Tantangan Dunia Pendidikan Era Milenial

2
626
Ilustrasi tentang hal-hal di seputar pelajar milenial

Nusantara.news, Jakarta – Kemarin, Rabu (2/5) bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang diambil dari tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara – alias Soewardi Soerjaningrat pada tanggal 2 Mei  1889. Pembentukan karakter merupakan hal yang penting dalm pendidikan yang ditekankan oleh tokoh pendidikan nasional kita ini.

Sekarang tentu saja tantangan pendidikan lebih kompleks – terutama dalam membentuk karakter sebagaimana yang diinginkan Ki Hadjar Dewantara dalam mendidik generasi muda. Bangsawan dari Pura Pakualaman ini menekankan kepada – khususnya tenaga pendidik – di  depan harus memberikan keteladanan  atau ing ngarso sung tuladha, di tengah membangun kehendak atau ing madya mangun karsa, dan di belakang memberikan penguatan atau tut wuri handayani.

Pembentukan karakter itu penting terutama dalam menghadapi beragam tantangan bangsa Indonesia ke depan – untuk senantiasa bersikap optimis dan terus berjuang memajukan harkat dan martabatnya baik sebagai individu maupun sebagai komunitas manusia yang berhimpun dalam satu banga – bangsa Indonesia.

Peradaban Hilang Adab

Imajinasi kebangsaan sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 mesti selalu dijadikan pedoman – terutama dalam memaknai jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Dengan cara apa? Tentu saja dengan cara mendidik tunas bangsa di bangku-bangku sekolah – sejak pendidikan usia dini, taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga jenjang perguruan tinggi.

Peradaban akan kehilangan adab apabila meninggalkan nilai-nilai hakiki kemanusiaan yang menyangkut pengembangan potensi diri, solidaritas kepada sesama, dan kemampuan berlaku adil dalam menghadapi berbagai silang sengketa. Semua itu bisa terjadi apabila masing-masing manusia Indonesia mempu menggunakan akal sehatnya dalam berinteraksi dengan sesamanya.  Berpikir terbuka dan tidak terperangkap dalam kesesatan prasangka.

Namun peradaban yang kehilangan adab itu kini menjadi tantangan bersama, bukan saja oleh bangsa Indonesia – melainkan hamper semua bangsa di dunia. Iklim kesenjangan sosial yang nyaris merata hampir di semua negara, perkembangan teknologi informasi yang massif dan hadir tanpa jeda untuk sekedar menelaah dan menyikapinya, telah melibas semua tatanan dan nilai-nilai yang selama ini mempersatukan umat manusia.

Buku Global Pradox

Global Paradox yang ditulis penulis Amerika Serikat John Naisbitt – diterbitkan tahun 1994 sebelum teknologi informasi berkembang secara massif seperti sekarang ini –  adalah munculnya hal yang tidak disangka-sangka, termasuk bangkitnya politik identitas di berbagai belahan dunia. Maraknya teknologi informasi – terutama dengan maraknya sosial media – membuat informasi yang terpapar ke publik tidak terverifikasi oleh ahli di masing-masing bidang yang diinformasikan membuat ruang publik terlihat rusuh dan anarkis. Masyarakat sulit memnedakan lagi mana informasi yang benar dan mana yang hoak.

Tabbayun, atau menelaah kebenaran suatu informasi sebagai nilai-nilai yang diwariskan oleh tradisi Islam nyaris dilupakan. Maka tidak mengherankan, sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media belakangan ini, tercatat 66 persen generasi milenial di Amerika Serikat percaya dengan teori bumi datar. Karena dalam arus lilu lintas informasi yang serba bergegas ini “meme-meme” yang lebih eye catching dengan bahasa provokatif lebih cepat viral dan diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh siapa pun masyarakat yang semakin mudah mengakses informasi yang ingin diketahuinya.

Passion produser informasih juga berubah – dari sebelumnya berangkat dari pemikiran yang berangkat dari teori yang bisa dipertanggung-jawabkan secara akademis menjadi sekedar ingin terkenal – membuat peran elite – ahli atau akademisi – terdepak oleh berjalannya peradaban yang bergegas dan banal. Akal sehat acap kali dikalahkan oleh akal sakit karena argumentasi keilmuwan tergerus oleh identitas kelompok yang berbeda-beda sehingga ruang publik menjadi bising oleh beragam silang sengketa.

