Telah Lahir, Momentum Baru Gerakan Mahasiswa

0
1016
Demonstrasi mahasiswa pada tiga tahun Jokowi-JK yang digelar Jumat (20/10) di Sekitar Istana Negara. (Dok.Rilis)

Nusantara.news, Jakarta – Aksi unjuk rasa mahasiswa yang digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bersama sejumlah elemen rakyat pada evaluasi tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, Jumat (20/10), di sekitar Istana Negara, boleh jadi penanda dimulainya siklus baru 20 tahunan. Jika dirunut lahirnya gerakan perubahan yang diusung kaum terpelajar ini, mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998, maka siklus dua puluh tahunan berikutnya jatuh di tahun 2018 atau 2019. Dan tahun ini, sepertinya alam sudah memberi tanda perihal jelang “panen raya” gerakan mahasiswa itu.

Riak-riak kecil perlawanan menuju gelombang besar telah dimulai. Di berbagai daerah, letupan gerakan mahasiswa sebagai koreksi terhadap pemerintahan lokal maupun pusat trennnya meningkat. Mereka terpanggil karena keresahan publik kelas bawah akibat ekonomi yang makin sulit, serta tak berjalannya fungsi DPR dan partai politik.

Mereka turun ke jalan, sebab di ruang-ruang kuliah dan diskusi tak menemukan jawaban. Pun, sebab kaum cerdik pandai tak jadi rujukan pengambil kebijakan. Sementara para buzzer yang dangkal nalar dan politisi kelas rendah dibela-dimuliakan.

Di saat yang sama, sikap represif dan berlebihan para aparat dalam menindak aksi-aksi mahasiswa, merupakan pengulangan sejarah yang turut mempercepat lahirnya gelombang besar perlawanan. Betul, penindakan keras dalam beberapa hal dapat memberi efek jera. Namun bagi mahasiswa, tindakan itu bisa berbuah sebaliknya, yakni menjadi pupuk bagi tumbuh dan besarnya arus balik perlawanan. Bukankah mahasiswa itu seperti pegas: semakin ditekan, semakin kuat daya tolaknya?

Siklus 20 Tahunan

Tidak ada generasi perubahan tanpa usaha kesengajaan. Ikhtiar generasi 1908 dimulai dengan meletakkan “ide-ide” emansipasi kebangsaan. Kemudian berlanjut ke Sumpah Pemuda 1928 yang ditandai terbentuknya “wadah” sebuah bangsa. Dua puluh tahun berikutnya, mereka tampil lebih berani melawan kolonialisme demi mencapai “tujuan” bersama yaitu kemerdekaan 1945. Setelah merdeka, Bung Karno memimpin republik. Namun kekuasaannya dihela oleh gerakan koreksi mahasiswa yang menemukan momentum yang sama dengan tentara. Tahun 1966, lewat tiga tuntutan rakyat (Tritura): turunkan harga, bubarkan PKI, dan bersihkan kabinet dari unsur-unsur komunis, Bung Karno (Orde Lama) pun jatuh.

Sejarah kejatuhan penguasa (seharusnya) berulang pada masa Soeharto (Orde Baru) saat memasuki siklus 20 tahunan di tahun 1980-an. Namun postur pemerintahan yang telah terkonsolidasi dengan mapan, ditambah era 1980-an adalah masa keemasan Orde Baru, maka gerakan mahasiswa tak muncul ke permukaan.

Pun begitu, gerakan Malari 1974 yang menolak hegemoni investasi asing serta gerakan mahasiswa 1978 yang menentang Soeharto sebagai Presiden ketiga kalinya, meski tak berhasil menumbangkan rezim tetapi menjadi masa inkubasi bagi gerakan mahasiswa. Pembibitan yang terpelihara amat panjang dan matang itulah, akhirnya melahirkan gelombang besar gerakan mahasiswa yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998.

Gerakan mahasiswa tahun 1998 menduduki gedung MPR/DPR. Mereka mengusung Reformasi yang berujung pada kejatuhan Orde Baru

Era Reformasi kemudian bergulir. Sebuah zaman dimulainya kebebasan berpendapat, berserikat, dan berdemokrasi, sekaligus berakhirnya masa kelam otoriterianisme di tanah air. Namun apa lacur, reformasi telah dibajak para elite. Sosok Jokowi yang sederhana, simbol kaum papa, berlatar sipil, dan lahir dari rahim demokrasi elektoral, ternyata dalam pengendalian konflik dan penyikapan terhadap kelompok civil society menggunakan cara-cara Orde Baru.

Hukum seakan tajam ke pihak di seberang istana, tetapi tumpul menyentuh pihak di lingkaran kekuasaan. Dan, tindakan keras aparat terhadap gerakan mahasiswa pada aksi tiga tahun Jokowi-JK beberapa hari lalu, satu contoh bandul reformasi tengah bergeser kembali pada masa kelam otoritarianisme. Mereka ditangkap, diperlakukan layaknya pelaku kriminal, dijadikan tersangka, lalu diborgol menuju bui. Di pihak lain, sekelompok orang menggelar aksi hingga tengah malam namun tak perlu ditindak, sebab mereka dianggap barisan pendukung penguasa.

Kode Bagi Mahasiswa

Pada aksi tiga tahun Jokowi, suara mahasiswa memang tak terekam dalam gegap gempita media mainstream lantaran sebagian besar pemilik media hari ini adalah bagian dari penguasa. Aksi mereka juga barangkali masih dipandang sebelah mata oleh para petinggi. Sebab di saat bersamaan, pemangku kuasa bisa dengan mudah mencipta ribuan mahasiswa lain yang pro-pemerintah lewat acara-acara formalitas seperti jambore, seminar, atau mengundang ke istana. Tapi, gejolak zaman tak bisa dibendung. Siapa pun tak bisa mencegah manakala creative minority ini bergerak pada momentum kebangkitan. Siklus 20 tahunan tampaknya sedang menggelinding, prakondisinya selalu sama: ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa.

Ini adalah kode bagi mahasiswa untuk kembali ke semangat perlawanan. Perubahan bangsa selalu dimanipulasi elite. Reformasi baru berhasil melahirkan euphoria, iklim demokrasi pun baru sebatas prosedural dan elektoral, tak tumbuh sebagai nilai-nilai praksis. Hukum yang sejatinya menjaga demokrasi lebih sehat, kini digunakan sebagai predator lawan politik dan alat bungkam sikap kritis. Demokrasi kemudian menderita geger otak, sebab dari rahimnya lahir para bedebah bermental diktator, feodal, oligark, yang menyamun sebagai seorang demokrat.

Aksi mahasiswa mengevaluasi tiga tahun pemerintahan Jokowi

Karena itu, tendensi menuju “siklus 20 yang hilang” harus dicegat dengan secara sadar membangun kebersamaan pengalaman, visi, dan panggilan kesejarahan lewat penciptaan ruang publik, wacana publik, dan aksi publik yang mempertautkan minoritas kreatif yang berserak menjadi kolektivitas progresif generasi perubahan. Di samping faktor luar yang turut memperkuat momentum gerakan mahasiswa, yaitu konflik di internal pemerintahan (antarlembaga, antarpejabat negara) dan dukungan rakyat.

Pilihannya kini ada dua: merebut siklus 20 tahunan atau melepaskannya. Kalaupun momentumnya terlepas, paling tidak gerakan yang telah dibangun hari ini dijadikan pemanasan bagi generasi hari esok. Yang pasti, gelombang perubahan akan selalu menemukan momentumnya. Kini, alam sudah mengirim kode.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here