Teladan dari Tentara Muda

0
266

LIMA orang perwira muda TNI yang menolak mendapat penghargaan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Panglima TNI kemarin adalah teladan yang langka. Tidak sembarang prajurit bisa mendapatkan anugerah itu. Setiap prajurit TNI dan Polri yang diberikan kenaikan pangkat luar biasa itu pasti telah meraih prestasi yang luar biasa pula.

Itu sebabnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku sangat terharu mendengar ada anak buahnya yang menolak diganjar penghargaan tersebut, karena merasa mereka tak berhak atas kehormatan itu.

Panglima TNI memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada 62 prajuritnya yang berhasil membebaskan sandera di Mimika, Papua. Namun, ada 5 perwira yang menolak dinaikkan pangkatnya.

Menurut Panglima TNI, kelima perwira muda tersebut menyampaikan kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono, bahwa mereka tidak bersedia menerima penghargaan. Sebab, kata mereka, keberhasilan operasi pembebasan sandera di wilayah Tembagapura adalah keberhasilan anak buahnya. Sedangkan mereka hanya komandan operasi yang melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.

Hebatnya lagi, setelah menolak menerima kenaikan pangkat, kelima perwira tersebut mengaku bertanggung jawab sekiranya tugas operasi militer pembebasan sandera itu dianggap gagal.

Kelima perwira tersebut adalah Komandan Bantuan Kompi Senapan B, Lettu Inf Shofa Amrin Fajrin, Komandan Unit 2/1/1/13 Kopassus Lettu Inf Agung Damar P, Komandan Unit 2 Bakduk 812 Sat-81 Kopassus Lettu Inf Sukma Putra Aditya, Komandan Kompi Taipur Kapten Inf Sandra SP, dan Danyon Taipur 1/A Lettu Inf Akhmad Zainuddin.

Sepanjang pengetahuan kita, belum pernah ada anggota TNI dan Polri yang menolak diberi penghargaan KPLB.

Menolak diberi penghargaan atas keberhasilan dalam tugas, tetapi menyatakan bertanggungjawab jika misi yang diemban menemui kegagalan. Itu adalah sikap ksatria sejati. Etos perjuangan ini semestinya ada di sanubari setiap prajurit.

Sangat tepat kebijakan Panglima TNI yang akan memberikan apresiasi dalam bentuk lain kepada kelima perwira muda luar biasa itu. Panglima menjanjikan akan memberi perhatian khusus bagi pendidikan kedinasan mereka. Kelima perwira itu akan diberi latihan khusus mendahului rekan setingkatnya.

Pimpinan TNI setelah era Gatot Nurmantyo pun seyogianya tetap memberi perhatian istimewa kepada lima pemuda ini. Sebab, mereka adalah mutiara bagi TNI yang harus diperlihara dan diasah agar satu saat nanti bisa menjadi pemimpin. Jika orang dengan kualitas etos kejuangan dan semangat pengabdian seperti itu kelak memimpin tentara, bisa dibayangkan kualitas profesionalisme TNI nanti.

Jadi, jika ada orang yang menampik penghormatan yang berhak diterimanya, tentulah dia pribadi yang luar biasa. Kelima tentara muda itu mungkin tak menyadari, penolakan itu membuat mereka telah meraih pangkat yang lebih luar biasa dari bangsanya.

Sekali lagi, ini adalah teladan yang langka di tengah masyarakat kita yang gila hormat seperti sekarang. Bandingkan misalnya dengan anggota DPR yang sewot gara-gara tidak dipanggil dengan sebutan “yang terhormat” oleh mitra kerjanya dalam rapat dengar pendapat. Atau bandingkan dengan orang yang rela merendahkan harga dirinya untuk meraih kehormatan dengan cara yang tidak terhormat.

Abū Nasir Al Farabi, filsuf Islam abad pertengahan, dalam magnum opus-nya, Madinatul Fadhilah (Negara Utama), membagi negara dalam lima kategori yang bertingkat-tingkat, antara lain madinatul jahiliyah, negara orang-orang bodoh. Salah satu ciri negara orang-orang bodoh itu adalah masyarakatnya mementingkan sanjungan di atas segala-galanya.

Nah, lima serdadu muda ini paling tidak memberi tanda, bahwa tidak semua orang kita seperti itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here