Tepatkah Wacana Pak Menteri Menghapus Pelajaran Agama di Sekolah?

2
203

Nusantara.news, Jakarta – Bangsa Indonesia bukan penggemar Friedrich Wilhelm Nietzsche yang terkenal dengan pemikirannya yang radikal, yang mengatakan ‘Tuhan sudah mati’.

Mengacu pada cara berfikir Bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila yang pertama, maka Bangsa Indonesia sejatinya adalah bangsa yang anti pemikiran Nietzsche yang menyesatkan itu.

Sebagai bangsa yang meyakini keberadaan Tuhan, maka bangsa ini adalah juga bangsa yang meyakini arti penting agama, tidak saja dalam perspektif keimanan, tetapi juga keilmuan.

Lagi pula, seluruh kejeniusan Albert Einstein pada akhirnya berujung pada kesimpulan, “Sains tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta.”  Ini berarti ada keterikatan yang tidak mungkin saling melepaskan antara agama dan sains.

Lalu mengapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy merencanakan menghapus pendidikan agama di sekolah-sekolah? Apakah itu karena Pak Menteri berasumsi bahwa anak didik sudah lama belajar agama, dan oleh sebab itu saatnya merenungkan hasil-hasilnya dan medekatkan diri dengan Tuhan di tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, vihara, klenteng dan lainnya, untuk kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara?

Agama dan Kitab Suci

Wacana menghapus pendidikan agama di sekolah dikemukakan Mendikbud Muhadjir dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (13/6/2017). Katanya,  untuk pendidikan agama, masing-masing sekolah bisa mengajak siswa belajar di masjid, pura, dan gereja. Atau bisa juga, guru-guru di TPA atau Madrasah Diniyah, datang ke sekolah memberikan pelajaran agama.

“Kalau sudah dapat pelajaran agama di luar kelas, otomatis siswa tidak perlu lagi dapat pendidikan agama di dalam kelas. Nanti, akan kami atur teknisnya, agar pendidikan agama yang didapat di luar kelas atau sekolah itu disinkronkan dengan kurikulum,” beber Muhadjir.

Pernyataan Mendikbud itu mengesankan penyederhanaan masalah, karena pendidikan agama seolah-olah bisa dilakukan di mana saja, seperti di masjid, gereja dan lain sebagainya.

Secara cepat harus dikemukakan bahwa antara tempat ibadah dengan sekolah adalah dua hal yang berbeda.

Masjid berasal dari akar kata sajada-yasjudu berarti sujud, lalu membentuk kata masjid yang berarti tempat sujud. Segala sesuatu yang ditempati sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat disebut masjid.

Demikian juga gereja. Kata gereja berasal dari bahasa Portugis igrea. Sedangkan dalam bahasa Yunani memakai kata kuriake yang artinya adalah milik Tuhan. Gereja adalah tempat persekutuan orang percaya dan mendasarkan hidupnya kepada Penebusan Kristus.

Kuil adalah suatu tempat atau bangunan tempat persembahyangan bagi umat Hindu untuk memuja Brahman.

Vihara adalah tempat ibadah umat Budha. Demikian juga Klenteng yang merupakan tempat ibadah umat Konghucu atau Umat Tao.

Masjid, gereja, kuil, vihara, klenteng dan lain sebagainya adalah tempat ibadah, tempat umat sujud kepada Tuhan.

Sedangkan sekolah adalah tempat belajar. Dalam hal pendidikan agama, sarana yang digunakan di tempat ibadah dan di sekolah memang sama, yakni kita suci.

Namun, perspektifnya berbeda. Ketika berada di rumah ibadah, maka kita suci dipergunakan dalam perspektif sujud dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sementara ketika berada di sekolah, kita suci dipergunakan dalam perspektif belajar, memahami, mengenali, atau dalam bahasa sebuah senitron, mencari Tuhan.

Jadi perspektifnya berbeda walau keduanya berada dalam satu rangkaian yang saling terkait satu dengan yang lain. Kegiatan pendidikan  agama disekolah berada di sisi memahami Tuhan, sementara kegiatan keagamaan di rumah-rumah ibadah adalah sujud dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Kegiatan keagamaan atau pendidikan agama di sekolah menjadi sangat penting, karena semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap agama, maka semakin mampu ia bersujud dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Mendikbud kemudian memang melengkapi pernyataannya. Dikatakan, pernyataan penghapusan pendidikan agama di sekolah itu merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017. Permendikbud itu mengamanatkan sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

Pernyataan ini tetap dinilai menyederhanakan masalah pendidikan agama. Seolah-olah pendidikan agama itu anak tiri dari kurikulum, sehingga bisa saja dikerjasamakan. Mengapa bukan pendidikan yang lain saja yang dikerjasamakan? Mata pelajaran matematika atau bahasa Inggris misalnya, bukankah murid-murid sekolah sudah terbiasa mengambil kursus sebagai pelajaran tambahan, sehingga lebih mudah untuk dikerjasamakan?

Mengapa justru mata pelajaran agama yang dikerjasamakan?

