Anak Muda dan Politik (3-habis)

Tantangan Politisi Muda di Pilpres 2019

0
96

Nusantara.news, Jakarta – Di sejumlah negara, penetrasi kaum muda di ranah politik memunculkan fenomena baru yakni kemenangan politisi muda. Sebut saja Emmanuel Macron (38 tahun), sebagai Presiden Perancis dan Justin Trudeau (44 tahun), Perdana Menteri Kanada.

Lalu ada Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar (38 tahun), Perdana Menteri Estonia Juri Ratas (40 tahun), Presiden Ukraina Volodymyr Groysman (40 tahun), Perdana Menteri Montenegro Milo Dukanovic (29 Tahun), Presiden Polandia Andrzej Duda (43 tahun), hingga yang terbaru kemenangan sensasional Sebastian Kurz sebagai Kanselir Austria di usia 31 tahun.

Tokoh-tokoh muda ini sebelumnya dipandang sebelah mata oleh para analis politik konvensional dan juga tidak diperhitungkan sebagai saingan yang berarti oleh para politisi senior. Tapi kemampuan pemilih muda terutama mereka yang diasosiakan sebagai digital natives dalam menggalang dukungan, menjungkirbalikkan prediksi para pengamat konvesional dan mengejutkan para ‘pemain’ tua.

Hebatnya, peran pemimpin muda di panggung politik dunia juga tidak sehijau usianya. Macron misalnya, hanya dalam setahun pemerintahannya digambarkan oleh kolumnis James Traub sebagai anak muda yang tak hanya seorang presiden, melainkan penguasa. “One year after his election, it’s clear Emmanuel Macron isn’t just a president—he’s a liberal man of providence”.

Tak mau kalah dengan Macron, Trudeau di Kanada juga mencatat capaian politik luar negeri signifikan. Ia bertekad mengembalikan peran Kanada di banyak isu internasional, termasuk menduduki kursi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (UNSC). Penampilannya yang cool membuat citra Kanada juga terangkat. Tak berlebihan bila seorang Colin Robinson menyimpulkan di era pemerintahan Trudeau, Kanada banyak mendapatkan sorotan dunia. “Under his leadership, Canada’s international brand has improved”.

Gejala darah muda bukan hanya menjadi tren di Amerika dan Eropa. Hal yang sama juga melanda Asia Tenggaa (ASEAN). Kita lihat di Malaysia, politisi gaek PM Mahathir Muhammad (93 tahun) mengangkat dua menteri anak muda berbakat: Yeo Bee Yin (35 tahun) sebagai Menteri Energi, Teknologi, Sains, Perubahan Iklim, dan Lingkungan Hidup, serta Syed Saddiq Syed Abdul Rahman (25 tahun) sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Ternyata kembalinya Mahathir diikuti dengan perubahan kultur di sana, dan memberi jalan bagi anak-anak muda untuk menapaki jalur politik.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah efek kemenangan politisi muda sebagai presiden/perdana menteri di sejumlah negara akan menular ke Indonesia?

Selepas tumbangnya Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun, gerbang demokratisasi memang terbuka sekaligus menandai zaman baru reformasi. Namum, gerakan reformasi yang didengungkan kaum muda (mahasiswa), anehnya seakan melanggengkan tokoh-tokoh tua yang ‘gagal move on‘ di kancah politik, sekaligus melemparkan tokoh muda ke pinggiran arena. Sialnya, Indonesia pun tak kunjung membaik.

Sejak Pemilu 1999 hingga melewati lima masa kepresidenan sepanjang reformasi (1998 – 2018), para pemimpin yang muncul masih didomiansi politisi berumur 67 – 75 tahun yang belum kunjung menepi dari kancah politik. Belum legowo memberi jalan bagi generasi baru untuk berkontestasi di level nasional secara berdaulat, tanpa kendali dan kooptasi politisi tua. Sebut saja, SBY (69), Megawati (73 tahun), Wiranto (71 tahun), Surya Paloh (69 tahun), Prabowo Subianto (67 tahun), Amien Rais (74 tahun), dan Jusuf Kalla (75).

Meski begitu, semakin kesini terjadi perkembangan positif di tingkat regional, dengan terpilihnya sejumlah nama muda di Pilkada Serentak 2017 sampai 2018. Misalnya muncul Gubernur DKI Jakarta Anies Baswdan (49 tahun), Walikota Bandung dan Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kamil (46 tahun), Bupati Trenggalek dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih Emil Dardak (34 tahun), Gubernur terpilih NTB Zulkieflimansyah (46 tahun), Bupati Bantaeng dan Gubernur Sulsel terpilih Nurdin Abdullah (55 tahun), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (49 tahun).

Politisi muda yang digadang-gadang sebagai penantang atau pendamping Jokowi

Lainnya, ada mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (52 tahun), Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (58 tahun); putera Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (38 tahun), Ketua Umum PPP Romahurmuziy (43 tahun), Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (51 tahun), putri Ketua Umum PDIP Megawati, Puan Maharani (44 tahun), dan Ketua MPR sekaligus Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (56 tahun).

Sebagian nama politisi muda itu bahkan disebut-sebut akan meramaikan kontestasi politik sebagai RI-1 ataupun RI-2 di Pilpres 2019. Jika track-nya lurus, sebagian lagi kemungkinan akan berlaga di Pilpres 2024. Tentu saja, prospek semacam ini melegakan sebab seakan menemukan kembali harapan pada jejak gemilang pemimpin muda yang telah tenggelam lebih dari setengah abad silam. Tren positif ini diharapkan terus berjalan sampai pada pemilu-pemilu berikutnya: dengan narasi, gagasan, dan wajah yang menyegarkan.

Hanya saja, seperti diulas sebelumnya, hambatan politisi muda menembus level pemimpin nasional adalah masih bercokolnya gerontokrasi (kekuasaan yang dikendalikan oleh orang-orang tua). Hal itu selain menutup akses politik dan menyebabkan ketergantungan politisi muda, juga membuat jagat politik begitu membosankan.

Di luar itu, hambatan lain sebenarnya terlihat dari persyaratan Presidential Threshold (PT) 20 persen di Pilpres 2019 menjadi handicap yang menyulitkan anak-anak muda untuk mendapat kesempatan. Akibatnya langsung dirasakan: sampai saat ini nama yang muncul hanya dua tokoh lama yaitu Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Sementara, barangkali amat banyak pilihan rakyat di luar Jokowi dan Prabowo yang tak terwadahi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here