Tarian Dayak itu Sulit dan Spiritual, Katanya

0
341

Nusantara.news, Jakarta – Pengalamannya di tanah suku Dayak memberinya sesuatu yang lebih dari yang diharapkannya.

Begitulah pengakuan Guillaume Sanchez, penari asal Belgia yang mempelajari tarian adat dari berbagai pelosok dunia. Proyeknya itu dia namakan “Dance around the Global” atau Tarian di seluruh Dunia.

Belajar tari Dayak adalah belajar alam dan kehidupan orang Dayak

Kebetulan pula sepupunya Pierce Vaughn telah tinggal di Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah sejak 2010. Terkesan oleh Pierce, Guillaume segera berangkat ke Palangkaraya dan mempelajari tarian Dayak. Pierce pula yang membuat dokumentasi saat dia belajar menari.

“Kalimantan adalah tempat yang sangat unik dan orang-orang tidak tahu apa-apa tentang tempat ini. Kami beruntung mendapatkan tempat yang cantik dan tarian yang menarik untuk dipelajari”, ungkap Pierce.

Guillaume Sanchez diajari oleh para penari terkenal

Akhir 2015 Guillaume mendapat kesempatan dilatih langsung selama tujuh hari oleh beberapa penari Dayak ternama. Namun para penari dayak itu tak lupa untuk menguji kesungguhan Guillaume terlebih dahulu.

“Saat pertama Guillaume datang saya sendiri sih kaget, Guillaume ini siapa sih mau belajar tarian dayak, dia saja sendiri orang asing. Itu yang membingungkan”, kata Nino, panggilan akrab dari Trisno Edi Supriyanto.

“Tapi karena dia membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh, betul dan siap belajar apapun itu, yah oke, kita ajarkan.”

Selain itu, sebelum memulai proses latihan, Guillaume harus memahami kehidupan orang Dayak terlebih dahulu.

Kakinya lecet karena tidak biasa menari tanpa alas kaki

Selama latihan, Guillaume pun mengaku mengalami berbagai kendala. Yang paling membekas adalah kakinya yang lecet-lecet akibat menari tanpa alas kaki.

“Kaki saya luka-luka karena ketika saya menari di negara asal saya saya menari dengan mengenakan sepatu dan di sana mereka menari dengan kaki telanjang. Itu mungkin perubahan yang paling kuat yang saya hadapi”, ingat Guillaume.

“Lalu tidak ada cermin. Saya tidak terbiasa menari tanpa cermin.”

“Dan tidak ada musik. Mereka menyanyikan musik, tidak menggunakan pemutar CD. Tidak bisa selalu ada penyanyi di sana untuk mengulangi lagu pengiring tarian. Saya belajar tanpa musik selama 3 hari baru kemudian menggunakan musik. Bagi saya ini sangat sulit.”

“Dan ada banyak tes mental yang membuat saya frustasi pada awalnya. Karena itu sangat spiritual.”

Guillaume diajarkan tarian Pegah Penyang tentang kewibawaan orang Dayak saat harus berbicara di muka masyarakat adat. Tarian ini banyak menggunakan hentakan kaki yang menurut Nino, untuk mencari perhatian warga.

“Koreografi ini berdurasi tujuh menit padahal saya terbiasa dengan koreografi tiga menit atau bahkan kurang, terkadang hanya 20 detik untuk satu lagu untuk satu koreografi.”

Bukan sekedar teknik tari melainkan juga kesurupan

Dan untuk mendeskripsikan tarian ini, Guillaume berkata, “Saya kira bagaimana mendeskripsikan tarian Dayak adalah sebuah ‘pencampuran’. Momen tersebut bukan hanya sebuah tontonan namun sebuah kondisi trance (kesurupan). Anda seperti kehilangan diri anda dalam tarian selama tujuh menit.”

Diiringi alat musik gong, gendang, kecapi, kenong serta kletok tari Pegah Penyang diiringi sastra lisan yang dilantunkan bersahut-sahutan antara penyanyi pria dan wanita.

di rumah adat ini tarian adat Dayak dipentaskan

Guillaume dan para penari Dayak , termasuk para pelatihnya, menampilkan tarian Pegah Penyang di Betang Panjang, rumah pertemuan kaum Dayak.

Kerja keras Guillaume pun berbuah manis. Dia mengaku puas akan penampilannya.

“Apa yang saya pelajari, yang menarik adalah ketika pada akhirnya saya menanyakan para pelatih apa pendapat mereka. Jawaban mereka adalah “Bagaimana perasaan Anda sendiri?”

“Karena tarian itu bagi mereka bukanlah bagaimana hasilnya saat ditampilkan, namun bagaimana tarian itu dirasakan. Dan saya membawakannya cukup baik menurut saya,” jawabnya sambil terkekeh.

Pendapat serupa pun diutarakan Nino.

“Kalau saya pribadi sangat puas yah. Karena saya memaknai dalam proses, proses membentuk tarian itu dari awal, pertengahan hingga akhir”, ungkap Nino.

Orang sekampung pun heboh melihat penari asing itu

“Kemudian ketika tampil, Guillaume mendapat sambutan dari orang-orang kampung dan mereka sangat terhibur dan mereka berkata “bagus dia membawakannya”.”

Nino menambahkan kalau orang asing saja mau belajar budaya Dayak, dia pun berharap lebih banyak orang Indonesia, baik dari suku Dayak atau dari budaya lain yang ingin belajar dan melestarikan kebudayaan Dayak [].

Sumber :  Mehulika Sitepu BBC Indonesia

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here