Tarik-Ulur Hubungan AS-Cina: Trump Mundur Selangkah?

0
105

Nusantara.news, Washington/Beijing – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mundur satu langkah, melunak terhadap Cina. Trump yang awalnya selalu bernada tinggi terhadap raksasa ekonomi Asia itu, akhirnya menurunkan tensi. Strategi apa yang bakal dia mainkan?

Apakah Trump benar-benar mulai “melemah” setelah adanya sejumlah tekanan internal, mulai dari penangguhan perintah eksekutif, isu pemakzulan, hingga mundurnya seorang penasihat senior bidang keamanan nasional.

Ataukah sikap keras Trump yang lalu itu hanya strategi diplomasi semata, menekan calon-calon mitranya di awal untuk pada akhirnya melakukan kompromi yang menguntungkan? Semua jawaban tentu saja masih harus ditunggu.

Seperti diketahui, pada Jumat 10 Februari lalu Presiden Trump akhirnya menjalin kontak dengan Presiden Cina Xi Jinping. Sesuatu yang ditunggu-tunggu, tidak saja oleh publik Cina, tetapi oleh masyarakat dunia.

Bukan tanpa alasan, ketegangan AS-Cina sejak Trump berkampanye hingga dia terpilih sebagai Presiden AS sempat membuat khawatir masyarakat dunia, khususnya Asia. Mereka khawatir ketegangan tersebut berakhir dengan kontak militer. Dengan terbukanya komunikasi Trump-Jinping, apalagi keduanya sudah berencana melakukan pertemuan, kalangan di Cina maupun dunia merasa lega. Setidaknya ketegangan mereda, meskipun bisa jadi hanya jeda.

Tidak saja terhadap Cina, sikap Trump dengan Jepang juga berubah. Sebelumnya Trump menuding Jepang melakukan manipulasi mata uang dalam berbisnis dengan negaranya. Lalu Trump juga sempat membuat kecewa Jepang ketika memutuskan AS menarik diri dari kerja sama dagang Trans Pasific Partnership (TPP). Jepang menganggap AS sudah tak “setia” lagi sebagai sekutunya di Asia untuk mengimbangi Cina.

Tapi semua ketegangan dan kecurigaan itu mereda di sebuah lapangan golf di Florida AS pekan lalu, saat Presiden Trump dan PM Jepang Shinzo Abe berolahraga bersama sambil menghangatkan kembali hubungan kedua negara yang sempat membeku. Trump sesumbar 100 persen berada di belakang Jepang dalam membela negara itu di kawasn Asia. Pernyataan tersebut keluar bersamaan dengan uji coba rudal balistik yang dilakukan Korea Selatan di Laut Jepang. AS-Jepang sepakat akan membicarakan kerja sama perdagangan secara bilateral tanpa TPP.

Kenapa AS sangat fokus dengan Cina? Sehingga Trump rela merevisi pernyataan-pernyataannya yang keras terhadap Cina, misalnya tentang tuduhan manipulasi mata uang dan pengakuan Kebijakan Satu Cina.

Seperti diketahui, aksi konfrontasi Trump dipicu oleh surplus perdagangan Cina yang besar dengan AS, dan dianggap menyebabkan perlambatan ekonomi AS dan turunnya lapangan kerja bagi tenaga kerja. Selain Cina, Jepang pun setali tiga uang posisinya dalam penilaian Donald Trump. Kedua negara menempati dua teratas negara dengan nilai surplus perdagangan terhadap AS.

Defisit perdagangan barang AS dengan Cina tahun lalu mencapai USD 347 miliar, lima kali lebih besar dibanding dengan negara-negara lain. Sementara Jepang merupaka terbesar kedua defisitnya yaitu, USD 68,9 miliar, di bawah itu Jerman USD 64,9 miliar.

Sejumlah negara Asia juga memiliki surplus dagang dengan AS seperti India, Indonesia, Malaysia dan Vietnam, sehingga sebetulnya tetap memiliki potensi mengalami ancaman dari Trump sebagaimana halnya Jepang dan Cina.

Meski Cina masih harus menunggu kepastian Presiden Trump terkait hubungan perdagangan, khusunya soal janji Trump ketika kampanye yang akan menaikkan bea impor dari Cina ke AS dari 15% menjadi 45%, setidaknya terlihat ada upaya serius untuk meredakan ketegangan hubungan AS-Cina.

Pada 3 Februari Michael Flynn, penasehat keamanan nasional Trump (mengundurkan diri pada Senin 13/2), menelepon pejabat kebijakan luar negeri tertinggi Cina, Yang Jiechi, untuk merintis kontak kedua presiden.

Pada hari yang sama, James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika, yang sedang mengunjungi Jepang, mengatakan pada konferensi pers bahwa “Saat ini, kami tidak melihat kebutuhan untuk bergerak secara militer sama sekali.” Pernyataan Mattis terkait konflik Laut Cina Selatan. Kemudian disusul surat ucapan selamat Tahun Baru Cina dari Trump untuk Jinping, dan puncaknya Trump menelepon pemimpin Cina itu dengan pembicaraan yang hangat dan positif.

Saat ini, untuk sementara Cina melihatnya sebagai kemenangan 1-0 lawan AS. Dukungan Trump terhadap “One China” seolah jawaban atas kemarahan Beijing selama ini. Istilah “macan kertas” yang pernah digunakan oleh Pemimpin Cina Mao untuk menggambarkan Amerika, mungkin pas dalam konteks ini. Shi Yinhong, profesor di Universitas Renmin dan penasihat pemerintah, mengatakan saat ini Trump dianggap kehilangan pertarungan pertamanya dengan pemimpin Cina.

Meski Trump telah berubah sikap, bukan berarti Cina tidak waspada dan menyerah begitu saja untuk hal-hal lain. Masih ada sejumlah masalah yang terus menjadi konsen Cina, termasuk soal pertemuan PM Jepang Shinzo Abe yang dianggap mendapat karpet merah Trump. Sementara, Jepang masih dianggap sebagai aliansi AS sebagai penyeimbang Cina di Asia.

Xi Jinping mungkin sedikit lega dengan langkah mengalah Trump atas sikap-sikapnya, tapi dia juga sadar bahwa ini hanyalah jeda, bukan berarti mengakhiri persaingan antara keduanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here