Teganya Mafia Menekan Harga Ayam Ke Titik Terendah

0
282
Harga ayam di tingkat pengecer dalam dua bulan terakhir anjlok hingga ke titik terendah, antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Ditengarai anjloknya harga ayam dipermainkan oleh mafia.

Nusantara.news, Jakarta – Sepertinya ada yang tak beres dalam tata kelola perdagangan ayam dalam beberapa pekan terakhir. Harga ayam di tingkat peternak anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah, situasi tidak biasa ini ditengarai sebagai permainan mafia.

Penurunan harga ayam terjadi sejak 30 Mei 2019, dimulai dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, lalu diikuti Jawa Barat pada 9 Juni 2019. Namun harga ayam di Jawa Barat relatif lebih baik dibandingkan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Secara kasat mata, berdasarkan informasi dari peternak mandiri maupun perusahaan perunggasan, penurunan harga disebabkan over supply di tingkat peternak. Namun di belakang itu semua penurunan ini diduga dipicu oleh permainan para mafia yang mengayun-ayun harga ayam hingga ke titik terendah.

Harga ayam di tingkat peternak anjlok jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) sejak beberapa waktu terakhir. Para peternak menaksir kondisi tersebut menyebabkan kerugian hingga Rp700 miliar per bulan. Bahkan beberapa peternak ada pula yang mengkalkulasi kerugian itu mencapai Rp2 triliun.

Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menyatakan, kelompok peternak mandiri kecil rata-rata memproduksi sekitar 14 juta ekor  ayam per minggu atau 20% dari total produksi nasional. Dari angka tersebut, dia mengkalkulasikan kerugian tadi.  Itu rugi yang ditanggung oleh seluruh peternak mandiri kecil.

Ketua Harian Gopan Sigit Prabowo mengatakan anjloknya harga ayam ada peternak yang merugi hingga Rp15 ribu per ekor. Harga di Solo bahkan sudah mencapai Rp5 ribu per kilogram, sementara HPP Rp18.500.

Saat ini, total produksi ayam nasional mencapai 67 juta ekor per minggu. Biaya produksi ayam untuk kandang tradisional Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram, dan Rp16.500 per kilogram untuk biaya produksi pada kandang modern sebesar. 

Dengan jumlah produksi dan biaya yang tinggi, Sigit menilai jumlah ayam di tingkat peternak perlu ditekan. Sebab, dalam sepekan, jumlah ayam bisa menumpuk 2-3 juta ekor. Dalam sebulan, paling tidak penumpukan mencapai 12 hingga 13 juta ekor ayam.

Pengendalian Oversupply Ayam Pemerintah tengah mencari cara mengatasi kelebihan pasokan ayam yang menyebabkan peternak tertekan. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahja Widayanti mengatakan harga ayam hidup (live bird) pada 23 Juni 2019, terutama di Pulau Jawa terus bergerak turun menjadi rata-rata Rp9.883 per kilogram.

Di level peternak, berupaya menahan kejatuhan harga ayam lebih lanjut dengan cara membagi-bagi 5.000 ayam gratis, sebagaimana dilakukan di Yogyakarta. Sementara PT Charoen Pokphand Jaya Farm, di Desa Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memilih cara memusnahkan telur ayam siap tetas berumur 19 hari sebanyak 332.000 butir. Telur-telur itu dihancurkan untuk mengurangi produksi dan menstabilkan harga ditingkat perternak. 

Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan berusaha melakukan beberapa cara untuk mengendalikan harga. Pertama, meminta Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) untuk membeli karkas dari peternak.

Pembelian dilakukan sesuai harga acuan sebesar Rp18.000 per kilogram seperti yang tercantum melalui Surat Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Nomor 130/PDN/SD/5/2019. Kementerian juga menerbitkan Surat Dirjen PDN Nomor 158/PDN/SD/6/2019, sebagai tindak lanjut hasil keputusan rapat koordinasi perunggasan di Solo.

Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan menyarankan  agar perusahaan integrator, peternak mandiri, maupun peternak UMKM untuk membagikan liver bird atau karkas kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembagian karkas dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR). 

