‘Teletubbies effect’ Jokowi dan Prabowo

0
98
Momen Prabowo-Jokowi Berpelukan di Final Pencak Silat Asian Games, disaksikan Komjen Syafruddin selaku Chief de Mission Kontingen Indonesia di Asian Games (kiri), Wapres Jusuf Kalla (tengah), Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kanan belakang).

Nusantara.news, Jakarta – Berpelukan! Kata ini mungkin familiar bagi generasi muda yang masa kecilnya rajin menyaksikan serial Teletubbies yang tayang di televisi nasional. Tapi, konteks “berpelukan” yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan lawan politiknya, Prabowo Subianto punya makna yang jauh lebih mendalam, dibanding apa yang sekadar dilakukan oleh Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po ketika kata-kata “saatnya tubby berpisah” terdengar di televisi.

Seakan mengamini, bakal cawapres Sandiaga Uno menyebut pelukan Jokowi dan Prabowo sebagai Teletubbies effect. “Ini merupakan pengingat kita semua bahwa rakyat Indonesia itu sangat-sangat mendambakan pemilu yang rukun, damai. Efek Teletubbies yang kemarin pelukan (Jokowi dan Prabowo), saya ingin tarik 9 bulan ke depan,” kata Sandiaga.

Tiga hari belakangan, momen kemesraan Jokowi dan Prabowo di arena pencak silat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, memang menjadi perbincangan publik. Hampir semua media massa, 30 Agustus 2018, menempatkan foto pelukan Jokowi dan Prabowo di halaman muka.

Bahkan di media sosial, seperti Twitter, yang biasanya ‘panas’ dengan aksi saling serang para pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno mendadak adem. Hastag #WowoSayangWiwi dan #Jokowi-PrabowoBerpelukan pun dalam sekejap menguasai trending topic.

Adalah pesilat Hanifan Yudani Kusumah (21 tahun), “biang kerok” yang dianggap telah membuat sejuk suasana dengan memeluk Jokowi-Prabowo secara bersamaan. Ia tak hanya menundukkan lawan dari Vietnam di laga final pada Rabu (29/8) lalu dan berhasil meraih medali emas, tetapi sekaligus menorehkan sejarah: menyatukan Jokowi dan Prabowo dalam satu pelukan hangat dengan tubuh berselubung bendera merah putih. Ia serupa kanak-kanak yang cemas melihat ‘kedua orangtuanya’ terus berseteru.

Momen “langka” itu bermula ketika wasit menyatakan Hanifah menang tanding pencak silat nomor kelas C putra 55 – 60 Kg. Hanifan pun jadi sangat emosional. Dengan tubuh berselubung bendera dan berderai air mata, ia berselebrasi dengan rasa bangga dan bersujud syukur beberapa saat.

Lalu, ia berlari ke atas tribune kehormatan. Ia menyalami semua yang ada, kemudian saat sampai ke Prabowo, atlit asal Soreang, Bandung tersebut memeluk Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) itu dan menarik Jokowi ke dalam rangkulannya juga. Penonton dan elite politik yang hadir saat itu bersorak-sorai menyaksikan pemandangan tersebut.

“Itu sebenarnya spontan saja. Biar tahu masyarakat Indonesia bahwa Jokowi dan Prabowo tidak ada apa-apa. Bangsa Indonesia harus saling menghargai. Kan banyak di media sosial yang saling memaki, padahal Indonesia tidak seperti itu. Saya ingin mempererat silaturahmi,” ujar remaja berambut mohawk kuning keemasan itu dengan kearifan yang jauh melebihi politisi.

Hanifan barangkali hanyalah puncak dari pemandangan mengharukan itu. Rupanya ada tokoh lain yang disebut-sebut menjadi ‘sutradara’ pertemuan antara Jokowi dan Prabowo di venue pencak silat di gelaran Asian Games itu. Sosok tersebut adalah Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia di Asian Games, Syafruddin.

Mantan Wakapolri berpangkat Komisaris Jenderal yang kini menjadi Menteri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) inilah yang menginisiasi kedatangan para tokoh nasional ke arena pencak silat tersebut. Para tokoh yang hadir di momen ‘pelukann Teletubbies’ itu diantaranya Wapres Jusuf Kalla (JK), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Menko PMK Puan Maharani, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, dan Syafruddin sendiri.

