Tangkap Setya Novanto Sebelum Berulah Lagi

0
257

Nusantara.news, Jakarta – Layaknya kucing dan tikus, perseteruan antara Setya Novanto dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memasuki babak yang menegangkan. Tadi malam (Rabu, 15/11), setelah delapan kali mangkir dari sebelas panggilan KPK, penyidik lembaga antirasuah ini akhirnya mendatangi rumah Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk menjemput paksa. Tapi, yang dicari tidak ada. Novanto telah menghilang.

Namun begitu, upaya penangkapan Novanto yang dilakukan oleh KPK malam itu langsung menelanjangi Novanto yang sesungguhnya. Bahwa dia adalah makhluk biasa, ia bukan siapa-siapa di depan hukum. The power of Setnov atau kesaktian “sang papa”, tampaknya akan segera menemukan hari apesnya.

Semua kebesaran dan kewibawaan seorang Novanto yang dengan gigih dibela oleh sebagian besar anggota DPR, Kesekjenan DPR, kuasa hukum, kader-kader loyalnya di Partai Golkar, dan masih banyak lagi pendukungnya, lenyap dalam sekejap. Segala perisai itu, yang ia gunakan untuk memukul balik KPK demi keselamatan pribadi dan jabatannya, kini ia tinggalkan dalam pusaran beban dan cela yang mahaberat.

Raibnya Novanto juga menambah aib dua lembaga yang diembannya (DPR dan Golkar) itu: DPR yang terhormat tersungkur dalam kehinaan yang semakin dalam, partai Golkar yang digadaya terbelenggu menjadi “kacung” dan tak berdaya. Novanto telah menyeret DPR dan Golkar pada situasi yang pelik dan pragmatis. Sementara  dirinya, selain tak memberi contoh baik karena tak taat hukum dan raib meninggalkan aib, juga menjadi bulan-bulanan publik. Tak sedikit para netizen yang mengejeknya dengan sejumlah meme dan bahan candaan di media sosial.

Perihal ini, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfu MD mengaku amat prihatin. “Selama ini, sebulan terakhir ini bangsa kita diejek oleh bangsa lain dan diejek oleh rakyatnya sendiri karena seakan-akan negara ini tidak mampu dan seakan-akan diakali oleh seorang bernama Setya Novanto. Itu semua adalah ejekan rakyat, ejekan media kepada kita. Oleh sebab itu jangan main-main,” kata Mahfud.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga angkat bicara soal menghilangnya Novanto ketika penyidik KPK menyambangi rumahnya. Menurut Kalla, tak pantas tindakan seperti itu dilakukan seorang pimpinan tertinggi dari lembaga wakil rakyat tersebut.

Dikawal Brimob, Penyidik KPK Datangi Rumah Novanto kemarin malam (Rabu, 15/11)

“Jangan seperti ini, ini kan tindakan yang menjadi tanda tanya untuk semua masyarakat, bagaimana kewibawaan seorang pemimpin begitu. Kepemimpinan harus taat kepada hukum dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Kalau lari-lari begini bagaimana dia bisa dipercaya, kan,” tegas Kalla di JI-EXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/11).

Sejumlah Kasus Novanto

Sosok Novanto memang dikenal sebagai politisi yang kontroversial dan “licin”. Namanya sempat bneberapa kali disebut-sebut dalam banyak kasus tapi selalu lolos dari jeratan hukum. Di awal masa jabatannya sebagai Ketua DPR, Novanto terlibat skandal kasus “papa minta saham”. Ia juga dikenal sosok yang haus kekuasaan, karena menggulingkan Ketua DPR Ade Komarudin. Kala itu, Novanto telah mundur dari Ketua DPR, namun kembali berhasrat ingin kembali menduduki kursi pimpinan parlemen usai terpilih sebagai Ketua Umum Golkar.

Jejak korupsi yang membelit Novanto sebenarnya tak hanya dalam perkara e-KTP. Nama Novanto sudah muncul dan dikaitkan dengan perkara korupsi sejak 2001. Pada tahun itu, Novanto disebut pertama kali oleh jaksa dalam sidang terkait kasus hak tagih piutang Bank Bali. Kasus itu menyebabkan kerugian negara nyaris Rp 1 triliun dari total tagihan sebesar Rp3 triliun.

Nama Novanto juga disebut-sebut terlibat dalam penyelundupan beras impor dari Vietnam sebanyak 60.000 ton. Novanto hanya pernah diperiksa sekali oleh Kejaksaan Agung, yakni pada 27 Juli 2006.

Selain dua perkara hukum di atas, nama Novanto sering disebut dalam dua kasus di KPK, yakni kasus PON Riau dan kasus suap Ketua MK Akil Mochtar. Dalam kasus suap pembangunan venue PON Riau 2012, KPK mendalami keterlibatan Novanto dengan menggeledah ruangan Novanto di lantai 12 Gedung DPR. Penggeledahan itu adalah upaya mengembangkan kasus yang sudah menjerat mantan Gubernur Riau Rusli Zainal, yang juga politikus Partai Golkar.

Kehadiran Ketua DPR Setya Novanto pada Kampanye Donald Trump di Amerika Serikat, menuai polemik di tanah air

Tak hanya kasus hukum, Novanto juga pernah terseret persoalan etika. Ia diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meminta jatah saham PT Freeport Indonesia. Sebuah rekaman yang berisi percakapan Novanto bersama pengusaha minyak Riza Chalid dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menjadi alat buktinya. Rekaman itu mengungkap Novanto dan Riza meminta saham kepada Maroef. Kasus yang menyita perhatian publik ini dikenal dengan istilah “papa minta saham”.

Novanto juga sempat membuat heboh publik tatkala hadir dalam kampanye bakal calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump. Dia diduga melanggar etika sebagai wakil rakyat. Sebab, kunjungan resminya ke Amerika itu menggunakan uang negara tetapi di sisi lain digunakan untuk menghadiri kampanye Donald Trump.

Tampaknya, Novanto masih akan bertahan. Entah dengan langkah apa lagi yang akan diambil Novanto di tengah pelariannya itu. Yang jelas, jika Novanto tak mau menyerah, maka KPK malam ini, Kamis, 16 November 2017, akan menetapkan Novanto sebagai buronan dengan menerbitkan daftar pencarian orang alias DPO. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here