Teka-teki Kunjungan Raja Salman

0
531

Nusantara.news – Kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia tampaknya bakal disambut dengan karpet merah. Sejumlah persiapan dilakukan, melebihi penyambutan kepada para pemimpin dunia lainnya. Dalam sepekan terakhir saja, media sudah ramai memberitakan peristiwa ini, plus dibumbui dengan kehebohan-kehebohan yang menyertainya.

Ada apa sebenarnya di balik gemerlap kemewahan dan gegap gempita kedatangan raja dari negeri petro dolar ini, apakah serius ingin berinvestasi atau sekadar habiskan miliaran dollar untuk semata-mata berkunjung sambil menikmati liburan?

Dimulai dari jumlah rombongan yang fantastis, yaitu 1.500 orang dengan 10 menteri dan 25 pangeran di dalamnya, diangkut dengan 7 pesawat boeing dengan sekitar 20 kali penerbangan, hingga barang bawaan yang tak biasa, seberat 459 Ton, termasuk furnitur, eskalator, hingga Mercedes-Benz S600 Class.

Bisa dimaklumi kalau raja Arab disambut sedemikian rupa, bagaimanapun Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan Arab Saudi merupakan destinasi reliji kaum muslim setiap tahun untuk ibadah haji dan sepanjang tahun untuk umrah.

Meskipun ada juga sebagian yang menanggapi kedatangan sang raja dengan nada sinis. Dianggap hanya menghambur-hamburkan uang, seperti kebiasaan para pangeran Arab ketika liburan ke luar negeri, ada juga yang menduga kunjungan adalah agenda memperkuat penyebaran faham Wahabi dan membendung Syiah dengan menggelontorkan dana-dana bantuan ke sejumlah pihak di Indonesia.

Salman dijadwalkan mengunjungi Indonesia dari tanggal 1 hingga 9 Maret 2017. Dia diagendakan bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, lalu berkunjung ke DPR RI, Masjid Istiqlal, hingga liburan ke Pulau Dewata, Bali selama lebih dari satu pekan.

Gedung DPR dipercantik menyambut kedatangannya yang dianggap monumental dan langka dalam sejarah, kunjungan terakhir raja Arab ke Indonesia terjadi 47 tahun lalu ketika itu Raja Faisal mengunjungi Presiden Soeharto. Selain itu, terbilang jarang raja Salman berkunjung ke luar negeri. Makanya peristiwa ini dianggap langka dan penting.

Sejak menjadi Raja, biasanya Salman lebih banyak mendelegasikan tugas-tugas kerajaan kepada Muhammad sang putra mahkota dan Muhammad yang lain sang wakil putra mahkota. Termasuk berbagai kunjungan kenegaraan untuk bertemu dengan para pemimpin dunia, seperti Presiden Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, dan sebagainya.

Kunjungan Raja Faisal ke Indonesia 47 tahun lalu

Sebuah tangga berjalan disiapkan di dalam gedung dewan, untuk memudahkan sang raja berjalan, mengingat usianya yang sudah sepuh (81 tahun). Kompleks masjid Istiqlal juga disiapkan untuk menyambut kedatangan ‘Khadim al-Haramain’ ini, sebuah lift baru yang menghubungkan ruang VVIP dengan ruang salat pun telah rampung dibangun. Pembangunan sengaja dilakukan setelah ada konfirmasi kepastian kedatangan Salman.

Keamanan super ketat untuk lokasi-lokasi kunjungan Salman tentu sudah dipersiapkan oleh pihak keamanan Pemerintah RI bekerja sama dengan Kedutaan Besar Arab Saudi, apalagi kunjungan ini disertai jumlah delegasi yang luar biasa gemuknya.

Di tengah harapan dan pesimisme sebagian masyarakat Indonesia, apa sebenarnya makna kunjungan Raja Arab ke Indonesia?

Kedatangan Salman ke Indonesia sebetulnya adalah rangkaian tur kenegaraan Arab Saudi ke kawasan Asia, selain Indonesia, Malaysia, Cina, Jepang, dan Maladewa adalah negara-negara di kawasan Asia yang dikunjunginya, total kunjungan selama 31 hari.

Kunjungan Salman ke kawasan Asia terkait program reformasi ekonomi yang telah diluncurkan pemerintah Arab Saudi pada 2016 lalu. Jadi, ini semacam perubahan arah angin kebijakan geoekonomi Arab Saudi.

Progam itu diluncurkan Deputi Putra Mahkota Mohammad bin Salman. Tujuannya mengubah kebijakan ekonomi sebagai upaya diversifikasi ekonomi dan modernisasi tatanan masyarakat.