Kehormatan Politik Jokowi-Prabowo

Lepas dari berbagai pujian yang bermunculan pasca aksi “berpelukan”, nyatanya hubungan Jokowi dan Prabowo berada di level yang berbeda dibanding banyak tokoh politik di Indonesia. Ada perasaan saling menghormati yang besar di antara mantan Walikota Solo dengan mantan Danjen Kopassus itu, sekalipun keduanya juga sering pula saling kritik. Fenomena ini terjadi karena adanya perasaan yang sering dimunculkan oleh William Shakespeare dalam karya-karyanya dan disebut sebagai honour of politics.

Honour berhubungan dengan integritas seseorang yang biasanya ditunjukkan oleh sifat-sifat seperti keberanian, ksatria dan kejujuran, namun pada saat yang sama juga bisa menunjukkan welas asih. Karena sifat-sifat tersebut, honour seringkali menjadi hal yang integral dengan kualitas seseorang, utamanya lebih kepada etos personal. Maka, sebutan sebagai honourable man (orang yang terhormat) sering disematkan pada orang-orang yang dianggap punya kualitas tersebut.

Di politik, honour bisa disebut sebagai kutub yang berseberangan dengan gagasan kaum Machiavellian yang menyebut moral harus disingkirkan dari politik. Karena itu, dalam konteks Jokowi dan Prabowo, honour jelas terlihat sebagai bagian yang intrinsik dari kualitas pribadi keduanya. Hal itu sudah tergambar sejak Pilpres 2014 lalu.

Sebagai pihak yang kalah, Prabowo misalnya menghormati kemenangan Jokowi di kontestasi politik tersebut, menunjukkan rasa hormat karena status Jokowi sebagai kepala negara, serta selalu berusaha menjaga hubungan keduanya tetap cair. Sementara, Jokowi juga selalu berusaha untuk merangkul lawan politiknya itu.

Kehormatan Politik yang layak dicontoh: Prabowo hormat dan Jokowi membungkuk usai kontestasi Pilpres 2014 yang dimenangkam Jokowi.

Dalam konteks kebijakan politik, keduanya mungkin saling berseberangan. Namun, secara kualitas personal, tak ada yang meragukan citra honour keduanya. Mungkin, hal inilah yang membuat baik Jokowi maupun Prabowo  layak bersaing sebagai kandidat pemimpin negeri ini – terlepas dari citra masa lalu Prabowo, atau kuatnya ikatan patron politik Jokowi dalam tajuk “petugas partai”.

Konsep honour yang dimiliki Jokowi dan Prabowo mungkin kontras jika dibandingkan dengan era sebelumnya, katakanlah yang terjadi antara Megawati Soekarnoputri dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hubungan SBY dan Mega hingga saat ini memang terus dingin, sekalipun SBY misalnya terus berusaha memperbaiki apa yang terjadi di antara keduanya. Permusuhan “abadi” keduanya masih terpelihara hingga 15 tahun terakhir ini (sejak 2003).

Di pihak pendukung Jokowi dan Prabowo, momen pelukan dua tokoh yang akan bersaing di Pilpres 2019 itu, sejenak serupa oase paling menyejukkan. Terlebih, dalam sepekan terakhir friksi politik antara pendukung Jokowi dan Prabowo kembali panas. Adalah aksi penolakan terhadap deklarasi #2019GantiPresiden yang terjadi di beberapa daerah yang menjadi penyebabnya. Bahkan, di beberapa tempat, situasi mencekam yang berpotensi mengarah ke chaos sempat terjadi. Saling tuduh di kalangan elite pun ikut mewarnai panasnya friksi tersebut.

Memang, pelukan Prabowo dan Jokowi itu tak menjamin “dendam kesumat” antara “cebong” (sebutan kepada para pendukung Jokowi) dan “Kampret” (sebutan kepada para pendukung Prabowo) akan segera sirna. Kehangatan kedua tokoh tersebut juga dalam konteks demokrasi di negara dengan kematangan politik, bukanlah sesuatu yang terlalu istimewa. Donald Trump dan Hllary Clinton kurang sengit apa di Pilpres Amerika Serikat (AS) tahun 2016 lalu. Akan tetapi, di sela proses kampanye, keduanya kerap saling berpelukan dan berjabat tangan dengan hangat.

Namun paling tidak, ingatan bangsa pada “momen kebaikan” itu tidak akan luntur. Sambutan positif berbagai pihak di sentaero negeri, juga menandakan bangsa ini rindu akan persaudaraan, persatuan, dan kerukunan. Di titik ini, setidaknya ada harapan dan gairah bersama untuk membangun narasi Pilpres 2019 tanpa harus saling menghunus pedang, mengolok-olok, dan bernafsu memakan satu sama lain alias homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Sebab itu, Jokowi dan Prabowo, juga para elite politik lainnya, harus menyerukan dan merawat keadaban politik kepada para pendukungnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here