Tembakau Bojonegoro Mulai Stabil, Jangan Dirusak Tengkulak dan Asing

0
304
Serapan tembakau di Kabupaten Bojonegoro lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, sekitar 10.600 ton tembakau hasil panen siap dibeli delapan pabrikan.

Nusantara.news, Bojonegoro – Bagi petani tembakau Bojonegoro, kembalinya ‘Si Anak Emas’ yakni PT Gudang Garam telah membawa angin segar. Dari delapan pabrik tembakau, tahun ini PT Gudang Garam akhirnya bersedia melakukan pembelian tembakau. Maklum, sejak 2013 lalu PT Gudang Garam berhenti melakukan pembelian tembakau.

Pada musim panen tahun 2017 ini, serapan tembakau di Kabupaten Bojonegoro diperkirakan lebih banyak dibanding dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, sekitar 10.600 ton tembakau yang dibutuhkan dari para petani yang ada di Bojonegoro.

Kepala Bidang Tanaman Semusim Dinas Pertanian Bojonegoro Imam Wahudi mengatakan, dari total tembakau tersebut (10.600 ton), semuanya diborong delapan pabrikan. Bedanya, kali ini pembelian tembakau tidak hanya Virginia Voor Oogst (VO), tetapi juga Jawa dan RAM.

“Delapan pabrikan itu sudah dipastikan melakukan pembelian tahun ini. ’Tembakau yang dibeli pabrikan tersebut dalam bentuk rajangan,’’ jelas Imam Wahyudi.

Sesuai laporan yang diterima, PT Central Agro Mandiri akan melakukan pembelian tembakau Virginia VO 1.000 ton, dan PT. STTC 1.000 ton dan PT. Djarum Group 3.500 ton. Sedangkan PT Bentoel 100 ton, CV. Sumber Rejeki 500 ton, PT. Gudang Garam 1.000 ton, CV Sumber Mulyo 500 ton dan CV Gelora Jaya 1.800 ton. Selain itu, PT Sadana Arifnusa Ngawi, juga akan melakukan pembelian tembakau rajangan amil (RAM) 1.000 ton. Baca juga: Lepas dari Bayang-bayang Gudang Garam, Saatnya Kediri Berinovasi

Dengan pembelian sebanyak itu, Imam menjelaskan, diharapkan semua tembakau yang ditanam warga Bojonegoro bisa terserap. Tahun ini luas areal lahan tanam tembakau di Bojonegoro mencapai 8.939 hektare (ha). Terdiri dari jenis Virginia, Jawa, dan RAM. Luasan itu jauh melebihi target yang ditetapkan, yaitu 8.833 ha. Namun tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan kembali.

Pekerja menata keranjang berisi tembakau rajangan di gudang tembakau PT Gudang Garam. Tahun 2017, PT Gudang Garam membeli tembakau dari Bojonegoro 1.000 ton.

Memang, tidak semua kecamatan di Bojonegoro menanam tembakau. Dari 29 kecamatan ada 21 yang menanam tembakau. Terbanyak Kecamatan Kepohbaru mencapai 2.827 ha. Di seluruh Bojonegoro ada 5.722,5 ha tembakau Virginia, 2.395,3 ha jenis Jawa, dan 822 ha tembakau RAM.

Sesuai hasil laporan yang diterima dari petugas penyuluh lapangan (PPL), tanaman tembakau yang sudah tertanam itu merupakan tanaman tembakau yang ditanam petani mulai Mei-Juni, dan sebagian awal Juli. Dan selama tidak terganggu hujan, tanaman tembakau yang ditanam petani sampai akhir Juli tidak ada masalah.

Sebelumnya Kepala Disperta Bojonegoro Akhmad Djupari mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada sejumlah pabrikan rokok di Bojonegoro menanyakan soal pembelian tembakau. Dari semua pabrikan, hanya delapan yang menyatakan siap membeli.

Harapan Djupari, hasil tembakau petani tahun ini lebih bagus. Sehingga bisa dibeli dengan harga yang mahal. Sebab, tembakau Bojonegoro selama ini dikenal memiliki kualitas yang cukup bagus. ’’Kalau kualitasnya bagus, petani akan untung,’’ jelasnya.

Djupari melanjutkan, petani harus telaten dalam merawat tembakau. Teknik perawatan yang digunakan juga harus benar. Misalnya, jangan memupuk tembakau menggunakan urea. Sebab, pupuk urea tidak cocok untuk tembakau.

Rupanya, tidak hanya delapan pabrikan yang hendak memborong tembakau petani, melainkan pedagang dari luar daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah juga ikut memborong pembelian.

