Bias-Bias Pembangunan Infrastruktur (2)

Tarif Tol Kemahalan Untuk Siapa?

0
253
Tarif tol Solo-Ngawi mencapai Rp150 ribu sekali perjalanan, membuat sopir truk lebih memilih jalur Pantura.

Nusantara.news, Jakarta – Pembangunan jalan tol dinisbahkan untuk memudahkan mobilisasi barang dan orang dari setu kota ke kota lain di tanah air. Namun niatan tersebut terhambat lantaran infrastruktur itu dinilai kurang memperhatikan aspek sosial ekonomi warga sehingga tujuan dibangunnya tol pun sulit dicapai.

Itulah realitas Indonesia sejak pertama kali memiliki jalan tol selalu dikeluhkan masyarakat, baik itu tarif yang mahal hingga mematikan usaha kecil dan menengah daerah yang dilalui jalan tol.

Masih segar dalam ingatan ketika tol Cikampek, Purwakarta dan Padalarang (Cipularang) dibangun, semua mata penuh harap akan mendapat dampak positif dari pembangunan tol tersebut. Nyatanya, memang sebagian kecil masyarakat menerima dampak positif dari pembangunan tol Cipularang tersebut seperti para pedagang kaki lima, usaha kecil dan menengah, pengusaha pompa bensin, kuliner, hingga unit usaha lainnya yang ditampung di sejumlah rest area.

Tapi, lebih banyak lagi unit bisnis yang tidak tertampung, bahkan harus mati dan lebih parah lagi meninggalkan beban utang yang tak sanggup dibayar. Seperti pompa bensin, restoran, hotel di sepanjang Padalarang, Purwakarta, hingga Cianjur mati bergelimpangan. Usaha rakyat yang mencapai ratusan miliar itu mati lantaran pengguna kendaraan tak lagi melewati tempat mereka berbisnis, pengendara lebih memilih jalan tol untuk sampai ke Bandung, Cimahi, Garut hingga Jawa Tengah.

Di sini terlihat bahwa gegap gempita pembangunan jalan tol tidak diiringi socio-economic engineering (rekayasa sosial ekonomi) masyarakat sekitar yang dilalui jalan tol.

Susana itu tidak semakin membaik, manakala Pemerintah Jokowi yang sangat sibuk membangun infrastruktur, termasuk jalan tol. Bahkan dengan bangga Pemerintah memamerkan keberhasilannya karena telah menghubungkan Merak hingga Surabaya dalam apa yang dinamakan Tol Trans Jawa.

Sedikitnya seorang supir truk yang mengendarai mobilnya dari Merak hingga ke Surabaya lewat jalan tol, membutuhkan biaya tol hingga Rp750.000 satu kali perjalanan. Bahkan kalau harus melintas hingga melewati Tol Trans Sumatera, maka sudah dapat dipastikan ongkos tol yang harus disiapkan bisa di atas Rp1 juta.

Itu belum termasuk bensin, uang makan, dan uang tetek bengek kalau dicegat polisi di jalan. Praktis, seorang sopir truk lintas Jawa-Sumatera menyiapkan ongkos minimal Rp2 juta satu kali perjalanan.

Hal ini tentu saja akan merugikan pengusaha dan sopir angkutan truk yang menggunakan jasa tol setiap harinya. Itu sebabnya banyak pengemudi truk memilih jalur arteri untuk menghindari mahalnya jalan Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatera.

Meskipun harus melewati jalan yang rusak berat di jalur arteri, sopir truk merasa lebih nyaman. Suasana nyaman, memudahkan, dan meningkatkan pelayanan masyarakat. Jalan tol berubah jadi arena komersial yang memaksa pengendara merogoh kocek lumayan mahal.

“Kalau sopir saya harus lewat tol Trans Jawa dan Trans Sumatera setiap hari, bisa bangkrut bisnis saya,” kata Agus Bahar, seorang pengusaha gula merah yang biasa mengirim gula merah betruk-truk sepanjang Jawa dan Sumatera.