Kedua, pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian memangkas produksi anak ayam usia sehari (DOC FS) sekitar 30%. Tapi langkah ini belum berpengaruh signifikan karena perlu waktu koordinasi antarpelaku.

Untuk mengawasi peredaran stok daging ayam ras, Kemendag juga melakukan pengawasan stok daging ayam ras di seluruh gudang pendingin (cold storage) milik anggota Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) khususnya di Jawa. Sementara terkait kemungkinan terjadinya penurunan permintaan di tingkat konsumen, Kemendag belum menerima informasi dari Dinas Perdagangan maupun dari instansi lainnya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman bersama peternak ayam ras membuat target bahwa dalam waktu tujuh hari harga ayam hidup (live bird) kembali stabil sesuai harga acuan Kementerian Perdagangan. Amran mengatakan telah meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan menelusuri pemicu rendahnya harga ayam hidup yang berada di bawah harga acuan.

Sementara Satgas Pangan terus menelusuri apa sesungguhnya penyebab jatuhnya harga ayam sampai ke titik terendah belakangan ini.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan live bird  dipatok sebesar Rp 18 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Namun di Jawa Tengah dan Jawa Timur harganya sudah ada yang menyentuh di Rp8.000 Rp10 ribu per kilogram. Bahkan ada di beberapa daerah harga ayam sudah menyentuh level Rp5.000 per ekor. Sedangkan di tingkat konsumen, harga rata-rata daging ayam mencapai Rp35 ribu Rp40 ribu per kilogram.

Amran mengungkapkan untuk menyelesaikan rendahnya harga ayam hidup, Kementan telah mengundang secara maraton para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi dan solusinya. 

"Ada disparitas harga yang sangat tinggi antara harga dari peternak dan harga di tingkat konsumen. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah, sehingga kami minta Satgas Pangan melacak oknum yang bermain dalam situasi ini, dan diberi sanksi yang berat," kata Amran.

Kementan bakal menambah jumlah personil Satgas Pangan untuk mencari pihak yang bermain di balik anjloknya harga ayam hidup karena telah meresahkan peternak. Amran menduga anjloknya harga ayam karena ulah mafia, itu sebabnya Satgas Pangan sedang menyelidiki.

Amran menduga ada peran broker atau tengkulak nakal di balik anjloknya harga ayam potong di sejumlah daerah. Dugaan itu muncul juga karena disparitas yang tinggi antara harga di tingkat peternak dan konsumen.

Untuk menelusuri peran para broker, Amran berencana menerjunkan tim Satgas Pangan di daerah sentra penghasil ayam potong, yakni di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung.

"Kami masih menunggu laporan lanjutan. Kalau ada yang berani bermain-main, kami tidak segan-segan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi berat," katanya.

Sementara Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan untuk memperpanjang penyelidikan terkait anjloknya harga ayam di tingkat peternak. Sebab, selisih antara harga ayam ras potong (live bird) di peternak dengan karkas di pasar terlampau jauh.

Anggota Komisioner KPPU Guntur Saragih mengatakan, harga ayam ras potong di peternak saat ini berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. Rasio disparitas harga jual antara ayam ras potong dengan karkas, normalnya 1,6 kali lipat.

Artinya, menurut Guntur, harga ayam karkas di pasar semestinya sekitar Rp13 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram. Tetapi di pasar, harga ayam karkas Rp30 ribu hingga Rp34 ribu per kilogram.

Guntur menduga ada yang tidak efisien di rantai pasok perdagangan ayam. Hal itu terjadi di bagian perantara, yang terlihat dari selisih antara harga ayam ras dengan karkas yang dianggap tidak normal.

"Kami melihat, ada kerja pasar yang tidak baik, dalam hal ini middle man,” katanya. Middle man dimaksud bisa jadi pedagang di tingkat tengah atau mafia yang sengaja mengayun-ayun harga.

Lantas siapa persisnya mafia dimaksud? Kita tungu langkah nyata Satgas Pangan, moga-moga segera menemukan mafia dimaksud.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here