Tekan Angka Penderita Kusta, Jatim Luncurkan JELITA

0
200

Nusantara.news, Surabaya – Catatan World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan negara ketiga tertinggi jumlah penderita kusta atau lepra (leprosy) di dunia setelah India dan Brasil. Dan, Provinsi Jawa Timur disebut menjadi penyumbang kusta yang cukup tinggi di Indonesia, yakni sebanyak 23%.

Data Kementerian Kesehatan RI menyebut, di Indonesia tahun 2014 jumlah penderita kusta mencapai 17 ribu jiwa. Dan, 30% di antaranya yakni 4.183 orang berada di wilayah Jawa Timur.

Sementara, data di Dinas Kesehatan Jawa Timur pada tahun 2015 penderita kusta tercatat 713 jiwa. Tahun 2016 sempat turun menjadi 590 jiwa. Pulau Madura merupakan penyumbang kusta terbanyak, yakni sebanyak 35%. Untuk prevalensi rate angka penderita penyakit kusta di daerah masih ada yang di atas 5:10 ribu penduduk, juga ada yang di bawah 1:10 ribu penduduk.

Terkait itu, Provinsi Jawa Timur meluncurkan Gerakan Jawa Timur Eliminasi Kusta (Jelita) 2017. Gerakan itu dimaksudkan untuk menekan pertumbuhan angka penderita penyakit kusta, di bawah angka 1:10 ribupenduduk. Pencanangan programnya dilakukan hari ini di Pendopo Kabupaten Pamekasan, Madura, oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Rabu (15/3/2017).

Saifullah Yusuf mengatakan, penyakit kusta di Jawa Timur merupakan masalah kesehatan serius dan harus mendapat penanganan serius pula. Menurutnya, kusta sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan manusia yang berdampak pada status sosial dan ekonomi, serta berpengaruh terhadap angka kemiskinan di Jawa Timur. Tidak dipungkiri penyakit ini dapat mengakibatkan kecacatan sehingga berimbas pada menurunnya kualitas sumber daya manusia.

“Kita ingin semua prevalensi rate-nya di bawah 1:10 ribu penduduk. Sehingga dibutuhkan kerja keras dan dukungan dari semua pihak. Sebagian masyarakat masih menganggap kusta sebagai penyakit kutukan. Bahkan, mengucilkan penderitanya dan tidak memberikan kesempatan untuk berobat, itu yang harus dirubah,” kata Saifullah Yusuf.

Lebih jauh disampaikannya, target prevalensi rate tersebut sesuai dengan target nasional untuk eliminasi kusta di semua provinsi, pada tahun 2019. Sedangkan untuk Jawa Timur ditargetkan pada tahun 2017.

Melalui Jelita, diharapkan akan ada penurunan jumlah penderita penyakit kusta di masyarakat. Salah satu cara dengan mencari orang yang dicurigai mempunyai gejala kusta dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Kemudian dilakukan pengobatan sesuai dengan ketentuan WHO yang dapat diperoleh di Puskesmas, secara gratis.

Kemudian, melakukan rehabilitasi penderita terhadap orang yang pernah terinfeksi kusta (Oyapita), dengan penanganan lebih lanjut. Selain itu, terus dilakukan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk mengetahui tindak lanjut dari permasalahan lain yang ditemukan.

“Perlu kita pahami, penyakit kusta bukan penyakit kutukan, bukan karena sihir, dan bukan penyakit keturunan. Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman seperti penyakit lainnya. Oyapita jangan dijauhi karena untuk tertular perlu kontak dengan penderita yang belum diobati dan dalam waktu yang lama secara terus menerus.,” urai Gus Ipul.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap gejala penyakit kusta dengan mengenali lima tanda di kulit yakni bercak merah, bercak putih, bercak tidak gatal, bercak tidak sakit, dan tidak sembuh dengan obat biasa. Jika terdapat ada tanda-tanda seperti di atas segera periksa ke Puskesmas terdekat, dan akan dilakukan pelayanan secara gratis.

