Tekad Merkel Bawa Jerman Pimpin Dunia di Masa Depan

0
65
Angela Merkel sebagai tuan rumah KTT G-20 bulan Juli 2017 di Hamburg, Jerman. Foto: REUTERS

Nusantara.new, Hamburg – Bagi Kanselir Jerman Angela Merkel, saat ini dunia tengah terombang-ambing ketidakpastian. Hadirnya “orang-orang kuat” dengan kepemimpinan yang sulit diduga kerap menimbulkan kekhawatiran. Sebab itu, Merkel bertekad untuk mempertahankan tatanan Barat yang saat ini bergantung ke Jerman dan bertekad memimpin dunia di masa depan.

“Orang-orang kuat” yang dimaksud Merkel, seperti Donald Trump di Amerika Serikat, Kim Jong-un di Korea Utara, dan Vladimir Putin di Rusia, para pemimpin yang kebijakan-kebijakannya berpotensi menggoyang tatanan dunia yang ada.

Menjelang Pemilu Jerman bulan depan, tekad Merkel untuk memimpin Jerman, sekaligus memimpin Barat dan juga dunia semakin kuat. Di sejumlah kampanye, Merkel kerap menggunakan kalimat bahwa “Situasi dunia mengalami ketidakpastian” atau “segala hal telah berubah” sehingga dia berpendapat bahwa saatnya Jerman juga harus ikut bertanggung jawab.

Inilah transformasi sikap Merkel. Karena setahun lalu, dia sebetulnya menolak gagasan bahwa Jerman harus memimpin aliansi Barat yang terguncang kemenangan Donald Trump di AS. Sesuatu yang disebutnya “tidak masuk akal”. Tapi sekarang, setelah melihat sepak terjang Trump, Merkel tahu jawabannya kenapa Jerman harus mengambil inisiatif memimpin dunia, atau setidaknya memimpin Barat.

Setahun yang lalu juga, karena terjadi krisis imigran di Eropa, Merkel bahkan bertanya-tanya apakah dia harus mencalonkan kembali untuk memimpin Jerman.

“Dia bertanya pada dirinya sendiri, ‘Dapatkah saya melakukan ini? Apakah saya siap untuk ini?’” Kata seorang pembantu dekat Merkel, sebagaimana dilansir Reuters.

Tapi sekarang, dengan masalah imigran yang sudah terkendali di Jerman, Merkel yang sudah memasuki usia 63 tahun, merasa siap memimpin kembali Jerman. Elektabilitasnya pun paling moncer dibanding calon-calon lain. Dia terlihat percaya diri dalam kampanye-kampanyenya, dengan sebuah keyakinan baru: tekad untuk mempertahankan tatanan dunia yang “terancam” oleh pemimpin seperti Trump, Vladimir Putin dan Kim Jong-un.

Angela Merkel dan Donald Trump. Foto: REUTERS

Bukan hal yang mustahil jika Jerman di masa depan bisa memimpin dunia menggantikan AS. Jerman adalah negara besar dengan sejarah yang panjang. Secara ekonomi Jerman juga sekarang yang terbaik di antara negara-negara Eropa lain, setelah Inggris terpuruk pasca-Brexit yang berjalan tidak semulus yang dikira.

Jerman memiliki ekonomi pasar sosial dengan tenaga kerja berkemampuan tinggi, kapitalisasi pasar besar, tingkat korupsi yang rendah, serta tingkat inovasi tinggi. Saat ini Jerman adalah negara dengan ekonomi terbesar dan terkuat di Eropa, PDB terbesar keempat dunia, pendapatan nasional bruto terbesar kelima dunia, dan kontributor terbesar ke Uni Eropa pada tahun 2011.

Sektor jasa berkontribusi terhadap 71% total PDB, industri 28%, dan pertanian 1%. Tingkat pengangguran rata-rata negara ini menurut data Mei 2012 adalah 6,7%.

Jerman adalah pencetus ekonomi dan integrasi politik Eropa. Banyak kebijakan-kebijakan yang diusulkan Jerman dipakai sebagai kebijakan Uni Eropa. Jerman pula-lah yang memperkenalkan mata uang bersama Eropa saat ini, euro, pada 1 Januari 2002. Kebijakan moneter Uni Eropa diatur oleh Bank Sentral Eropa yang berkantor pusat di Frankfurt Jerman.