Semua tahu, selama ini lebih dari 85% penerimaan Arab Saudi berasal dari minyak bumi. Penurunan harga minyak bumi secara tajam pastinya memaksa negara itu memikirkan kembali strategi ekonominya. Pada 2015, defisit anggaran Arab Saudi sudah mencapai 366 miliar riyal (98 miliar USD).

Untuk menambal anggaran yang bolong, Arab Saudi terpaksa berutang. Ini untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, dimana negara itu berutang hingga 17,5 miliar USD ke perbankan internasional.

Arab Saudi sudah memangkas subsidi energi, memotong gaji pegawai, dan melakukan penghematan selama 4 tahun.

Rencana transformasi ekonomi Arab Saudi mencakup pemotongan subsidi, kenaikan pajak, penjualan aset negara, efisiensi pemerintahan, dan menaikkan investasi asing.

Bagian lain dari Visi 2030 Arab Saudi adalah privatisasi sebagian saham perusahaan minyak negara, Saudi Aramco serta transformasi Public Investment Fund jadi lembaga pengelola kekayaan terbesar di dunia. Ini yang sudah dibuktikan di Malaysia.

Berapa yang akan diinvestasikan Raja Salman ke Indonesia?

Jumlah pasti investasi yang akan dilakukan Raja Salman masih menjadi teka-teki. Ada yang menyebut angkanya hingga Rp300-an triliun, namun angka tersebut dinilai terlalu tinggi jika melihat kondisi Arab Saudi saat ini yang tengah dibelit utang, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah negara itu.

Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan Raja Salman akan membawa investasi senilai sekitar 7 miliar USD.

“Mereka akan membangun kilang dan petrokimia, dan mungkin juga yang lain. Jadi ini urusan investasi,” ujar Darmin Jumat (24/2) lalu.

Dalam kunjungannya, Raja Salman akan menandatangani sejumlah investasi antara Saudi Aramco untuk proyek di Cilacap sebesar 6 miliar USD. Kemudian ada juga penandatanganan proyek lain yang mencapai 1 miliar USD.

Arab Saudi tertarik melakukan investasi di Indonesia, bukan hanya di bidang minyak bumi maupun di bidang lain seperti infrastruktur, pariwisata, dan sebagainya, meskipun secara pasti masih harus menunggu hasil pertemuan kedua pemerintahan.

Menurut Alwi Sihab Utusan Pemerintah Indonesia untuk Timur Tengah, Saudi berminat mengembangkan Padang Sumatera Barat sebagai destinasi wisata dunia karena lokasinya dekat dengan Malaysia dan Singapura. Tapi itu semua, menurutnya, tergantung dari kesiapan pemerintah Indonesia.

Lumrah, jika pemerintah Indonesia berharap lawatan sang raja kali ini mendatangkan investasi yang lumayan besar. Pasalnya, jika dibandingkan dengan negara-negara kaya minyak lain, realisasi investasi Arab Saudi sepanjang tahun lalu saja relatif masih sangat rendah.

Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi Arab Saudi tercatat hanya sekitar 900.000 USD atau sekitar Rp 11,97 miliar. Realisasi investasi ini menempatkan Arab Saudi pada urutan ke-57 dari 121 negara yang menanamkan modal ke Indonesia melalui BKPM.

Dibandingkan Irak misalnya, mencapai 2,7 juta USD setara Rp 35,91 miliar untuk pengerjaan 13 proyek. Lebih tinggi dari Irak, Kuwait yang mencapai 3,6 juta USD setara Rp 47,88 miliar.

Bahkan realisasi investasi Iran mencapai 14,3 juta USD atau sekitar Rp 190,1 miliar untuk pengerjaan 16 proyek. Iran menduduki peringkat 33 sebagai negara investor asing terbesar pada 2016.

Akankah Saudi akan menyalip investasi negara-negara Timur Tengah yang lain di Indonesia? Tentu saja kiprah Raja Salman di Indonesia masih harus kita tunggu.

Investasi di Malaysia

Minggu, 26 Februari 2017 kemarin Raja Salman tiba di Malaysia. Seperti dilaporkan Reuters, Malaysia merupakan negara pertama yang dikunjungi mengawali tur Asia.

Di Malaysia, Salman dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak membahas peningkatan kerja sama ekonomi. Saudi berencana menjual 5% sahamnya di perusahaan minyak negara Aramco pada 2018 mendatang. Saudi berharap sejumlah negara di Asia akan memanfaatkan peluang tersebut. Penjualan saham perdana (IPO) Aramco pada 2018 mendatang diperkirakan akan menjadi IPO yang terbesar di dunia.

Ke Malaysia Salman membawa delegasi 300 orang, tidak lebih besar yang dibawanya ke Indonesia Maret nanti. Adakah Indonesia lebih spesial bagi Raja Salman?