Djupari sebenarnya tidak mempermasalahkan masuknya pedagang luar daerah yang ikut melakukan pembelian tembakau produksi musim panen tahun ini. Menurut dia, saat ini Bojonegoro telah menjadi pasar tembakau. “Justru banyak pedagang luar daerah masuk akan meningkatkan harga jual tembakau di tingkat petani,” ujarnya.

Biasanya tanaman tembakau yang bisa dibeli pedagang luar daerah hanya tembakau yang ditanam petani secara swadaya. Bukan tembakau yang ditanam petani bermitra dengan PT Sadhana Arifnusa Padangan dan PT Gudang Garam.

“Petani yang bermitra langsung menjual kepada PT Sadhana Arifnusa Padangan dengan harga bagus. Bahkan, pekan ini harga tembakau rajangan Virginia RAM dibeli dengan harga berkisar Rp23.000 hingga Rp32.000/kilogram,” ungkapnya.

Namun harga untuk tembakau rajangan kering virginia VO di sejumlah sentra penghasil tembakau, antara lain di Kecamatan Sukosewu, Sugihwaras, juga kecamatan lainnya berkisar Rp10.000-Rp17.000/kilogram.

Pedagang dari luar daerah yang ikut melakukan pembelian tembakau produksi musim panen tahun ini.

Sementara seorang pedagang tembakau asal Desa Bakulan, Kecamatan Temayang, Bojonegoro Yusuf Affandi, menyebutkan untuk harga tembakau rajangan Jawa mencapai Rp35.000/kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan harga tembakau rajangan Jawa tahun lalu.

Di Dusun Jeblokan, yang masuk Desa Bakulan, kata dia, semua petani menanam tembakau Jawa dengan luas sekitar 100 hektare. Produksi tembakau di daerah setempat selama ini termasuk tahun ini menjadi rebutan pedagang asal Temanggung, juga daerah lainnya di Jawa Tengah, karena kualitasnya bagus.

Ia memperkirakan harga tembakau rajangan Jawa masih akan naik, sebab panen baru memasuki petikan daun kedua dan ketiga belum panen petikan keempat dan kelima yang merupakan tembakau dengan kualitas terbaik. “Tapi tahun lalu tembakau rajangan Jawa tidak laku, karena ketika panen terganggu hujan,” ujarnya.

Faktor Cuaca dan Permainan Tengkulak Memperlambat

Tahun ini, produksi dan harga tembakau Virginia VO, Jawa dan Virginia RAM jauh lebih bagus dibandingkan tahun lalu, apalagi iklim sekarang sangat mendukung. Dengan kualitas yang bagus tersebut, tentunya penyerapan tembakau bakal lebih banyak daripada rencana perhitungan. Berbeda dengan panen tahun lalu di mana tembakau hampir tidak ada harganya karena ketika panen diguyur hujan.

Sayangnya hal ini belum diimbangi dengan banyaknya permintaan benih tembakau. Sebab masih ada spekulasi petani untuk menanam padi selama masih adanya hujan. Padahal benih tembakau telah diuji laboratorium milik Balai Besar Pembenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP), diperkirakan produksi tembakau kering per ha antara 1 hingga 1,2 ton.

Meski pada masa tanam permintaan benih tembakau melambat, namun tembakau RAM varietas T-45 yang telah terdistribusi sebanyak 1600 gram (1,6 kilogram/Kg), virginia varietas K326 1.150 gram (1,15 Kg) dan tembakau Jawa sebanyak 100 gram (0,1 Kg).

Padahal, jika musim tanam kedua ini masih ditanami padi, kemungkinan waktu tanam tembakau mundur dari waktu ideal pertengahan Mei. Sebab menunggu hingga Juni setelah panen padi.

Dikhawatirkan, pemanenan tembakau yang mundur hingga Oktober berdampak pada rendahnya kualitas tembakau karena bersamaan awal musim hujan. Ideal panen tembakau kan September. Kalau Oktober bersamaan awal musim penghujan. Akibatnya mempengaruhi kualitas tembakau.

Perajangan tembakau Virginia VO di Bojonegoro.

Untuk menetapkan luas tanam tembakau sebenarnya bukan perkara mudah. Hal itu perlu memperhatikan tingkat keberhasilan panen tembakau oleh petani. Jangan sampai luas tanam yang ekuivalen dengan produksi tembakau malah menimbulkan kerugian karena tidak terserap. “Sebelumnya, harus melihat pangsa pasarnya ketika akan mendistribusikan luas tanam sehingga tembakau bisa terserap maksimal dan petani tidak merugi,” kata Imam.

Statistik menunjukkan, serapan tembakau sepanjang lima tahun belakangan menunjukkan angka penurunan. Di sejumlah wilayah Jatim, permintaan komoditi tembakau seperti di Bojonegoro, Jember dan Madura tidak maksimal.

