bersama TNI membentuk pengamanan petugas gabungan, dari polisi dan TNI, serta elemen samping termasuk untuk menjaga dan memulihkan keamanan di gereja.

“Itu bertujuan untuk memberi rasa nyaman bagi semua warga, termasuk masyarakat yang akan ke gereja,” ucap Kombes Pol Rudi, di GKI Diponegoro satu minggu pasca ledakan.

Dikatakan, rasa aman dan nyaman harus terus ditumbuhkan kepada masyarakat, agar kembali percaya situasi telah kembali normal, termasuk bisa menjalankan ibadah. Rudi menambahkan, pengamanan akan diberlakukan kapan pun untuk mengembalikan situasi aman.

“Sampai kapan pun, kami selalu hadir mengamankan. Hadir pula partisipasi masyarakat, ada PSHT, Bonek, juga Banser ikut hadir. Arek Suroboyo saling berpegangan tangan, memberikan rasa nyaman untuk warga yang lain,” terang Kombes Pol Rudi.

Dia menyebut Arek-Arek Suroboyo akan terus saling berpegangan tangan untuk menjaga dan mengamankan kegiatan gereja dan memberikan rasa nyaman bagi warga. Sementara, untuk tiga gereja yang terdampak bom, Kombes Pol Rudi menurunkan personelnya lebih banyak, itu untuk memupuk rasa nyaman bagi umat gereja.

“Kami ingin menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi jemaat juga seluruh warga, bahwa kondisi sudah normal,” tegasnya.

MUI Kutuk Pelaku Bom

Terkait peristiwa keji peledakan bom gereja di Surabaya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras. “Tindakan tersebut di luar nalar akal sehat dan sudah melampaui batas nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangan tertulisnya. Zainut menyebut, pelaku peledakan bom di Surabaya patut diduga sebagai orang yang tidak beragama dan sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan.

MUI meminta aparat keamanan menumpas jaringan teroris di Indonesia karena akan menjadi ancaman serius bagi keamanan negara dan masyarakat. Zainut juga mengingatkan aksi terorisme di Indonesia masih memiliki akar kuat dengan jaringan terkait terorisme Internasional.

“MUI meminta kepada aparat keamanan untuk menangkap dalang aksi teror tersebut dan membasmi sampai ke akar-akarnya,” pintanya.

Kembali mengingatkan, peristiwa bom di tiga gereja di Surabaya diledakkan di GKI di Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, dan di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Pasca peristiwa itu Presiden RI Joko Widodo, didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Menteri Polhukam Wiranto dan sejumlah pejabat lainnya datang meninjau lokasi ledakan.

Kepolisian melansir, pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dilakukan oleh satu keluarga. Mereka dari jaringan Jamaah Ansharul Tauhid (JAD), dibawah kendali Dita yang meledakkan diri dengan menabrakkan mobil yang ditumpangi hingga menimbulkan ledakan hebat.

Tentu semua berharap peristiwa keji yang terjadi di Surabaya tidak terulang, termasuk di daerah lain di Indonesia. Gerakan menghidupkan kembali Siskamling dan mengaktifkan ronda keliling menjadi langkah awal deteksi dini. Peran Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dari Polri serta Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari kesatuan TNI-AD ikut berperan melakukan deteksi dini, dan masyarakat juga harus ikut mendukung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here