Di kesempatan itu, Bupati Pamekasan Achmad Syafii mengatakan, guna mendukung program Jelita 2017 yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Pamekasan juga mencanangkan Pamekasan Eliminasi Kusta (Pelita), dan pencanangan program tersebut juga telah disetujui oleh DPRD setempat.

Pimpinan daerah tersebut menargetkan tahun 2019 penyakit kusta di Kabupaten Pamekasan bisa tertangani melalui program Pelita. Dengan program tersebut juga diharapkan bisa memberikan harapan kepada penderita kusta, sekaligus menurunkan jumlah penderita di kabupaten tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso menambahkan, selain dicanangkan Jelita Tahun 2017, juga diberikan paket makanan tambahan kepada 500 orang terdiri dari ibu hamil, balita, anak sekolah, dan Oyapita. Makanan tambahan yang diberikan berupa biskuit yang dirancang untuk perbaikan gizi masyarakat.

“Makanan tambahan bukan berarti menggantikan makanan utama sehari-hari, namun hanya sebagai tambahan. Untuk kualitas makanan sehari-hari harus tetap diberikan. Ini diharapkan sebagai momentum untuk memberikan peningkatan gizi pada masyarakat,” katanya.

Untuk ibu hamil dengan usia kehamilan sampai 3 bulan, sebanyak 2 keping per hari. Ibu hamil dengan usia kehamilan di atas 3 bulan sebanyak 3 keping setiap hari. Untuk balita di atas usia 1 tahun sebanyak 12 keping per hari. Untuk anak sekolah dasar sebanyak 6 keping per hari. Dan, untuk anak yang mengalami kronis seperti kusta atau TB dapat diberikan biskuit PMT sebanyak 8 keping per hari.

Sebelumnya, Saifullah Yusuf juga mengunjungi penderita infeksi kusta, Muhammad Zainal di Jalan Trunojoyo, Pamekasan. Dan, menyerahkan bantuan sekaligus makanan tambahan.

Selain mengajak masyarakat untuk tidak mengucilkan atau menjauhi penderita kusta, Gus Ipul juga langsung mencontohkan dengan merangkul penderita kusta atau mereka yang telah sembuh. Itu diikuti oleh Bupati Pamekasan dan Kepala Dinas Kesehatan yang juga merangkul lelaki berusia 65 tahun tersebut.

Zainal, warga sebatang kara, tinggal sendiri setelah diketahui menderita penyakit kusta sejak tahun 1980 an. Dalam perjalanannya, pada tahun 2016, dirinya dinyatakan sembuh 100 persen dari penyakit kusta.

Selain menemui Zainal, Gus Ipul juga berbincang dengan Sarifah, penderita kusta lainnya. Sarifah pernah menderita kusta, diawali munculnya bercak putih, dan mengalami mati rasa sejak dirinya berusia 17 tahun. Sekarang, di usia 19 tahun, dirinya dinyatakan bebas dari penyakit kusta setelah rutin melakukan pengobatan gratis di Puskesmas Kowel, Pamekasan.

Untuk diketahui, jenis penyakit kusta atau disebut Morbus Hansen, adalah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Umumnya penyakit kusta terdapat di negara sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah.

Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe penyakitnya. Secara umum, tanda-tandanya muncul bercak tipis seperti panu pada tubuh. Bercak putih pertama hanya sedikit, kemudian melebar dan menjadi banyak. Terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.

Munculnya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) tersebar pada kulit, alis rambut rontok. Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa). Gejala-gejala umum, terasa panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil,  kadang-kadang disertai iritasi, juga terkadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali, Neuritis.

Bakteri penyebab lepra secara bertahap akan menjadi kebal terhadap dapson dan kian menyebar. Ini terjadi hingga ditemukan cara pengobatan multiobat pada awal 1980-an,

penyakit ini mampu ditangani kembali.
Pengobatan pertama dilakukan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Kedua, pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson. Jika mendapati gejala diatas, penderita hendaknya harus ke Puskesmas atau dokter untuk segera mendapat penanganan.

Semoga melalui Program Jelita 2017, Jawa Timur bisa menekan angka penderita kusta. Sekaligus menjadi contoh provinsi lain untuk memperbaiki citra Indonesia dimana lembaga kesehatan dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here