Tegang Bersama Lion Air

0
476
Sebanyak 189 penumpang Lion Air GT-610 dinyatakan hilang di Teluk Karawang setelah pesawat itu jatuh dan pecah berkeping-keping.

Nusantara.news, Jakarta – Suasana tegang kerap kali menghidapi penumpang pesawat udara. Namun dengan berbagai kejadian yang melanda Lion Air, bahkan hingga menyebabkan korban jiwa, ketegangan massal dengan durasi yang panjang pun tak bisa dihindari para penumpang.

Ketegangan bersama Lion Air itu terjadi mulai dari menunggu kedatangan pesawat, saat memasuki kabin pesawat, saat take off, saat di udara, dan terutama saat kecelakaan itu terjadi. Kejadian ini dialami oleh penumpang sehari sebelum kecelakaan dan pada saat kecelakaan itu terjadi.

Sebagaimana diungkapkan Supriyanto, pegawai Departemen Keuangan yang bersama 52 teman sekantornya selepas menuaikan tugas di Bali, menaiki pesawat Lion Air. Ia naik Lion Air dengan nomor penerbangan JT-43, jadwal keberangkatan dari Denpasar pukul 19:30 pada Minggu (28/10).

Namun setelah menunggu beberapa jam ada pengumuman bahwa pesawat delay hingga pukul 21:50 waktu setempat. Sampai akhirnya dikabarkan diganti nomor penerbangan Lion Air JT-610 dengan jadwal 21:50, sambil diberikan makanan dan minuman kardus. Masa tegang pertama menunggu hingga delay berhasil dilalui Supriyanto, teman-teman sekantor dan seperjalanan.

Namun pukul 21:15 Supriyanto, memasuki ketegangan kedua, karena ia dan penumpang lainnya pada pukul 21:15 diminta masuk kabin pesawat. Ini tentu keputusan lebih awal dari jadwal delay yang dijanjikan. Ternyata terkonfirmasi memang ganti pesawat, saat akan naik ke pesawat ia melihat banyak orang sibuk di bawah pesawat seperti mereparasi mesin.

Setelah memasuki kabin, Supriyanto duduk di bangku nomor 2D, ia menyaksikan intensitas kesibukan makin tinggi. Ada teman seperjalanan yang sempat mengabadikan logo Lion Air JT-610 PK-LQP yang menempel di bagian pesawat.

Ketegangan ketiga, dirasakan Supriyanto dan kawan-kawan adalah ketika di udara dimana cuaca relatif baik. Saat pesawat take off, terasa sekali kalau ada mesin ngegas suara kurang enak. Pas naik terjadi anjlok, naik lagi, anjlog lagi. Setelah naik kami melihat ada pilot dua tiga kali keluar, salah satunya ada yang mengambil koper, buka sesuatu untuk dibawa.

Tak tahu apa yang diambil. Di tempat duduk pramugari di depan pintu pilot, ada buku instruksi atau manual sangat tebel. Sepertinya kru berusaha memperbaiki permasalahan teknis di udara.

Sementara Dia, penumpang sekantor dengan Supriyanto menambahkan, menggambarkan ketegangan di udara. Wanita yang duduk di kursi 21C menceritakan sejak diumumkan delay dirinya bersama teman-teman merasa tidak enak. Namun ia buang rasa tidak enak tersebut yang penting penerbangan selamat sampai Jakarta.

Ketegangan saat take of, menurut Diah, begitu kencang. Mesin pesawat digas langsung turun. Digas lagi turun lagi lebih kencang, bahkan terasa goyang. Tapi akhirnya pilot berhasil mengatasi keadaan.

“Saat pesawat anjlog, para penumpang pada teriak Allahu akbar, setelah itu penumpang masing-masing berdoa karena situasi sangat mencekam. Seumur-umur saya baru mengalami kejadian seperti itu, goyangnya terlalu keras,” jelas Diah di Jakarta semalam.

Setelah di udara, di belakang pesawat, co-pilot berusaha mengeluarkan koper, semua penumpang berdoa karena kondisinya terasa genting. Co-pilot itu masuk cock pit, keluar lagi, tidak terlalu jelas apa yang dilakukan karena terhalang gorden. Hingga situasi perjalanan relatif stabil sampai menjelang landing.

Dalam perjalanan, Diah dan beberapa teman sempat mencium bau gosong, seperti kanvas rem atau kabel hangus. Itu yang menambah penumpang sangat khawatir, situasi semakin tegang. “Kalau bawa mobil bau seperti itu kita bisa minggi, kalau di pesawat bagaimana? Ini yang membuat kami tegang,” tambah Diah.

Mendekati bandara Seokarno-Hatta seperti biasa diinformasi bahwa pesawat akan landing. Diah menjelaskan proses landing-nya pun mengalami goncangan yang keras, tidak seperti biasanya. Untung saja saat landing pesawat selamat dan penumpang menghela nafas lega.

Di bandara Soekarno-Hatta, Diah dan teman-teman seperjalanan saling berpelukan sambil menangis dan bersyukur karena masih selamat. Dia berpikir pesawat itu tak digunakan lagi pada penerbangan berikutnya sampai perbaikan selesai.

“Kami pergi sekantor 52 orang, kami saling menangis berpelukan mengingat kejadi anjlog dua kali. Sudah kebayang bagaimana kalau pesawat itu jatuh,” kata Dia.