Pada tahun 2012 permintaan bisa 120 ribu ton, memasuki 2013 menurun hanya 100 ribu ton. Tahun 2014 hanya 80 ribu ton saja. Permintaan pabrikan terhadap produk tembakau petani turun karena stok tembakau di gudang pabrik rokok masih cukup banyak dari hasil serapan tahun sebelumnya.

Khusus Bojonegoro, dari catatan Dinas Pertanian (Dispertan) Bojonegoro, pada tahun 2015 ada penurunan luas tanam tembakau jenis Virginia sejumlah 4.061 hektar per tahun dan pada 2016 sejumlah 2,921 hektar per tahun. Sedangkan tembakau jenis Jawa pada tahun 2015 sejumlah 2.307 hektar dan pada 2016 sejumlah 1423 hektar per tahun. Kemudian tembakau jenis RAM pada tahun 2015 sejumlah 512 hektar dan pada tahun 2016 sejumlah 458 hektar per tahun.

Saat itu penurunan atau perubahan luas lahan tanam tembakau akibat faktor cuaca. Selain itu tingkat serapan tembakau oleh perusahaan produsen rokok dan tekanan adanya rencana pengendalian tembakau atau rokok. Sementara, rencana pengendalian tembakau atau rokok itu belum begitu terasa ditingkat petani dan konsumen.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Bondowoso, Abdul Hafidz Aziz mengatakan, minat petani menanam tembakau turun akibat gangguan cuaca disertai rendahnya harga beli. Selain persoalan cuaca, kata dia, penurunan luasan pertanaman dipengaruhi harga pembelian rendah.

Hafidz menilai dengan harga pembelian rendah tahun-tahun sebelumnya, banyak membuat usaha tani musim tanam menurun. Terlebih harga pupuk, tenaga kerja terus naik. Problem lainnya, menaikkan nilai tawar petani di tingkat pengepul juga menjadi kendala. Seperti diketahui, tembakau yang telah dirajang di petani tidak langsung bisa masuk pabrik. Tembakau tersebut biasa disimpan setahun sampai 3 tahun oleh pengepul sebelum masuk ke pabrik sigaret.

Ya, salah satu penyebab jebloknya tembakau di pasaran Bojonegoro waktu itu karena permainan pengepul atau tengkulak. Mereka memborong daun tembakau basah maupun tembakau kering (krosok) dengan harga murah lalu dijual kembali ke pabrikan rokok yang ada di luar daerah Bojonegoro.

Tengkulak itu biasanya mendatangi para petani tembakau langsung dan memborong daun tembakau basah dan rajangan. Di sisi lain, petani tidak punya banyak pilihan. Sebab, karena daun tembakau hasil panen kualitasnya tidak terlalu bagus dan tidak diserap oleh pabrikan rokok, akhirnya mereka mau menjual tembakau tersebut pada tengkulak.

Banyaknya tengkulak yang bermain dalam pasar tembakau ini sebenarnya diketahui oleh Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bojonegoro. Namun, pihak Dishutbun juga tidak bisa berbuat banyak. Sebab, penjualan tembakau di pasaran dan jebloknya harga tembakau itu merupakan mekanisme pasar.

Menurut Kepala Bidang Perkebunan, Dishutbun Kabupaten Bojonegoro, Khoirul Insan, harga jual tembakau tahun lalu di tingkat petani yang dibeli oleh tengkulak di kisaran Rp13.000 sampai Rp17.000 per kilogram. Itu untuk tembakau rajangan atau krosok. Sedangkan, harga jual tembakau yang diserap oleh gudang pabrikan di kisaran Rp21.000 sampai Rp26.000 per kilogram. Gudang pabrikan yang menyerap tembakau dari petani ini ada di Kecamatan Baureno, Kapas, dan Padangan.

Namun Khoirul Insan saat itu mengakui memang banyak tengkulak yang membeli tembakau dengan harga murah tersebut. Bagi petani, daripada tembakau itu tidak laku dijual, mereka menerima dibeli oleh tengkulak meskipun dengan harga yang murah.

“Memang, banyak tengkulak yang membeli tembakau di daerah Kedungadem, Kanor. Selain itu, juga banyak tengkulak yang membeli tembakau di daerah selatan dan barat Bojonegoro,” ujarnya.

Menurutnya, banyak tengkulak itu yang menyimpan terlebih dahulu tembakau dari petani itu kemudian setelah beberapa lama baru disetor ke pabrikan. Tengkulak yang memborong daun tembakau kemudian menjualnya ke pabrikan itu meraup keuntungan lumayan.

Asing Terlalu Intervensi Tembakau Jatim

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing seharusnya tidak perlu mengintervensi masalah pertanian tembakau di Indonesia, terutama Jawa Timur. Pasalnya daya serap tenaga kerjanya sudah sangat tinggi yakni mencapai 600 ribu orang.

