Tekanan  Eksternal Kuat Pengaruhi Defisit APBN 2017

0
437

Nusantara.news, Jakarta –  Perkembangan ekonomi global saat ini sangat dinamis, terutama terkait dengan kondisi di AS pascapelantikan Presiden Donald Trump yang akan menerapkan kebijakan proteksionisme dan kenaikan harga komoditas global.

Pelemahan ekonomi dunia dan masih rendahnya harga komoditas termasuk pertambangan dan perkebunan saat menjadi tekanan eksternal yang dominan dari kondisi dalam negeri yang masih relatif stabil.

Dengan situasi dan kondisi seperti ini, pemerintah mengakui defisit anggaran dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 tidak terhindarkan. Defisit anggaran dipatok di angka 2,41 persen dari total Produk Domestik Bruto atau setara dengan Rp 330,2 triliun.

Sri Mulyani menilai, angka defisit anggaran sebesar itu didapat dari ketetapan dalam postur anggaran tahun 2017 berupa pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp 1.750,3 triliun anggaran belanja negara ditetapkan sebesar Rp 2.080,5 triliun. Defisit anggaran tahun depan masih lebih rendah dari proyeksi defisit anggaran hingga akhir tahun ini sebesar 2,7 persen dari PDB.

Menurutnya, dilihat dari sisi penerimaan pajak defisit 2,41 persen masih lebih tinggi dari ketetapan defisit tahun lalu sebesar 2,35 persen dan masih lebih rendah dari 2015 lalu sebesar 2,58 persen.Harapannya, penerimaan perpajakan tahun depan juga lebih baik dengan adanya basis data yang lebih luas dari program amnesti pajak. Targetnya, penerimaan perpajakan tahun depan lebih tinggi dari target tahun ini sebesar Rp 1.355 triliun.

Untuk itu, Sri mengatakan bahwa Kementerian Keuangan akan terus melakukan koordinasi agar realisasi APBN tidak terganggu perkembangan global meski saat ini situasi masih sesuai dengan asumsi makro.

Eric Sugandi Ekonom dari SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC), memprediksi laju defisit anggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 berada di kisaran 2,5 persen. Proyeksi defisit ini sebenarnya lebih tinggi ketimbang target defisit APBN yang ditetapkan pemerintah sebanyak 2,41 persen.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini (2017) akan mengalami defisit yang lebih besar jika dibandingkan tahun lalu. Dalam Nota Keuangan RAPBN 2017, defisit anggaran akan mencapai Rp332,8 triliun lebih, membengkak dari tahun ini yang defisitnya mencapai Rp296,7 triliun.

Mengutip situs kementerian keuangan, defisit yang membengkak ini disebabkan antara lain pendapatan pajak yang dirancang turun menjadi Rp1.539,1 triliun di 2017 dari Rp1.495,8 triliun di tahun 2016. Sedangkan penerimaan lainnya, yakni penerimaan hibah dirancang turun dari Rp1,975 triliun di tahun ini menjadi Rp1,372 triliun di tahun depan; dan penerimaan bukan pajak dirancang turun dari Rp245 triliun lebih di tahun ini menjadi Rp240,3 triliun di tahun depan.

Menghadapi tahun 2017 yang masih dihadapkan oleh potensi risiko global, pemerintah meresponnya melalui penetapan kebijakan fiskal yang kredibel, efisien dan efektif, serta berkesinambungan. Kebijakan fiskal yang tertuang dalam APBN 2017 tersebut dibingkai oleh asumsi kerangka makro yang yang telah disepakati oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) dan Pemerintah.

Berikut Asumsi Dasar Ekonomi Makro pada APBN 2017 dan Target Pembangunan pada APBN 2017.

Kesepakatan asumsi makro tersebut tidak lepas dari adanya pengaruh dari faktor eksternal dan faktor internal. Dari faktor eksternal, kondisi perekonomian dunia masih belum stabil, baik dari sisi permintaan (demand) yang masih lemah, maupun harga komoditas yang rendah. Selain itu, economic rebalancing dari negeri Tiongkok juga berimbas pada kondisi ekonomi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terakhir, kebijakan ekonomi Negara-negara maju seperti Amerika Serikat juga memiliki dampak kepada Indonesia.

Dari sisi internal sendiri, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu didorong oleh belanja infrastruktur pemerintah dalam rangka menguatkan sektor produktif sebagai penggerak pertumbuhan perekonomian. Tidak hanya itu, sebanyak empat belas paket kebijakan yang telah diluncurkan pemerintah diharapkan dapat mendorong investasi yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas ekonomi makro.

Kabar baiknya adalah Indonesia tercatat memiliki rata-rata pertumbuhan masih lebih baik dibandingkan dengan Negara-negara lainnya selama kurun waktu 2006-2015. Sementara itu, sampai dengan kuartal 3 tahun 2016, Indonesia memiliki capaian pertumbuhan ekonomi yang cukup baik sebesar 5,02%.

Selain optimis terhadap pertumbuhan ekonomi, kesehatan fundamental ekonomi Indonesia dapat terjaga dengan baik. Hal tersebut terlihat dari indikator ekonomi 2016 yang menunjukan hasil yang baik, seperti inflasi yang masih terkendali pada angka 3,02%, apresiasi nilai tukar Rupiah sebesar 2,6% dan pertumbuhan IHSG sebesar 15,3%.

Selain itu, nilai investasi langsung yang berasal dari luar negeri (FDI) maupun dari dalam negeri juga menunjukkan angka yang terus meningkat. Terakhir, pergerakan neraca pembayaran tahun 2016 terpantau surplus dengan defisit transaksi berjalan yang terjaga dan nilai cadangan devisa yang memadai.

