“Tebalnya” Tembok Penjara Persulit Usut Jaringan Narkoba

0
80

Nusantara.news, Surabaya –  Tingkat penyalahgunaan narkoba di Jawa Timur terus meningkat tiap tahun. Mirisnya, berkolaborasi dengan kaki tangan lokal ada peran sindikat asing dalam memicu peningkatan itu. Terutama jenis sabu yang diprediksi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Brigjen Pol Amrin Remico, masih akan mendominasi. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2017 ini trend narkoba jenis sabu dan ekstasi. Diikuti ganja dan pil koplo,” katanya ketika memberi rilis kepada wartawan, Senin (9/1/2017) di Surabaya.

Prediksi itu berkorelasi dengan meningkatnya pengungkapan kasus narkoba Polda Jawa Tuimur sepanjang 2016. Analisa dan evaluasi (Anev) akhir tahun kepolisian, terungkap 4.434 kasus narkoba dengan jumlah tersangka 5.524. Angka itu meningkat 27,89 persen dari sisi pengungkapan kasus dan 29,52 persen dari jumlah tersangka dibanding periode 2015.

BNNP pun merasa koordinasi lintas sektoral masih belum cukup untuk meredam peredaran gelap narkoba di Jawa Timur. Apalagi status darurat narkoba yang dicanangkan pemerintah kerap terbentur beberapa kendala. Di antaranya sikap kebanyakan orang belum mau sembuh secara pribadi, meskipun sudah direhabilitasi. Sehingga kebutuhan terhadap narkoba jenis ini masih terus ada.

Selain itu, berbeda dengan kepolisian, ada elemen lain yang justru menjadi kekhawatiran tersendiri pengawasan dan penindakan narkoba tidak berjalan. Yakni yang melibatkan lembaga struktural di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Sumber antara.news menyebutkan, peredaran narkoba selain merekrut aparat penegak hukum juga sulit diberantas karena sebagian pengendali di Indonesia ada di balik jeruji penjara.

“Itu yang menyulitkan pemberantasan narkoba. Narapidana yang ada di dalam masih bisa mengendalikan lalu lintas narkoba. Jika pihak lapas (lembaga pemasyarakatan, RED) membuka pintu, tidak sulit kok untuk menelusuri. Lihat saja kasus yang melibatkan Fredi Budiman. Kendati sudah divonis mati namun dengan uang melimpah, masih bisa hidup nyaman sebelum jalani hukuman tembak,” terangnya.

Indikasi ini memang diperkuat dengan hasil Anev 2016 Polda Jawa Timur. Dari total 5.524 tersangka yang diamankan, 18 diantaranya berstatus narapidana dengan posisi sebagai bandar. Jumlah itu meningkat 260 persen dari pengungkapan 2015. “Setelah sering masuk berita, memang akses pemeriksaan lapas lebih terbuka. Begitu juga pengawasan komunikasi terpidana narkoba dengan pihak luar lebih ketat. Jika terbukti, hukum saja lebih berat,” beber salah satu personel lapangan tim pemberantasan narkoba Polda Jawa Timur tersebut.

Selain sabu, BNNP kata Amrin tengah memantau adanya peredaran narkoba jenis baru seperti tembakau gorilla. “Tembakau gorilla berbeda dengan ganja, karena tembakau ini sudah dicampur dengan zat-zat kimia lain, sehingga efeknya lebih berat dan dahsyat daripada ganja,” paparnya. Sebab ada kekhawatiran, selain efek yang lebih merugikan secara kesehatan, barang baru ini mengincar pasar generasi muda dengan faktor harga yang relatif murah.

Dia mengimbau dan meminta kerjasama dari masyarakat terkait informasi peredaran jenis ini maupun yang lainnya. “Nantinya informasi dari lingkungan masyarakat inilah yang akan kita selidiki, selain daripada penyelidikan yang dilakukan petugas kami. Apa yang tidak kami ketahui di lingkungan masyarakat, bisa kami dapatkan informasinya,” pungkasnya.

Putaran uang yang cukup besar dari bisnis haram ini, menjadi penggoda iman siapa saja. Tak terkecuali aparat penegak hukum maupun tokoh masyarakat. Padahal dampak buruk jika sampai terlena, kadar bahayanya lebih dari serbuan teroris atau asing. Butuh figur tegas seperti Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk mengawal pemberantasan narkoba agar bangsa Indonesia selamat dari godaan itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here