Semakin kuatnya desakan LSM asing dan nasional kepada pemerintah Indonesia agar segera melakukan perjanjian Konvensi Kerangka Kerja tentang Pengendalian Tembakau atau “Framework Convention on Tobacco Control” (FCTC), beberapa tahun belakangan, membuat banyak pihak gerah.

Gubernur Jawa Timur Seokarwo meminta LSM asing jangan mencampuri kedaulatan RI. Pakde Karwo berasalan, hasil perkebunan Jawa Timur sekitar  26,3 persennya adalah tembakau, dan daya serap tenaga kerjanya cukup tinggi. Sehingga apabila pemerintah melakukan perjanjian FCTC dipastikan dampaknya cukup besar.

“Asing tidak ada urusan, sebab tembakau itu kehidupannya orang Jawa Timur. Kenapa harus diprotes dan diatur-atur LSM asing. Silakan mereka mengurus rumah tangganya sendiri, yakni LSM asing mengurus asing saja,” ucap Soekarwo saat itu.

Hal yang sama dikatakan Ketua Umum Paguyuban Mitra Pelinting Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi. Menurutnya perjanjian FCTC yang didesak oleh LSM Asing adalah agenda untuk mematikan industri tembakau nasional yang menjadi tumpuan penghidupan lebih dari 6 juta masyarakat Indonesia.

“Industri tembakau Indonesia merupakan penyumbang pajak terbesar ketiga kepada negara, sebesar Rp173,9 triliun di tahun 2015,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 47/PMK.07/2016, yang ditandatangani Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro juga telah membagikan Rp2,79 triliun Dana bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT) kepada 16 provinsi dan kabupaten di Indonesia.

“Angka ini naik sedikit dibanding alokasi dana tahun sebelumnya sebesar Rp2,78 triliun,” ucap Djoko.

Sedangkan di Jatim, mendapat alokasi besar yakni mencapai Rp1,43 triliun atau 51,25 persen dari total alokasi DBHCT, kemudian Jawa Tengah di posisi kedua sebesar Rp633,38 miliar dan Jawa Barat di posisi ketiga sebesar Rp318,59 miliar.

Djoko meminta pemerintah Indonesia tetap berkomitmen melindungi industri tembakau nasional secara keseluruhan, yang mencakup petani, pekerja dan pelaku industri, sebab ada upaya FCTC mematikan rokok kretek yang merupakan produk asli Indonesia.

Sementara itu, FCTC diluncurkan pada tahun 2005 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai agenda global pengendalian produk tembakau. Di dalamnya terdapat peraturan-peraturan terkait batas usia minimum, iklan, kegiatan sponsor dan promosi, bahan kandungan, pembatasan merokok di tempat umum, serta peringatan kesehatan.

Fungsi dari FCTC itu adalah membatasi dan mengontrol penyebaran produk tembakau seperti rokok. Produk tembakau ini sudah terbukti menyebabkan berbagai penyakit berbahaya yang berakhir kematian, membuat kecanduan, dan pendapatan warga miskin dihabiskan untuk belanja rokok.

WHO-FCTC menerbitkan Atlas Tembakau. Tiga negara yakni Indonesia, Sudan, dan Somali.ditandai warna abu-abu sebagai negara penghasil tembakau dan rokok juara satu di dunia. Sementara seluruh negara maju dan berbudaya tinggi ditandai warna merah.

Sebanyak 183 negara di dunia sudah meratifikasi FCTC. Namun hanya Indonesia yang sampai saat ini belum meratifikasi traktat itu. Salah satu alasannya, karena Indonesia adalah salah satu produsen tembakau maupun rokok terbesar di dunia. Aturan pengendalian tembakau di Indonesia sendiri tergolong longgar.

Presiden Joko Widodo sendiri mengambil sikap perihal Kerangka kerja FCTC. Dalam rapat terbatas, Presiden mengatakan kepada para menteri bahwa Indonesia tidak akan mengaksesi atau menandatangani FCTC hanya karena ikut-ikutan.

“Kami nggak mau sekadar ikut-ikutan tren atau karena banyak negara yang telah meratifikasi FCTC. Kita harus betul-betul melihat kepentingan nasional Indonesia,” demikian kebijakan Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo mengatakan apabila Indonesia ingin meratifikasi FCTC, maka perlu ada pertimbangan yang matang. Pertimbangan itu salah satunya meliputi warga negara yang sakit akibat terpengaruh tembakau.

Selain itu, menurut Presiden Jokowi, juga kelanjutan hidup para petani tembakau. Presiden Jokowi tak ingin kehidupan petani yang bergantung pada industri tembakau terganggu. “Jumlah mereka banyak, sangat banyak,” ujar dia.

Terakhir, Presiden Jokowi mengatakan, keputusan soal FCTC harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan komprehensif. “Selain itu, apa manfaatnya bagi Indonesia.”[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here