Tantangan Panglima TNI Baru

0
232

KEPALA Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah diusulkan Presiden Joko Widodo sebagai calon Panglima TNI untuk menggantikan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Surat usulan Presiden sudah disampaikan Mensesneg Pratikno ke DPR melalui Wakil Ketua DPR Fadli Zon di gedung DPR Jakarta, Senin (4/12/2017). Seperti diketahui, Jenderal Gatot akan pensiun pada bulan Maret mendatang.

Berdasarkan pengalaman pencalonan panglima-panglima TNI sebelumnya yang biasanya mulus di DPR, pengusulan Marsekal Hadi besar kemungkinan tidak akan mendapat penolakan dari parlemen. Apalagi pencalonan KSAU ini menghidupkan kembali tradisi bergiliran antar-Kepala Staf TNI untuk menjabat Panglima TNI, yang kemarin sempat terhenti ketika Jenderal Gatot menerima tongkat komando dari Jenderal TNI Moeldoko. Hadi Tjahjanto akan menjadi perwira TNI-AU kedua yang menduduki jabatan tertinggi di TNI, setelah Marsekal Djoko Suyanto menjabat Panglima TNI (2006-2007).

Sekali lagi, menurut pengalaman selama era reformasi, bahwa panglima TNI hanya akan diganti jika sudah masuk masa pensiun. Itu artinya  Hadi akan memimpin TNI sampai November 2021 nanti. Sebab, lulusan Akademi Angkatan Udara 1986 kelahiran November 1963 ini masih punya masa dinas sampai empat tahun ke depan. Kalau itu yang terjadi, Hadi akan menjadi panglima TNI terlama sepanjang sejarah reformasi. Karena panglima-panglima sebelumnya rata-rata menjabat paling lama tiga tahun.

Apa yang harus dilakukan Hadi Tjahjanto selama periode itu? Selain tugas-tugas teknis kemiliteran seperti modernisasi alutsista atau peningkatan kemampuan dan daya juang prajuritnya, aspek-aspek nonmiliter praktis tidak banyak.

Satu-satunya aspek nonmiliter yang inheren dengan peran TNI dalam sejarahnya adalah peran politik. Namun, aspek ini sudah selesai. Reformasi politik Indonesia sudah menempatkan tentara sebagai tentara yang seharusnya: Menjaga pertahanan negara. Sejak lama pimpinan TNI sudah menegaskan bahwa TNI tidak akan masuk lagi ke dunia politik dan berfokus pada profesionalisme prajurit.

Dengan meninggalkan peran politik ternyata menempatkan TNI ke posisi yang sangat tepat. Berbagai survei menunjukkan tingkat kepercayaan rakyat terhadap TNI semakin tinggi. Survei terbaru dari Poltracking Indonesia misalnya menyebutkan TNI sebagai lembaga paling dipercaya rakyat.

Bagaimana memandang kepercayaan rakyat itu? Pertama, itu adalah vonis terhadap praktek politik praktis sebagai aktivitas legal yang paling menjengkelkan rakyat. Berbagai kekusutan dan kegaduhan di negara ini berawal dari aktivitas politik, baik di tingkat partai maupun di lembaga negara, yang kemudian berimbas pada mandulnya penegakan hukum dan terabaikannya kepentingan rakyat. TNI terselamatkan dari vonis mematikan itu, karena sudah lama angkat kaki dari politik praktis. Seandainya survei tadi dilakukan ketika TNI masih menjadi primus inter pares seperti yang terjadi dalam konstalasi kenegaraan masa lalu, niscaya hasilnya akan berbeda.

Kedua, harapan rakyat kepada tentara. Tatkala semua instrumen demokrasi nyaris kehilangan integritasnya dalam haru-biru politik nasional belakangan ini, orang berharap kepada tentara. Harapan itu bisa beragam, entah sebagai mercu suar dalam amukan badai yang gelap gulita, menjadi kapal penolong, atau justru sebagai pelabuhan untuk bersandar. Karena, seperti pernah dikatakan Panglima Besar Sudirman, “satu-satunya milik negara yang tidak berubah adalah TNI”.

Berdiri dalam posisi “satu-satunya milik negara yang tidak berubah” itu sangat tidak mudah, sebab akan banyak gelombang yang menghempasnya untuk berubah. Toh sudah terbukti hempasan gelombang yang sukses menggerus “milik negara” yang lain, sehingga dia berubah dari jatidirinya.

Mengapa tidak mudah memelihara posisi konsisten itu? Karena, meski tidak lagi berpolitik, realitanya TNI tetap saja masih jadi kekuatan politik yang sangat diperhitungkan di negeri ini. Mengharmonisasikan realita ini dengan cita-cita profesionalisme prajurit tadi sungguh tidak mudah.

Kepercayaan inilah yang mesti dirawat oleh Hadi Tjahjanto jika menduduki jabatan Panglima TNI nanti. Sebab, meski agak klise tetapi tetap harus disebutkan, bahwa nyawa TNI ada di dukungan rakyat, seperti tercermin dalam doktrin Sishankamrata.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here