Guru-guru di lembaga pendidikan agama di luar sekolah bisa saja lebih hebat ketimbang guru-guru agama yang dimiliki sekolah. Tetapi, ketika pendidikan agama itu dikerjasamakan dan dilakukan di luar sekolah, maka suasananya berbeda, karena suasana sekolah sebagai lembaga pendidikan berbeda dengan suasana lembaga pendidikan luar sekolah.

Betapapun fasilitas lembaga pendidikan di luar sekolah itu lebih mentereng dan lebih lengkap dibanding fasilitas yang dimiliki sekolah, tetapi lembaga pendidikan di luar sekolah itu cenderung ditafsirkan sebagai lembaga pengajaran.

Sedangkan sekolah, betapapun terdapat sejumlah kekurangan-kekurangan dalam hal fasilitas bahkan kualitas guru, tetapi tafsir tentang sekolah tunggal, yakni lembaga pendidikan.

Sebagai lembaga pendidikan, maka sekolah melakukan proses belajar dan mengajar sesuai bahan ajar dalam koridor moral dan kepribadian. Dalam dunia pendidikan juga diberikan motivasi untuk mengikuti ketentuan atau tata tertib yang telah menjadi kesepakatan bersama. Strategi dan metode yang digunakan dalam mendidik menggunakan keteladan dan disiplin.

Sedangkan mengajar, adalah proses menyampaikan pengetahuan pada anak didik berupa bahan ajar. Tidak ada penekanan khusus memberikan motivasi, disipilin dan keteladanan.

Agama Sebagai Hal Pribadi

Dalam keterangan lain, Mendikbud Muhadjir mengemukakan, pelajaran agama di beberapa negara sebenarnya sudah dihapus. Sebagai contoh Singapura, bahkan sejak era pemerintahan Lee Kwan Yu pelajaran agaman dihapus. Begitu pula dengan beberapa negara Eropa yang sudah tidak ada pendidikan agama di sekolah. Salah satu alasan negara-negara tersebut menghapuskan pendidikan atau pelajaran agama, karena pemerintah mereka menilai agama adalah sesuatu yang pribadi.

Menyamakan  Indonesia dengan negara lain adalah suatu yang tidak pas. Sebab, dasar filosofi negara Indoensia adalah Pancasila, yang dengan tegas menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Penempatan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, mencerminkan tingkat keberagamaan atau tingkat relijiusitas masyarakat Indonesia.

Selain negara-negara di Timur Tengah, berapa banyakkah negara-negara di dunia yang menempatkan Ketuhanan sebagai fondasi utama negaranya?

Tidak ada masalah negara-negara yang disebut oleh Mendikbud itu menilai agama sebagai suatu yang pribadi. Tetapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya. terbukti, kegiatan kegiatan keagamaan berkembang di seluruh  lapisan masayarakat. Lihat misalnya acara televisi, hampir semua televisi di Indonesia memiliki acara yang terkait dengan agama. Semua acara keagamaan di televisi itu dalam kenyataanya memperoleh slot iklan, yang artinya diminati pemirsa.

Ceramah-ceramah keagamaan di televisi dijadikan masyarakat sebagai tontonan untuk meningkatkan pengetahuan agama.

Keganderungan rakyat Indonesia terhadap kegiatan keagamaan juga terlihat dari jumlah masjid di indonesia yang terus bertambah. Penambahan jumlah masjid malah sering kali dijadikan oleh calon kepala daerah sebagai cara untuk menarik simpati masyarakat untuk memilihnya.

Partai-partai yang menjadikan agama sebagai nafas kehidupannya juga eksis di Indonesia.

Kegiatan keagamaan adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan sejumlah daerah menjadikan kesolehan sosial sebagai visi dan misi daerah. Demikian juga, hal-hal yang bernafaskan syariah marak di Indonesia, mulai dari bank, koperasi dan lain sebagainya.

Berbeda dengan negara-negara yang ingin mejadikan agama sebagai hal yang pribadi, di Indonesia justru terus berupaya menjadikan agama sebagai fondasi dalam tata pergaulan sehari-hari, maupun dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalahnya justru terletak di sini. Yakni bahwa kualitas pemahaman agama masyarakat Indonesia belum merata, yang kemudian menimbulkan  beberapa tindakan menyimpang. Dalam perspektif ini pula, pendidikan agama di sekolah-sekolah seharusnya lebih ditingkatkan, bukannya dihapuskan.

Albert Einstein berkata, “Misteri abadi dari dunia ini adalah kesukarannya untuk dipahami.” Misteri Tuhan tentu lebih sukar lagi, dan oleh sebab itu, sekali lagi, pendidikan agama di sekolah bukannya dihapuskan atau disederhanakan dengan cara dikerjasamakan dengan lembaga pendidikan di luar sekolah, sebaliknya malah harus lebih ditingkatkan kualitasnya. []

 

2 KOMENTAR

  1. Agama tetap harus jadi pelajaran di sekolah dgn judul sejarah dan agama. Siswa wajib paham manfaat dan penyalahgunaan agama dan sejarahnya yang memajukan atau menghambat kemanusiaan keadilan n kemakmuran.

  2. Bgmana ratusan agama berevolusi sejak 2500 tahun SM, berkembang n redup berganti agama satu dgn lainnya. Bgmana agama dan politik menimbulkan peperangan pembunuhan atas nama agama.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here