Raja Salman adalah raja Arab Saudi ketujuh. Dia lahir pada 31 Desember 1935 di Riyadh. Ayahnya Raja Abdulaziz bin Abdulrahman al-Saud dan ibunya Hassa binti Ahmad al-Sudairi.

Salman merupakan generasi kedua dari pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdul Aziz al Saud (1876-1953). Dia putra ke-25 dari 36 anak laki-laki Abdul Aziz. HIngga saat ini dia masih mempunyai 12 saudara laki-laki yang masih hidup. Usianya rata-rata sudah di atas 70 tahun.

Tidak seperti di negara monarki lain, suksesi di Saudi tidak otomatis berlangsung dari bapak ke anak. Atau ke saudara laki-laki secara urut kacang. Ketika Raja Abdul Aziz sang pendiri kerajaan wafat, yang menggantikan adalah putranya, Saud. Namun, saat Saud mangkat, penggantinya bukan anak laki-lakinya, tapi saudaranya, Faisal (putra ketiga Abdul Aziz). Ketika Faisal wafat, ia digantikan saudaranya yang lain, Khalid (putra kelima). Khalid digantikan oleh Fahd (putra kedelapan). Saat Fahd meninggal, ia digantikan Abdullah (putra kesepuluh).

Semua raja harus menjadi putra mahkota terlebih dahulu. Ketika Abdullah jadi raja, yang ditunjuk jadi putra mahkota adalah Salman (putra ke-25). Namun, untuk pertama kalinya Abdullah juga menunjuk wakil putra mahkota, Muqrin. Ia putra ke-35 dan sekaligus bungsu dari anak laki-laki yang masih hidup. Ketika Raja Abdullah wafat pada Januari 2015, Salman otomatis menggantikannya sebagai raja.

Walaupun alih kekuasaan merupakan urusan internal keluarga penguasa Saudi, namun kriteria  harus jelas dan seleksinya ketat. Seorang raja harus mempunyai kemampuan kepemimpinan, yang didasarkan pada rekam jejak prestasi pada saat menjabat di pos-pos penting kerajaan.

Sebelum jadi raja, Salman menjabat Gubernur Riyadh, menteri pertahanan, dan kemudian putra mahkota sekaligus wakil perdana menteri. Sewaktu menjabat putra mahkota, Salman bahkan telah melakukan tugas-tugas sebagai raja lantaran kondisi kesehatan Raja Abdullah menurun dalam beberapa tahun. Dia dianggap berhasil membawa Saudi sebagai salah satu negara paling stabil di kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak.

Salman hidup di lingkungan kerajaan yang menerapkan disiplin cukup ketat. Dia telah hafal Alquran pada usia 10 tahun.

Salman dikenal dengan sikapnya yang tidak diskriminatif dalam penegakan hukum di Arab Saudi. Hukum berlaku untuk keluarga kerajaan sekalipun tanpa terkecuali. Terbukti, beberapa pangeran keluarga kerajaan pernah dijatuhi hukuman di era Raja Salman.

Kejadian menarik pernah jadi sorotan media dunia, ketika Raja Salman meninggalkan sementara, Presiden AS Barack Obama untuk melaksanakan salat Ashar dalam kunjungan Presiden AS, 27 Januari 2015.

Menurut laporan tahun 2016, jumlah aset Raja Salman 18 miliar USD setara dengan Rp240 triliun. Meski bukan yang terkaya di Saudi, Salman terkenal royal. Salman pernah membagi-bagikan uang senilai Rp419 triliun kepada semua pegawai negeri (dalam bentuk dua bulan gaji), prajurit, pelajar, dan pensiunan, pada saat merayakan pengangkatan dirinya sebagai penguasa baru Arab Saudi. []

BIODATA RAJA SALMAN

Nama Lengkap

Salman bin Abdulaziz bin Abdul Rahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Mohammed bin Saud

Lahir

Riyadh, 31 Desember 1935

Karier Politik

1954-1955 : Wakil gubernur kota Riyadh

1955-1960 : Gubernur kota Riyadh

1963-2011 : Gubernur kota Riyadh

2011-2012 : Menteri Pertahanan Kerajaan Saudi Arabia

2012-2015 : Putra Mahkota Kerajaan Saudi Arabia

2015-Sekarang : Raja Kerajaan Saudi Arabia

Penghargaan

Doktor Honoris Causa dari Universitas Umm Al-Qura, Arab Saudi (2008)

Doktor Honoris Causa dari Jamia Millia Islamia, India (2010)

Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Madinah, Arab Saudi (2011)

Doktor Honoris Causa dari Institut Sains dan Teknologi Sarajevo, Bosnia Herzegovina (2013)

Doktor Honoris Causa dari Universitas Waseda, Jepang (2014)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here