Tatkala Panglima Kehabisan Kata

0
249
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Nusantara.news, Jakarta – Boleh jadi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sudah kehabisan kata untuk mengingatkan tentang hal-hal yang mengancam negara. Karena itu dia membacakan puisi karya Denny JA ketika berbicara di depan peserta Rapimnas Partai Golkar di Balikpapan, Senin (22/5/2017) kemarin.

Puisi dibacakan Gatot bercerita tentang Jaka yang melihat kekayaan alam negerinya. Tapi, Jaka nelangsa karena kekayaan tersebut ternyata bukan miliknya atau bangsanya.

Inilah sebagian bait puisi itu:

Lihatlah hidup di desa//Sangat subur tanahnya//Sangat luas sawahnya//Tapi bukan kami punya

Lihat padi menguning//Menghiasi bumi sekeliling//Desa yang kaya raya//Tapi bukan kami punya

Menurut Gatot, puisi tersebut menggambarkan bahaya dari derasnya arus imigrasi dewasa ini. “Sekarang ini yang paling berbahaya adalah migrasi. Kompetisi antar negara sekarang sudah meningkat menjadi antar manusia. Manusia tidak kenal batas, dia mencari tempat yang lebih menjanjikan,” kata Gatot di BPSDM Kemendagri hari ini (24/05/2017).

Dia mengutip sebuah prediksi bahwa pada 2050 nanti akan ada 480 juta manusia yang bermigrasi. Pada tahun 2020, akan ada migrasi 60 juta orang dari negara-negara di kawasan Gurun Sahara yang kering kerontang itu.

“Hasil dari imigrasi kita lihat di Amerika, suku Indian hampir punah, Aborigin di Australia hampir punah. Apabila kita tidak waspada, kita bisa seperti Jaka tadi saya puisikan. Karena ini adalah contoh. Anakmu juga bisa, anak saya juga bisa. Kalau tidak waspada, kita bisa dipinggirkan,” ujar Panglima.

Ini untuk kesekian kalinya Gatot Nurmantyo bicara soal ancaman bangsa. Sebelumnya dia bicara tentang potensi ancaman terhadap Indonesia di Laut Cina Selatan. Menurut Gatot, wilayah Laut Cina Selatan adalah potensi ancaman bagi Indonesia. Cina memberlakukan zona pertahanan udara di wilayah itu yang dapat menimbulkan konflik negara sekitar. Itu terlihat dari pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ketika berceramah di Universitas Trisakti, Jakarta, 11 November 2016.

Sebelum itu dia gencar pula bicara tentang proxy war atau perang boneka yang mengancam eksistensi negara Indonesia. Hal ini bahkan  sudah diungkapkannya sejak masih menjabat sebagai Pangkostrad.  “Perang tanpa bentuk mengancam Indonesia, karena negara-negara luar berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia yang kaya akan sumber daya alam,” kata Gatot di berbagai kesempatan. Dalam proxy war tidak bisa dilihat siapa lawan dan kawan, karena perang tersebut dikendalikan oleh negara lain.

Di Indonesia, jelasnya, proxy war sudah berlangsung dalam beragam bentuk. Selain gerakan separatis, upaya tersebut dilakukan melalui berbagai bentuk seperti demonstrasi massa, sistem regulasi yang merugikan, maupun bentrok antarkelompok.

Kendati Panglima TNI sudah berkali-kali menyampaikan berbagai potensi ancaman tersebut, belum ada keputusan politik yang komprehensif untuk menanggulanginya. Tentang proxy war misalnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengakui pemerintah belum mempunyai cara melawannya. “Proxy war belum ada (strategi penanganannya), sementara masih dilakukan secara parsial,” katanya dalam kuliah umum di Universitas Pertahanan, Bogor, akhir Februari silam.

Bahkan, akibat terlalu sering mengingatkan perihal potensi ancaman ini, Gatot justru diterpa berbagai isu miring. Misalnya, dia dikabarkan dimarahi oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet, sampai diisukan akan diganti sebelum masa pensiunnya tiba.

Mungkin karena panglima sudah kehilangan kata, maka dia memilih bermetafora. Kali ini dia bermajas tentang kekhawatiran terhadap ancaman migrasi lewat puisi di atas.

Metafora seperti disampaikan Gatot tersebut, menurut teori Geoffrey Neil Leech, seorang ahli linguistik dari Inggris, termasuk metafora ekspresif, atau penggunaan bahasa secara metaforis yang mengandung maksud tersirat berisi anjuran atau harapan.

Karena Panglima tak mampu lagi memilih kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang dikhawatirkannya, dia bermetafora. Karena hanya dengan begitu dia bisa menggambarkan dan mengkomunikasikan secara lebih mendalam. Sebab, menurut pakar Bahasa Indonesia Anton Moeliono, majas mampu mengimbau indera pendengarnya karena lebih konkret dari ungkapan harfiah atau denotasi kata.

Jika Panglima TNI bermetafora hanya karena ingin menyampaikan sesuatu agar dapat diterima secara lebih mendalam ketimbang pengucapan harfiah, itu wajar saja. Tetapi, kalau didasari kekhawatiran jika pernyataannya akan menimbulkan resistensi, terutama resistensi dari internal pemerintah sendiri, itu adalah indikasi yang berbahaya. Sebab hal itu bisa diterjemahkan sebagai lemahnya sensitivitas terhadap potensi ancaman yang membahayakan negara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here