Besoknya pesawat itu ternyata terbang lagi ke Pangkalpinang, pada pukul 06:32 ternyata diumumkan sudah kehilangan kontak. Diah baru mengetahui sekitar pukul 06:45. “Kami berseloroh jangan-jangan pesawat yang kita tumpangi semalam. Saya terus memantau televisi, ternyata benar Lion Air JT-610 jatuh di Tanjung Karawang.

“Kalau mengingat ketegangan bersama Lion Air GT-610 kita bersyukur karena lepas dari maut, saat menaiki maut seperti sudah ngawe-awe kita. Maka hari Selasa kami selamatan bersyukur tidak ikut jadi korban. Semoga kami diberi tambahan umur agar tambah ibadah,” jelasnya.

Cerita lain disampaikan Inci, istri dari Paul Ferinan, penumpang yang ikut jadi korban pesawat Lion Air menunju Pangkalpinang. Tidak seperti biasa, Paul merekam situasi di ruang tunggu hingga masuk ke kabin pesawat.

“Pada pukul 05:45 Paul sudah masuk pesawat dan dia mengirim video suasana ruang tunggu hingga masuk pesawat,” jelas Inci.

Warga Kembangan, Jakarta Barat, mendapat duduk di bangku 24B mengirim video ke istrinya. Setelah melihat video Inci tak mendapat firasat apa-apa, sampai pukul 09:00 harusnya sudah landing. Seperti biasa Paul mengirim sms atau wa setelah landing saat bepergian, tapi kali itu tidak.

“Akhirnya saya yang inisiatif aktif kirim sms dan wa, berbarengan dengan itu ada kabar Lion Air GT-610 hilang kontak, maka saya terus aktif sms dan wa. Karena tak dijawab saya telepon setiap 5 menit Pukul 11:00 pun kami keluarga berkumpul untuk berdoa untuk keselamatan Paul.

Video itu menggambarkan perjalanan Paul dari ruang tunggu ke pesawat. Inci sendiri baru melihat video pukul 06:30. Sampai pukul 09:00 harusnya sang suami sudah landing, di sms, di wa belum menjawab.

Setelah beberapa lama Inci melihat youtube dan mendapat kabar Lion Air JT-610 hilang kontak. Saya berusaha menelpon berulang-ulang suami tak pernah dijawab, setiap 5 menit ia menelpon. Sampai jam 11:00 sudah kumpul dengan keluarga untuk mendoakan yang terbaik.

“Terus terang kami masih berharap suami saya selamat,” kata Inci.

Kecelakaan atau salah teknis

Jatuhnya pesawat Lion Air GT610 benar-benar mengundang misteri, mengingat cuaca dirasakan sangat bersahabat, mesin dinyatakan siap, pilot dan co-pilot punya jam terbang tinggi, bahkan pesawat baru dipakai dua bulan.

Direktur Utama Lion Air Edward Sirait mengakui memang ada kendala teknis dalam penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng pada Minggu (28/10) malam. Namun pesawat dalam keadaan layak terbang, sudah diperiksa oleh para teknisi. Kendala teknis Denpasar-Jakarta sudah diperbaiki, sehingga penerbangan Jakarta-Pangkalpinang dianggap layak terbang.

Jika pesawat rusak, menurut Edward, mustahil bisa diizinkan terbang. Karena semua kendala teknis sudah dibereskan.

Pada sisi lain, pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boieng 737 MAX 8 itu tergolong sangat baru. Pesawat ini selesai dibuat tahun 2018. Lion Air menerima pesawat itu dari Boeing pada 13 Agustus 2018, dan mulai mengoperasikannya secara komersial pada 15 Agustus 2018.

Selain itu, pesawat diterbangkan kapten pilot Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin dan tiga pramugari yang sedang menjalani pelatihan. Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan kopilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang.

Keduanya adalah penerbang yang sangat berpengalaman, juga dalam menerbangkan pesawat ke luar negeri seperti ke Cina dan Timur Tengah. Pada saat terbang, diketahui cuaca sangat kondusif. Lantas mengapa pesawat Lion Air itu celaka? Adakah sabotaze? Atau ada kendali di luar pilot? Atau memang ada faktor lain?

Untuk menghindari spekulasi macam-macam, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam rapatnya hari ini telah membebastugaskan atau memecat Direktur Teknik Lion Air Muhammad Asif. Sementara manajemen Lion Air telah menunjuk Muhammad Rusli sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

Hal itu dilakukan demi mempermudah pemeriksaan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tujuannya agar pemeriksaan dilakukan dengan baik dan terang benderang prosedur apa yang benar dan yang salah.

Pasalnya, saat ini KNKT sendiri sedang melakukan pemeriksaan terhadap Lion Air. Bahkan di Kementerian Perhubungan sendiri, melalui Direktur Kelaikan Kemenhub akan mengevaluasi peristiwa kecelakaan tersebut.

Semoga para aparat diberi kemudahan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga Lion Air berhak mendapat hukuman yang setimpal dengan kelalaian yang dilakukan.

Dan yang terpenting, bagaimana ke depan para penumpang tidak tegang lagi menggunakan penerbangan murah low cost carrier sekelas Lion Air.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here