Postur APBN 2017 dibuat di atas asumsi kerangka makro yang optimis agar mampu menghadapi berbagai tantangan perekonomian global dan domestik, serta memacu pembangunan nasional yang lebih baik di tahun 2017 dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian (prudent) dan efektivitas pelaksanaannya.

Perkembangan ekonomi global saat ini sangat dinamis, terutama terkait dengan kondisi di AS pascapelantikan Presiden Donald Trump yang akan menerapkan kebijakan proteksionisme dan kenaikan harga komoditas global.

Pelemahan ekonomi dunia dan masih rendahnya harga komoditas termasuk pertambangan dan perkebunan saat menjadi tekanan eksternal yang dominan dari kondisi dalam negeri yang masih relatif stabil.

Dengan situasi dan kondisi seperti ini, pemerintah mengakui defisit anggaran dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 tidak terhindarkan tetapi masih lebih baik dari tahun lalu. Defisit anggaran dipatok di angka 2,41 persen dari total Produk Domestik Bruto atau setara dengan Rp 330,2 triliun.

Sri Mulyani menilai, angka defisit anggaran sebesar itu didapat dari ketetapan dalam postur anggaran tahun depan berupa pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp 1.750,3 triliun anggaran belanja negara ditetapkan sebesar Rp 2.080,5 triliun. Defisit anggaran tahun depan masih lebih rendah dari proyeksi defisit anggaran hingga akhir tahun ini sebesar 2,7 persen dari PDB.

Menurutnya, dilihat dari sisi penerimaan pajak defisit 2,41 persen masih lebih tinggi dari ketetapan defisit tahun lalu sebesar 2,35 persen dan masih lebih rendah dari 2015 lalu sebesar 2,58 persen.Harapannya, penerimaan perpajakan tahun depan juga lebih baik dengan adanya basis data yang lebih luas dari program amnesti pajak. Targetnya, penerimaan perpajakan tahun depan lebih tinggi dari target tahun ini sebesar Rp 1.355 triliun.

Untuk itu, Sri mengatakan bahwa Kementerian Keuangan akan terus melakukan koordinasi agar realisasi APBN tidak terganggu perkembangan global meski saat ini situasi masih sesuai dengan asumsi makro.

Ekonom dari SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC), Eric Sugandi memprediksi laju defisit anggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 berada di kisaran 2,5 persen. Proyeksi defisit ini sebenarnya lebih tinggi ketimbang target defisit APBN yang ditetapkan pemerintah sebanyak 2,41 persen.

Besarnya defisit di tahun ini, menurut Sugandi, karena tantangan untuk memenuhi target APBN tak mudah. Apalagi, pemerintah tak bisa lagi mengandalkan program amnesti pajak seperti tahun lalu, sehingga penerimaan yang tak optimal bakal berdampak kepada semakin lebarnya ruang defisit. “Defisit APBN 2016 diperkirakan 2,46 persen dan tahun ini di kisaran 2,5 persen. Sehingga bagi APBN challenge-nya lebih besar, meski masih ada tax amnesty, tapi dana tebusan yang diharapkan pemerintah tak sebesar tahun lalu,” ujar Eric dalam acara Economic and Infrastructure Outlook 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/1/2017).

Untuk mengatasi hal itu, diharapkan pemerintah harus kreatif dengan mengintensifkan perpajakan agar bisa menggenjot penerimaan negara. Tetapi, sayangnya, langkah itu sulit dilakukan pemerintah. Makanya, APBN tahun ini agak konservatif, sehingga pemerintah harus menjaga keseimbangan primer. Itu yang perlu diwaspadai kendati pemerintah sendiri masih akan melakukan ekspansif fiskal.

Untuk mengatasi defisit anggaran ini, salah satu upaya Presiden Joko Widodo akan mencari hutang hingga Rp596 triliun. Pencarian hutang ini rencananya dengan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) pada 2017.

Menkeu Sri Mulyani juga pernah menyatakan (31/10/16) bahwa pemerintah  menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) gross sebesar Rp 596,8 triliun di 2017. Utang pemerintah tersebut akan digunakan untuk menutup defisit anggaran yang dipatok 2,41 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.

Menurut Sri, defisit digunakan sebagian untuk investasi. Kita terus menjaga agar rasio utang pemerintah terhadap PDB tetap sehat, supaya pembiayaan dari utang tidak terlalu berat, kita akan terus memperbaiki kondisi fiskal sehingga beban bunga turun dengan adanya keyakinan dari prospek kebijakan APBN yang prudent, hati-hati, tapi cukup ambisius membiayai perekonomian negara.

Dalam APBN 2017, pemerintah menargetkan untuk menekan keseimbangan primer. Dari saat ini sebesar minus Rp124,9 triliun menjadi minus Rp109,0 triliun. Dengan target defisit 2,41 persen, maka membutuhkan pembiayaan anggaran sebesar Rp330,2 triliun.

“Tapi tahun ini, penerimaan negara tak bisa sesuai ekspektasi dibanding tahun lalu. Sehingga faktor yang akan menentukan terjadi di semester pertama itu seperti apa? Memang kelihatan improvement-nya ada, tapi tidak terlalu tajam,” papar Eric.

Secara umum, kata dia, kendati beberapa lembaga seperti Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 membaik, namun dirinya mengkhawatirkan faktor global. Hal ini lebih karena kebijakan Donald Trump yang masih belum jelas.

Proyeksi mereka itu belum menghitung dampak kebijakan proteksionisme dari Trump. Sebab ekonomi AS (Amerika Serikat) akan tumbuh 2,2 persen dari yang hanya 1,6 persen di 2016. Sehingga mereka akan menaikkan suku bunga (the Fed fund rate). Itu yang perlu diantispasi. [] (IB)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here