Itu sebabnya, para sopir yang bekerja dengan Agus sejak Januari 2019 lebih memilih jalan arteri meski sampai ke tujuan agak lama.

Syamsuddin, sopir truk lintas Jawa-Sumatera, juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mendapat uang jalan dari bosnya hanya Rp750 ribu sekali jalan sampai Sumatera. Kalau harus lewat tol, maka dirinya tak bisa makan dan tak bisa beli solar.

“Saya mending lewat Pantura, toh lancar dan jalannya relatif mulus. Mungkin kalau lewat lampu merah atau pasar kaget agak macet,” jelasnya.

Pengamat infrastruktur Bambang Susanto Priyohadi mengatakan, gencarnya pembangunan infrastruktur jalan tol yang dilakukan pemerintah saat ini hanya untuk kebutuhan sesaat. Menurut dia, pembangunan jalan tol seharusnya melihat pada kebutuhan jangka panjang.

“Pembangunan jalan tol hanya akan memenuhi kebutuhan sesaat, misalnya pas libur Lebaran, Natal, dan tahun baru. Silakan dilihat, jalan tol itu kosong, sepi sekali,” ujar Bambang dalam diskusi bertajuk Indonesia Pasca Jokowi ‘Pembangunan Infrastruktur untuk Dinikmati, Siapa?’ belum lama ini.

Dia mencontohkan jalan tol dari Jakarta ke Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Tidak terlihat jalan tol yang ramai dilintasi kendaraan. Bambang menyebutkan, jika dihitung dalam setahun, bisa dikatakan penggunaan jalan tol tidak lebih dari 15 hari. Selain itu, pembangunan jalan tol juga tidak direncanakan dengan baik. Misalnya jalan tol layang yang sekarang sedang dikerjakan dari Jakarta ke Karawang. Anggaran yang dikucurkan untuk tol tersebut terbilang mahal dibanding untuk membangun jalan biasa.

“Lihat pembangunan tol tumpuk dari Jakarta ke Karawang. Harganya mahal sekali, biayanya Rp500 miliar per kilometer. Kalau jalan biasa separuh aja enggak sampai,” imbuhnya.

Untuk diketahui, dalam catatan Kompas.com, pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II diproyeksikan menelan investasi senilai Rp16 triliun. Ditambah Konstruksinya sudah dilakukan pasca-penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) antara PT Jasa Marga Jalanlayang Cikampek selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, manfaat dan waktu pembangunan jalan tol sepanjang 36,4 kilometer ini sudah jelas.  “Kami mengharapkan jalan tol ini mampu menjadi solusi dalam mengurai kepadatan lalu lintas di sekitarnya dan memperlancar distribusi yang mampu mengurangi biaya logistik nasional,” ujar Basuki belum lama ini.

Namun Menteri PUPR tidak menyadari bahwa mahalnya tarif tol justru akan membuat pengelola tol tersebut bangkrut, karena trafik pengendara di hari-hari biasa begitu sepi. Tol Trans Jawa termahal saat ini adalah tol Cikopo-Palimanan dengan tarif Rp306 ribu, kemudian Ngawi-Ketosono mencapai Rp176 ribu satu kali perjalanan. Termahal ketiga adalah tol Solo-Ngawi dengan tarif Rp150 ribu sekali perjalanan.

Sementara tol Semarang-Solo dibanderol dengan tarif Rp115.500 sekali perjalanan. Sementara tol termurah adalah Jakarta-Cikampek dengan tarif hanya Rp13 ribu sekali perjalanan.

Jika demikian halnya, maka Pemerintah gagal mencapai target untuk memudahkan masyarakat untuk melintasi seluruh jalur Trans Jawa, plus Trans Sumatera, karena kantung masyarakat tidak cukup kuat untuk membayar tarif tol semahal itu.

Orang-orang berkantong tebal lebih memilih naik pewasat udara demi menghemat waktu tempuh walaupun biayanya sedikit lebih mahal. Itu sebabnya otoritas terkait perlu mengkaji ulang tarif tol yang mahalnya berkejaran dengan tarif pesawat terbang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here