Target Penerimaan Pajak Naik, Pertumbuhan Pun Jadi Korban

0
50
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) didampingi Wamenkeu Mardiasmo (kiri) dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara (tengah) bersiap memberikan keterangan pers tentang kinerja APBN di kantor Kemenkeu.

Nusantara.news, Jakarta – Dampak despresiasi rupiah selama setahun terakhir ternyata cukup serius, sehingga Kementerian Keuangan harus merevisi asumsi nilai tukar rupiah di APBN 2019 dari Rp14.400 menjadi Rp14.500. Konsekuensinya ternyata cukup serius.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 rupiah pada awalnya  dipatok di level Rp13.700, lalu pada pidato Nota Keuangan 2019 Presiden Jokowi menaikkan asumsi nilai tukar rupiah menjadi Rp14.400, belakangan dinaikkan lagi menjadi Rp14.500 per dolar AS lantaran depresiasi rupiah semakin dalam.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara mengatakan perubahan asumsi nilai tukar rupiah dari Rp14.400 menjadi Rp14.500 per dolar AS pada gilirannya mengerek target penerimaan, terutama pajak nonmigas.

“Karena asumsi rupiah melemah menjadi Rp14.500, maka target pajak juga ikut naik meski angka naiknya tidak banyak,” ujarnya kemarin.

Dalam RAPBN 2019, pemerintah menyodorkan target penerimaan perpajakan senilai Rp1.781 triliun, naik 15% dibandingkan outlook tahun ini Rp1.548,5 triliun atau 10,1% dibandingkan target dalam APBN 2018 senilai Rp1.618,1 triliun. Dari nilai tersebut, target penerimaan pajak mencapai Rp1.572 triliun, naik 16,4% dibandingkan outlook tahun ini Rp1.351 triliun atau 10,3% dibandingkan dengan target dalam APBN tahun ini senilai Rp1.424,0 triliun.

Dari target penerimaan pajak itu, pemerintah menyodorkan target penerimaan pajak nonmigas senilai Rp1.510 triliun. Angka itu naik 16,6% dibandingkan dengan outlook tahun ini senilai Rp1.296 triliun atau 9% dibandingkan dengan target APBN 2018 senilai Rp1.385,9 triliun.

Hitungan tersebut menggunakan asumsi nilai tukar rupiah Rp14.400 per dolar AS. Dengan asumsi nilai tukar rupiah di level Rp14.500 per dolar AS, target penerimaan pajak nonmigas naik tipis 0,1% menjadi Rp1.511,40 triliun.

Tidak hanya itu, Kepala BKF juga menambahkan adanya perubahan lifting minyak dari 750.000 barel per hari menjadi 775.000 barel per hari, juga bakal menaikkan penerimaan pajak migas. Target penerimaan PPh migas diusulkan naik dari awalnya Rp62,23 triliun menjadi Rp63,54 triliun.

Untuk pajak penghasilan (PPh) Migas masih harus dihitung lebih detail lagi karena belum memasukkan instrumencost recovery dari Kementeriam ESDM. Secara keseluruhan, target penerimaan perpajakan dalam RAPBN 2019 berubah. Usulan awal pemerintah senilai Rp1.781 triliun. Dengan perubahan beberapa asumsi dasar makroekonomi, target perpajakan menjadi Rp1.783,76 triliun.

Pertumbuhan meleset

Peningkatan target penerimaan pajak tersebut pada gilirannya akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2019 dari semula ditetapkan sebesar 5,3% menjadi 5,15%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR dan Bank Indonesia pada Kamis (13/9) mengungkapkan, melesetnya asumsi pertumbuhan ekonomi tersebut, menurutnya, akan lebih banyak dipengaruhi oleh depresiasi rupiah. “Ada downside risk untuk pertumbuhan ekonomi dari 5,3% jadi 5,15%.”

Depresiasi nilai tukar rupiah pada gilirannya akan berpengaruh pada nilai impor. Risiko akan ada pada investasi dan konsumsi rumah tangga. Seperti diketahui, dua variabel tersebut memiliki porsi cukup besar sebagai pembentuk produk domestik bruto (PDB).

Karena itu pemerintah meminta semua pihak untuk tetap mewaspadai pesatnya dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi perekonomian domestik. Untuk tahun ini, meskipun meleset dari asumsi sebesar 5,4%, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia bisa tumbuh 5,2%.

Dalam rapat kerja tersebut, asumsi pertumbuhan ekonomi diputuskan tidak berubah dari usulan pemerintah sebelumnya yakni 5,3%. Asumsi dasar lainnya juga tetap, termasuk nilai tukar rupiah di level Rp14.400 per dolar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah tahun depan tidak bisa dilepaskan dari faktor berlanjutnya kenaikan suku bunga bank sentral AS. Bank sentral Eropa juga diyakini akan ikut memperketat moneternya.

Dalam kondisi itu, BI melihat pergerakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp14.300–Rp14.700 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi dengan posisi BI yang akan bisa lebih ketat pada tahun depan.

Bank Indonesia diketahui sudah melakukan intervensi di pasar uang maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN), sehingga cadangan devisa yang pada awal tahun masih di level US$132 miliar, maka pada 31 Agustus 2018 tinggal US$117,93 miliar. Artinya cadangan devisa sudah tergerus hingga US$14,07 miliar atau ekuivalen dengan Rp209,36 triliun dengan kurs Rp14.880 per dolar AS.

Tahun 2019 rupiah diperkirakan masih akan tertekan akibat dampak perang dagang AS dan China dan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve.

Dengan demikian ramalan kondisi ekonomi pada 2019 tidak lebih baik, alias lebih berat. Ditambah lagi kerawanan Pilpres dan Pileg yang berhimpitan pada 2019. Siap-siap kencangkan ikat pinggang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here