Tantangan Pendidikan

Tepuk tangan meriah hanya sedikit ditujukan kepada sosok-sosok yang berjuang untuk kemanusiaan, melainkan kepada sosok-sosok demagog yang mampu membungkus kepentingan pribadinya dengan menyerang musuh-musuh yang dinilainya mengusik rasa kebersamaan. Imajinasi kebangsaan yang sebelumnya diajarkan di sekolah-sekolah nyaris tidak berbekas, begitu juga dengan sifat-sifat tawadhu, tabbayun, dan adil sejak dari pikiran yang diajarkan guru-guru mengaji di desa hilang tanpa bekas.

Yang muncul ke permukaan, di tengah massifnya teknologi informasi yang berkembang pesat sekarang ini, adalah menguatnya solidaritas sosial dalam partikel-partikel masyarakat yang semakin mengecil (atomisasi) dan sebaliknya sikap menang-menangan dalam kelompok masyarakat yang lebih besar. Karakter sebagaimana yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara hanya sekedar menjadi museum kepribadian nusantara yang hilang dari peradaban aktual.

Tantangan pendidikan di era milenial sekarang ini, pertama-tama, informasi datang lebih cepat, massif dan meluas sehingga tidak bisa diatasi dengan sekedar pergantian kurikulum. Berapa kali pergantian kurikulum tidak akan pernah mampu mengejar percepatan informasi yang ada. Sehingga bukan materi kurikulum yang diperlukan, melainkan bagaimana pendekatan guru dan murid dalam berinteraksi akan lebih penting – terutama dalam hal keteladanan, membangun kehendak, dan menguatkan – dengan bekal ilmu pengetahuan tentunya – sehingga anak didiknya mampu mengatasi tantangan hidupnya.

Pendidikan Usia Dini

Tantangan kedua adalah terjadinya “shifting condition” dalam berbagai interaksi sosial, termasuk lapangan pekerjaan yang sebelumnya terikat oleh hubungan buruh – majikan yang telah berjalan berabad-abad menjadi pola hubungan kemitraan. Ke depan kemungkinan masing-masing warga dunia akan menjadi buruh untuk dirinya sendiri. Karena peran-peran pekerjaan yang selama berabad-abad dijalankan oleh manusia kini bisa dijalankan oleh robot. Singkat cerita memicu daya kreatif mungkin lebih berguna ketimbang diajari hal-hal teknis seperti misalnya soal pembukuan.

Dan tantangan ketiga, ilmu-ilmu murni seperti matematika, fisika, biologi, kimia dan lainnya yang semula terpinggirkan oleh ilmu-ilmu terapan, akan lebih mendapatkan tempat dalam era digital yang memerlukan perhitungan kalkulus, logaritma dan sebagainya. Tapi tentu saja negara perlu  membangun infrastrukturnya sehingga tidak semua lulusan MIPA hanya menjadi guru – meskipun guru juga sangat penting – dan tak kalah pentingnya juga menjadi tenaga peneliti yang handal dan hasilnya bukan sekedar menumpuk di perpustakaan, melainkan juga bisa diterapkan sehingga Indonesia benar-benar berdaulat di bidang teknologi.

Tantangan keempat adalah merajut kembali kebangsaan yang terbelah. Pendidikan humaniora yang mengacu kepada kepentingan kemanusiaan dan nilai-nilai yang membuatnya menjadi utuh sebagai manusia tetap perlu dikedepankan. Di sini imajinasi kebangsaan untuk mengetahui jati dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia tidak mengenal kata using. Justru ini perlu terus dikembangkan sehingga kita tidak menjadi bangsa yang barbar atau bubar. Melainkian bangsa yang teruji oleh beragam tantangan.

Dan oleh karena itu, saya menulis di akun Facebook : Bangsa yang kehilangan Imajinasi hanya melahirkan event politik yang penuh dengan provokasi. Bagi saya, baik kecebong maupun kampret sama saja. Saat mereka bertikai maka akal sehat yang mati di tengah. []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here