Tengger, Antara Eksotisme Alam dan Kearifan Lokal

0
347

Nusantara.news, Jawa Timur – Bagi orang Indonesia, Gunung Bromo merupakan sebuah tempat wisata yang ikonik. Gunung aktif dengan tinggi 2.392 meter, dikelilingi oleh hamparan pasir, serta pemandangan matahari terbit yang spektakular membuat Gunung Bromo memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara.

Namun tidak lengkap rasanya apabila membahas Gunung Bromo tanpa mengenal penduduk asli yang hidup di sekitarnya, Suku Tengger. Bisa dikatakan, antara Gunung Bromo dengan Suku Tengger memiliki sebuah ikatan historis yang saling menghidupi satu sama lain.

Di dalam bukunya yang berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, Robert W. Hefner menjelaskan bahwa orang-orang Suku Tengger merupakan keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-16, Kerajaan Majapahit yang mulai melemah mengalami serangan dari kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Demi menyelamatkan diri dari invasi, sebagian masyarakat Majapahit mengungsi menuju Pulau Bali. Sebagian lainnya memilih untuk menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Orang-orang inilah yang kelak dinamakan sebagai Suku Tengger.

Di kalangan Suku Tengger sendiri, berkembang sebuah legenda yang menceritakan tentang sejarah leluhur mereka. Tersebutlah Roro Anteng, putri pembesar Kerajaan Majapahit, dan Joko Seger yang merupakan putra dari seorang brahmana. Roro Anteng dan Joko Seger kemudian menikah dan mereka turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger.

Di sanalah kemudian mereka menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger. Nama Tengger konon juga diambil dari akhiran nama keduanya, yaitu “Teng” dari nama Roro Anteng dan “Ger” dari nama Joko Seger.

Namun, bukti paling kuat perihal asal usul Suku Tengger ditemukan pada prasasti Penanja’an yang isinya: “Pada tahun 815 SAKA atau 1929 Masehi Desa Walandit sudah dihuni oleh masyarakat, dan masyarakat itu disebut dengan masyarakat hulun-hulu ning hyang atau masyarakat yang taat dan patuh pada Sang Hyang dan Raja. Masyarakat yang bebas dari pajak, akan tetapi diberi tugas untuk mendoakan keselamatan kerajaan”.

Saat ini orang Tengger secara administratif terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu orang Tengger Probolinggo, orang Tengger Pasuruan, orang Tengger Malang, dan orang Tengger Lumajang. Tengger merupakan populasi kecil dari sekian banyak subkultur di Jawa Timur, populasinya hanya sekitar 100 ribu jiwa.

Orang Tengger dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh, bertempat tinggal berkelompok-kelompok di bukit-bukit yang tidak jauh dari lahan pertanian mereka. Persentase penduduk yang bermata pencaharian petani sangat besar, yakni 95%, sianya 5% terbagi sebagai pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa. Bidang jasa yang mereka tekuni antara lain menyewakan kuda tunggang untuk para wisatawan, sopir jeep, dan menyewakan kamar untuk para wisatawan.

Kearifan Lokal Suku Tengger

Jenderal Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang pernah berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia), sangat mengagumi kearifan lokal orang Tengger. Dalam bukunya The History of Java, ia mengemukakan bahwa pada saat berkunjung ke tempat yang sejuk itu, ia melihat orang Tengger yang hidup dalam suasana damai, teratur, tertib, jujur, rajin bekerja, dan selalu gembira. Mereka tidak mengenal judi dan candu.

Ketika Raffles bertanya tentang perzinahan, perselingkuhan, pencurian, atau jenis-jenis kejahatan lainnya, mereka yang biasa disebut sebagai orang gunung itu menjawab bahwa hal-hal tersebut tidak ditemui di Tengger.

Kearifan lokal lainnya, misalnya falsafah yang diberi nama catur guru bekti, yang terdiri dari empat ajaran: bekti kepada Yang Maha Kuasa, bekti kepada orang tua, bekti kepada guru, dan bekti kepada pemerintah.

Bekti terhadap pemerintah mengharuskan mereka untuk mematuhi dan menuruti peraturan yang dibuat oleh penguasa negara. Kearifan lokal berupa kesetiaan terhadap pemerintah ini memang menjadi warisan nenek-moyang sejak zaman kerajaan.

Sebenarnya, masyarakat Tengger memiliki tradisi resistensi terhadap kesewenang-wenangan penguasa. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatan mereka dalam gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Bahkan, dalam cerita turun-temurun, salah satu pejuang Tengger ikut membunuh penguasa Probolinggo, seorang China yang menyewa kabupaten ini dari pihak kolonial.

Namun, perlawanan tersebut lebih didasarkan kepada kenyataan bahwa penguasa kolonial adalah penguasa asing—bukan penguasa Republik merdeka—yang eksploitatif terhadap masyarakat dan sumber daya alam kawasan Tengger.

