Setelah Annual Meeting IMF-WB Usai (2)

Tawaran Pinjaman Bank Dunia Pun Begitu Menggoda

0
283
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menawarkan pinjaman US$1 miliar kepada Pemerintah Indonesia untuk merekonstruksi dampak gempa Nusa Tengara Barat (NTB), Palu, Sigi, Donggala.

Nusantara.news, Jakarta – Perhelatan akbar Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusadua, Bali, benar-benar fenomenal sekaligus kontroversial. Karena perhelatan akbar itu berlangsung di tengah duka dan nestapa para korban gempa di NTB, Palu, Sigi dan Donggala.

Wajar kalau kemudian pertemuan yang dihadiri sekitar 34.000 peserta dari 189 negara itu muncul pro dan kontra. Yang pro mengatakan ada sederet manfaat Annual Meeting tersebut, sementara yang kontra juga memberi catatan yang cukup serius.

Aneka pujian

Disamping hujan kritik, Annual Meeting IMF-WB juga mengundang decak kagum dan aneka pujian.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengungkapkan kesannya yang mendalam terhadap penyelenggaraan pertemuan tersebut. “Terima kasih Indonesia. Saya berusaha keras untuk mencegah keraguan apa pun. Indonesia, yes!” kata Lagarde sambil mengacungkan ibu jarinya pada saat konferensi pers penutupan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua.

Lagarde mengungkapkan, sukses tersebut merupakan pencapaian yang hebat dimulai dari tiga tahun lalu. Indonesia, imbuh mantan Menteri Keuangan Perancis ini, telah melakukan persiapan dengan keras dan tanpa lelah.

“Ini perjalanan yang panjang ke Indonesia. Kami semua sampai ketika Indonesia terpilih di antara kandidat (negara), dari lokasi terbaik sidang tahunan IMF-Bank Dunia,” ungkap Lagarde.

Oleh karena itu, ia menghaturkan terima kasih kepada semua panitia yang berasal dari IMF, Bank Dunia, maupun Panitia Nasional Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018.

Lagarde menyebut, mereka semua bekerja dengan baik dengan dukungan dan bantuan Presiden Joko Widodo. Lagarde mengaku terkesan dengan sambutan warga Bali dan Indonesia kepada semua delegasi. Ia begitu tersentuh dengan senyuman dan kemurahan hati yang diberikan oleh semua orang selama berada di Bali.

Begitu juga Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim memuji Indonesia dalam mengatasi bencana, mengurangi kemiskinan. Jim juga memuji pidato Presiden Jokowi soal ancaman kompetisi negara maju, termasuk terhadap negara maju itu sendiri.

Jim Yong Kim juga memuji persiapan matang pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan rangkatan Pertemuna Tahunan IMF-WB 2018. Persiapan matang itu dilakukan di tengah kesulitan Indonesia karena sedang menghadapi bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Kami berdiri tegak dengan Indonesia. Kami mendukung sepenuhnya pemerintah dan masyarakat Indonesia,” ujar Yong Kim.

Bahkan Jim menawarkan pinjaman US$1 miliar kepada pemerintah Indonesia untuk membantu merekonstruksi dampak gempa di NTB, Palu, Sigi dan Donggala.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati sendiri kehadiran 34.000 peserta telah menciptakan 2.000 events, konsumsi makanan dan minuman, transportasi dan akomodasi, belanja dan hiburan, dan belanja wisata ke berbagai destinasi.

Belanja yang dilakukan para delegasi Annual Meeting tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan potensi penerimaan devisa. Manfaat intangible yang juga diperoleh bagi Indonesia adalah promosi wisata dan showcase kemajuan ekonomi Indonesia kepada dunia, melalui lebih dari 1.000 Jurnalis berbagai media internasional yang hadir. Kehadiran ribuan Delegasi/ Peserta pada saat low-season di bulan Oktober, diharapkan akan dapat menggerakkan roda perekonomian Bali terutama di sektor MICE, pariwisata, sektor jasa, industri kecil dan sektor pendukung lainnya.

Paling tidak ada empat sektor yang terangkat selama masa Annual Meeting IMF-WB tersebut, yakni sektor perhotelan, kuliner, transportasi dan wisata.

Bahkan lebih dari itu, sedikitnya dari 79 proyek dari 14 BUMN senilai Rp630 triliun yang ditawarkan kepada para investor global di forum Annual Meeting IMF-WB, 21 proyek diantaranya senilai Rp207 triliun sudah siap didanai oleh investor global dan lokal.

Ini menandatangan bahwa forum Annual Meeting IMF-WB ada manfaatnya. Hanya saja kritiknya adalah sebagian besar dari proyek tersebut berupa strategic partnership, dan sebagian lagi berupa pinjaman komersial. Artinya ada sejumlah saham yang harus berpindah tangan atau cicilan pokok dan bunga yang harus dikembalikan.

Lepas dari itu semua, nampaknya keberhasilan Annual Meeting IMF-WB berhimpitan dengan duka bencana yang tak hanya berhenti di Lombok (NTB), tapi juga merambat ke Palu, Sigi, Donggala, tapi juga ke Sulawesi Utara (Gunung Soputan), gempa di Situbondo, banjir bandang di Mandailing Natal, dan entah bencana apalagi di muka.

Pemerintah terlihat begitu sigap dan terencana dengan matang ketika menggarap Annual Meeting IMF-WB sehingga pantas mendapat pujian. Tapi pemerintah terlihat gagap dan tak berdaya dalam mengatasi dampak bencana yang dapat dilihat masih minimnya bantuan makanan dan sempat terjadi penjarahan.

Padahal, kata Nabi Muhammad saw, keberhasilan seorang pemimpin dan dia terbebas dari tuntutan api neraka adalah ketika dia peka dan responship ketika mengatasi masalah yang dihadapi orang orang yang tengah dilanda kesulitan. Musibah yang melanda rakyat kecil.

Semoga setelah ini pemerintah menunjukkan empati dan keseriusannya mengatasi dampak gempat yang seperti bersahut-sahutan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here