Too Big To Fail Lion Air (2)

Tarik Ulur Antara Nama Besar dan Profesionalitas

0
65
Lion Air mendapat jaminan pemerintah untuk pinjaman membeli ratusan pesawat Beoing, menggambarkan kuatnya lobi Rusdi Kirana kepada pemerintah sebagai pemilik.

Nusantara.news, Jakarta – Lion Air adalah cerita burung besi milik Rusdi Kirana. Sejak kehadirannya memang penuh kontroversi, sampai langganan delay, tergelincir, mogok, hingga jatuh, seperti jadi penghias media massa. Kali ini Lion Air jatuh dengan potensi korban mencapai 189 orang.

Sebagai catatan, cebelumnya Lion Air juga sudah pernah mengalami gangguan maupun kecelakaan penerbangan. Seperti pada 13 April 2013 pesawat Lion Air Boeing 737-800 dengan rute penerbangan Bandara Husein Sastranegara di Bandung menuju Bandara Ngurah Rai di Bali, mengalami kecelakaan saat hendak mendarat pada Sabtu, 13 April 2013.

Pesawat yang dikendalikan oleh pilot Mahlup Ghazali dan Kopilot asal India Chirag Kalra, jatuh ke laut dan menyebabkan badan pesawat patah menjadi dua bagian. Kecelakaan itu disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error. Pilot berhalusinasi melihat sebuah landasan sehingga ia mendaratkan pesawatnya, padahal landasan yang sebenarnya masih ada di depannya.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, sang pilot terindikasi positif narkoba. Dalam insiden itu, semua penumpang yang berjumlah 101 jiwa dan sejumlah kru pesawat lainnya dinyatakan selamat.

Pada 19 April 2013 pesawat Boeing 737-900 milik Lion Air dengan tujuan Denpasar–Jakarta, mendadak berhenti saat akan mengudara. Pesawat yang sudah bergerak dengan kecepatan tinggi tiba-tiba berhenti saat ada di ujung landasan Bandar Udara Ngurah Rai, Jumat (13/4) pada 2013. Tidak ada korban jiwa.

Petugas meminta penumpang untuk tenang dan mesin pesawat yang mengalami kerusakan akan diperbaiki selama 15 menit. Namun, penumpang yang mengalami shock memilih untuk turun dan berganti maskapai. Mereka takut terjadi hal yang tidak diinginkan jika tetap menggunakan pesawat yang sebelumnya mogok mendadak.

Selain itu pada 29 April 2018 pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 892 yang terbang dari Makassar, Sulawesi Selatan menuju Gorontalo tegelincir di Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo pada Minggu 29 April 2018. Pesawat yang membawa 174 penumpang ini mendarat saat hujan lebat mengguyur Gorontalo. Hal ini menyebabkan pesawat tergelincir.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun badan pesawat yang berada di shoulder dan landasan pacu menghalangi pesawat lain untuk mendarat. Hal ini menyebabkan adanya gangguan jadwal di bandara ini selama beberapa waktu.

Sementara pada 6 Agustus 2018 Pesawat Boeing 737-800 milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT892 tergelincir saat mendarat di  Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo pada Selasa (6/8/2013) malam. Hal ini disebabkan oleh keberadaan tiga ekor sapi yang ada di landasan, sehingga pesawat mengalami over run atau keluar landasan.

Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa. 110 penumpang semuanya dinyatakan dalam keadaan selamat. Baca juga: Hindari Sapi di Landasan, Lion Air Tergelincir di Gorontalo

Terkini, pada  29 Oktober 2018 adalah kecelakaan yang terjadi di perairan laut Karawang. Pesawat Lion Air JT 610 dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang terjatuh 13 menit setelah mengudara dari Bandara Soekarno Hatta. Awalnya pesawat ini diketahui hilang kontak, hingga akhirnya diketahui terjatuh di perairan utara Karawang.

Padahal pesawat ini diketahui baru dioperasikan Lion Air sejak Agustus 2018. Hingga saat ini belum dapat dipastikan kondisi 178 penumpang dan 5 kru pesawat yang berada di dalam penerbangan itu.

Too big to fail

Lepas kesalahan demi kesalahan, kecelakaan demi kecelakaan yang melanda Lion Air, tetap saja maskapai itu eksis. Dalam bisnis ada yang dinamakan dengan too big to fail, terjemahan bebasnya ‘terlalu besar untuk gagal’. Tapi biasanya dibalik prevelidge tersebut biasanya diikuti oleh sikap lalai, atau bahasa kerennya kehilangan kendali profesionalitas.

Too big to fail menggambarkan konsep di mana sebuah bisnis telah menjadi begitu besar sehingga pemerintah akan memberikan bantuan untuk mencegah kegagalannya karena tidak melakukan hal itu akan memiliki efek riak yang menghancurkan di seluruh perekonomian.

Itu sebabnya kecelakaan sebesar apapun, kesalahan sefatal apapun tak akan berpengaruh terhadap Lion Air. Ada tangan-tangan besar yang berusaha melindungi eksistensi bisnisnya.

Berbeda dengan Malaysian Air yang dua kali pesawatnya kecelakaan karena dirudal atau menghilang, maskapai itu langsung bangkrut. Tapi tidak dengan Lion Air, dia tetap eksis meski melanggar apapun, karena adanya adagium too big to fail.

Bahkan konon kabarnya, Lion Air juga mendapat jaminan utang dari pemerintah Indonesia atas pinjaman sebesar US$64,2 miliar. Lion Air mendapat utang dalam bentuk 230 pesawat dari Boeing Co Amerika Serikat senilai US$22,4 ‎miliar dan 234 Airbus jet dari Eropa senilai US$24 miliar dolar.

Total pembelian Boeing dan Airbus tersebut mencapai US$46,2 miliar atau ekuivalen Rp702,24 triliun (dengan kurs Rp15.200 per dolar AS). Darimana pinjaman tersebut? Kabarnya dari Exim Bank asal Amerika dan beberapa bank Eropa. Praktis kekayaan Rusdi Kirana sebagai owner Lion Air melampaui kekayaan pemilik Grup Djarum R. Budi dan Michael Hartono yang memiliki aset sebesar US$17,1 miliar atau ekuivalen dengan Rp259 triliun.

Andaikan yang mendapat jaminan itu adalah PT Garuda Indonesia Airways Tbk, alangkah senangnya rakyat Indonesia. Karena Garuda adalah maskapai BUMN kebanggaan bangsa. Tapi mengapa yang dapat jaminan adalah Lion Air? Apakah pemerintah tak ingin maskapai BUMN-nya maju. Bahkan belakangan kinerja Garuda semakin sulit karena dililit utang. Ironi memang.

Dus, meskipun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (TLKI) menuntut agar Lion Air bertanggung jawab atas kecelakaan yang menyebabkan 189 orang korban jiwa, tetap saja maskapai itu akan tetap eksis. Mungkin akan ada sedikit sanksi dari Kementeri Perhubungan, namun sanksi itu diduga hanyalah basa-basi.

Karena memang Lion Air, too big to fail. Terlalu besar untuk gagal, terlalu besar untuk disalahkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here