Angela Merkel dan Vladimir Putin. (Foto: REUTERS)

Dari 500 perusahaan terbesar di dunia (berdasarkan pendapatan) yang ditulis oleh Fortune Global 500, 37 di antaranya berkantor pusat di Jerman. Perusahaan-perusahaan Jerman yang terkenal di antaranya Mercedes-Benz, BMW, SAP, Siemens, Volkswagen, Adidas, Audi, Allianz, Porsche, Bayer, Bosch, dan Nivea. Jerman juga terkenal karena spesialisasi perusahaan kecil dan menengahnya (UKM).

Melihat sederet keunggulan negara itu, adalah hal yang wajar jika di tengah situasi dunia yang “kehilangan” pemimpin dengan mundurnya AS dari panggung global, kanselir Jerman Merkel bertekad ingin memimpin dunia.

Terhadap Korea Utara, menurut sumber pejabat senior Jerman, Merkel menyatakan siap menawarkan upaya diplomatik dan politis jika diperlukan. Jerman adalah satu dari sedikit negara Barat yang memiliki kedutaan di Pyongyang dan bersedia melakukan upaya diplomasi.

Pada saat yang sama, Merkel menggunakan hubungan berbasis perdagangan yang telah dipeliharanya dengan Cina untuk menekan Beijing agar membantu meredakan perselisihan Korea Utara, seperti juga yang dilakukan AS.

Sejak April tahun lalu, Angela Merkel sebetulnya mulai menyadari bahwa Jerman harus memainkan peranan penting di luar Eropa. Dia melihat dengan jelas betapa dekatnya Suriah dan Ukraina. “Ini kawasan Eropa,” katanya.

Reaksi Merkel pertama saat itu adalah bekerja sama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan sebuah kesepakatan untuk membendung aliran migran dari Suriah dengan imbalan bantuan ekonomi dari UE.

Sekarang, Merkel ingin memperlambat arus pengungsi dari Afrika dengan “Marshall Plan” yang baru untuk memberi investasi dan pertumbuhan bisnis yang dapat meyakinkan orang-oarang Afrika untuk tetap tinggal di negaranya.

Di Ukraina, Merkel juga berperan, bersama dengan Prancis dia merespon secara diplomatik terhadap campur tangan Rusia, meskipun masih belum menghasilkan perdamaian.

Tekad Merkel tak lepas dari sikap presiden AS yang baru Donald Trump yang cenderung “mengisolasi” diri serta berniat mundur dari upaya bersama memperbaiki tatanan global. Trump telah mundur dari berbagai kesepakatan internasional, salah satunya kesepakatan Iklim Paris 2015. Dengan begitu AS dianggap tak peduli lagi dengan perubahan iklim di masa depan.

Sementara bagi Merkel, kebijakan iklim sangat penting untuk mengelola globalisasi dan menjadi titik tolak utama ketidaksetujuannya dengan Trump.

“Kami orang Eropa harus benar-benar membawa takdir kami  sendiri,” kata Merkel ketika Trump mengumumkan dia telah mundur dari kesepakatan perubahan iklim global Paris.

Saat itu, Merkel mendorong enam anggota G7 lain selain Amerika untuk mengeluarkan sebuah pernyataan mendukung kesepakatan perubahan iklim tersebut. Meskipun konon, ketika itu Jerman, Prancis dan Italia akhirnya sepakat. Sementara Inggris, Kanada dan Jepang tidak, mereka ikut AS.

Tapi saat G-20 digelar bulan Juli di Jerman, Merkel menjadi sorotan dunia, karena sebagai tuan rumah dia dianggap berhasil, dan berani bersikap, dimana Trump (AS) terlihat dikucilkan oleh negara-negara anggota lain. Merkel pun akhirnya berhasil menarik 19 anggota G-20, selain AS, untul tetap sepakat pada kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim.

Tekad Merkel tentu harus dibuktikan jika dia kembali terpilih sebagai kanselir Jerman untuk keempat kalinya pada pemilu bulan depan, dan akan menjadi perempuan dengan kekuasaan paling lama di negara demokrasi di dunia. Tidak mudah, sebab untuk memimpin dunia Merkel juga harus bersaing dengan di belahan benua lain yang sekarang ini ekonominya sedang berjaya, yaitu Cina. Tapi dengan modal sejarah yang panjang, bukan tidak mungkin tekad Merkel bisa diwujudkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here