Dengan catur bekti kepada pemerintah, nilai-nilai demokrasi ditanamkan, dan orang Tengger pun menjadi pemilih aktif dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Selama periode sebelum reformasi, Golkar menjadi pemenang pemilu di wilayah ini. Saat ini, peta politik masyarakat Tengger lebih terafiliasi pada partai-partai nasionalis, termasuk Golkar.

“Di Tengger tidak ada orang yang berambisi jadi pemimpin. Kalau ada yang seperti itu malah tidak akan jadi. Politik uang juga gak berlaku di sini. Justru masyarakatlah yang membiayai proses pemilihan itu. Meski terkesan apolitis, namun saat pemilu partisipasi masyarakat Tengger sangat kuat ,” kata mantan Kepala Desa Ngadisari, Supoyo, yang kini terpilih menjadi anggota DPRD Probolinggo.

Apa yang diucapkan Supoyo terbukti benar. Meski tak begitu tertarik pada urusan politik, namun pada Pemilu Legislatif 9 April lalu, tingkat partisipasi masyarakat di Tengger yang meliputi dua kecamatan di Kabupaten Probolinggo, mencapai 84 persen. Angka ini bahkan melampaui capaian tingkat partisipasi Kabupaten Probolinggo yang “hanya” 82 persen.

Sedangkan bekti kepada guru diwujudkan dengan kesetiaan kepada Dukun Pandita (Dukun Tengger). Para dukun ini dijadikan panutan bagi masyarakat Tengger yang umumnya beragama Hindu. Dukun Tengger mempunya tugas dan peran memimpin semedi, upacara agama, upacara adat, dan sebagai juru penerang agama Hindu.

Dukun-dukun tersebut diangkat melalui sebuah ujian dukun dan disaksikan oleh warga dan dukun dari seluruh desa Tengger pada saat berlangsungnya upacara Kasada yang diselenggarakan di Poten, laut pasir kaki Gunung Bromo.

Secara politis, jika partai ataupun politisi mendapatkan dukungan dari koordinator dukun, dapat dipastikan akan memenangi pemilu.

Pendeta Hindu Tengger (Dukun) di Awal Abad ke-20

Selanjutnya, bekti kepada Yang Maha Kuasa dan leluhur diterjemahkan masyarakat Suku Tengger melalui beberapa upacara adat yang hingga kini masih dilestarikan.

Pertama, upacara Kasada atau hari raya Kasada (sekarang disebut Yadnya Kasada). Upacara Kasada merupakan hari kurban sebagai wujud pelaksanaan amanah dari leluhur mereka Roro Anteng dan Joko Seger yang telah rela mengorbankan dirinya demi kesejahteraan dan keselamatan ayah, ibu serta para saudaranya. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Kedua, upacara Karo atau perayaan Karo orang Tengger dilaksanakan pada bulan ke-2 kalender Tengger. Upacara ini mirip dengan perayaan Lebaran, yakni di hari tersebut orang Tengger saling mengunjungi untuk mengucapkan selamat hari raya Karo dan saling bermaafan. Berbagai hidangan khas Tengger disediakan oleh orang Tengger. Mereka menyembelih hewan ternak dan memasak sayur mayur hasil kebun mereka.

Ketiga, upacara Unan-Unan. Upacara ini diselenggarakan sekali dalam sewindu. Sewindu menurut kalender Tengger bukan 8 tahun melainkan 5 tahun. Upacara ini dimaksudkan untuk membersihkan desa dari gangguan makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar dapat kembali ke alam asal yang sempurna, yaitu Nirwana. Kata unan-unan berasal dari kata tuna ‘rugi’, maksudnya upacara ini dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama satu windu. Dalam upacara ini orang Tengger menyembelih kerbau sebagai kurban.

Upacara Yadnya Kasada Masyarakat Tengger

Selain ketiga upacara tersebut, masih ada upacara Entas-Entas (menyucikan roh orang yang telah meninggal dunia pada hari ke-1000). Kemudian Pujan Mubeng (membersihkan desa dari gangguan dan bencana), upacara Kelahiran (selamatan bagi bayi mulai dari kandungan, lahir, hingga beberapa bulan setelah lahir).

Terakhir, bekti kepada orang tua.Orang tua dalam ajaran Hindu dianggap sebagai ‘Dewa Nyekala’, beliau adalah Tuhan yang hadir di dunia. Berbhakti dan membahagiakan orang tua tentu menjadi dharma utama bagi seorang anak.

Karena itu, bagi Suku Tengger, bekti kepada orang tua sebagai hal penting dalam hidup manusia. Sehingga, seorang anak yang berbakti kepada orang tua akan mendapat 4 pahala besar (Catur Phalaning Bhakti Wwang Atuha), yaitu: kirti (pujian), ayusa (kemakmuran hidup), bala (kekuatan), dan yasa (jasa baik).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here