Terbongkar, Permainan Buzzer Ahok Penyebar Isu SARA

1
419
The Guardian mempublikasi sebuah artikel terkait permainan buzzer media sosial Twitter di Indonesia.

Nusantara.news, Jakarta – Sebelumnya Polri mengungkap dua produsen dan sindikat penyebar informasi hoax, ujaran kebencian, fitnah, dan isu SARA, yakni Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA). Ada enam anggota inti kelompok MCA di Surabaya, Bali, Sumedang, Pangkalpinang, Palu dan Yogyakarta.

Sejak itu banyak pihak termasuk pemerintah menyebut sepak terjang Saracen dan MCA mengancam integrasi bangsa. Polri didesak segera membongkar kelompok ini dari mulai aktor intelektual dan produsen, serta para pemesannya dari kelompok ‘pemain politik’. Namun sampai sekarang Polri belum mampu membongkar aktor intelektual yang dimaksud. Dan, isu Saracen dan MCA lambat laun menghilang.

Tapi kini, publik malah dihebohkan situs berita online terbesar di Inggris, yang memiliki cabang di Amerika Serikat dan Australia, The Guardian mempublikasi sebuah berita terkait permainan buzzer media sosial Twitter di Indonesia.

Dalam pemberitaannya berjudul I felt disgusted: inside Indonesia’s fake Twitter account factories (Saya merasa jijik: berada di dalam pabrik akun Twitter palsu di Indonesia) dimuat Senin (23/7/2018), disebutkan ‘tim buzzer‘ adalah bagian dari politik yang sedang berkembang di Indonesia. Mereka dibentuk untuk membantu memecah belah agama dan ras.

The Guardian mewawancarai seorang buzzer yang dibayar untuk ‘mengamankan’ bahkan ‘menyerang’ balik pengguna Twitter yang tidak suka pada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sebelum dan saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Dalam artikel yang ditulis Kate Lamb dari Jakarta, dia mewawancarai pria yang namanya disamarkan, Alex di sebuah kafe di Jakarta. Berdasarkan pengakuan Alex, ia diminta membuat masing-masing lima akun Facebook dan Twitter, serta satu akun Instagram palsu.

Selama menjadi tim buzzer dari Ahok, Alex diminta untuk merahasiakan pekerjaannya tersebut. Dia mengaku dibayar US$280 (sekitar Rp4 juta) per bulan. Selama bekerja menjadi buzzer, Alex dan tim lain menempati rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tujuan tim buzzer dibentuk untuk ‘berperang’ dan menyerang lawan-lawan politik Ahok. Jika waktunya perang maka ia dan buzzer lain harus menjaga medan perang. Di situlah Alex dan timnya mulai membuat akun palsu. Akun-akun itu kemudian disebar di titik-titik pos yang bersinggungan dengan politik, ekonomi dan lain-lain. Setiap akun diberi foto avatar wanita cantik agar menarik perhatian orang lain untuk melihat postingan status dari materi atau isu yang sedang dimainkan sesuai pesanan.

“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” jelas Alex.

Foto avatar wanita muda yang ditampilkan juga tergantung dari pos-pos yang dimauki buzzer. Kadang ada foto avatar wanita cantik mengenakan jilbab dan kacamata hitam. Akun tweetnya hampir secara eksklusif konten pro-pemerintah dengan disertai hashtag.

Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu biasa menggunakan kata-kata “aman” sebagai kode untuk memposting dari markas mereka di Menteng, dimana mereka beroperasi dari beberapa kamar.

“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi,” rinci Alex. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.

Tak sungkan-sungkan, Alex mengakui jika dia harus perang kata-kata di media sosial melawan buzzer milik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Anies Rasyid Baswedan. Maklum, dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, yang menjadi lawan Ahok adalah AHY dan Anies Baswedan.

Sehari 2.400 postingan

Dalam operasi pengamanan dan penyerangan itu, tim buzzer telah dikoordinasikan melalui grup messenger WhatsApp. Dalam grup itu ada sekitar 80 anggota yang tergabung. Dalam grup itu, isu atau konten yang harus dimainkan telah disiapkan. Termasuk membuat hashtag harian untuk dipromosikan.

Alex menjadi bagian dari sekitar 20 orang buzzer atau pasukan rahasia dunia maya. Setiap orang harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram. Mereka  bertugas menyebar pesan berantai melalui akun media sosial palsu untuk mendukung Ahok agar terpilih kembali. Mereka masing-masing diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 berita sehari di akun Twitter palsunya, dan beberapa kali setiap hari di Facebook. Dengan puluhan akun media sosial tersebut, tim buzzer dapat menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari.

Tidak peduli materi yang disebar apakah bernada SARA atau tidak. Yang jelas pekerjaan buzzer harus dilakukan demi memenangkan ‘peperangan’. Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam. Konten Islam rasis dan garis keras (radikal) dirancang untuk mengubah pemilih Muslim terhadap Ahok.

Kendati demikian, Alex mengaku jijik dengan dirinya lantaran menjalankan pekerjaan sebagai buzzer Twitter. “Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan,” kata Alex, “tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri,” tulis The Guardian mengutip ucapan Alex.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari secara artifisial dapat meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional. Mengingat kini Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Pengamat Transparancy Indonesia, Pradipa Rasidi mengatakan, pihaknya tidak aneh melihat fenomena media sosial digunakan untuk perang kampanye dalam menarik pendukung. “Pada awalnya mereka tampak normal tetapi kemudian mereka kebanyakan hanya menciut tentang politik,” katanya.

Rasidi menilai, tim buzzer beroperasi dengan cara yang sama seperti gosip. Ketika semua orang berbicara tentang hal yang sama dengan yang dipikirkan orang, mungkin saja itu benar dan di itulah tim buzzer masuk dengan meletakkan dampak yang besar.

Rasidi pernah mewawancarai dua buzzer Ahok yang berbeda, yang menggunakan akun palsu dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan Alex. Keduanya menolak berbicara dengan The Guardian.

Sementara menurut pakar strategi media sosial yang bekerja di salah satu kampanye lawan Ahok, sebut saja nama depannya Andi, mengatakan bahwa kegiatan itu (menjadi buzzer) adalah industri besar.

Dari tokoh-tokoh berpengaruh yang melakukan tweet bayarannya bisa mencapai Rp 20 juta untuk sekali tweet dan sekitar Rp 1-4 juta untuk topik yang sedang tren. Karena itulah bisnis ini bisa menjadi bumerang tatkala konten-konten yang dibuatnya adalah pesanan dan fiktif alias menghasut.

Berdasarkan penelitian tentang industri buzzer di Indonesia, peneliti dari Pusat Penelitian Inovasi dan Kebijakan (CIPG) mengatakan semua kandidat dalam pemilihan Jakarta 2017 menggunakan tim buzzer – dan setidaknya satu dari lawan Ahok dengan terampil menciptakan “ratusan bot” yang terhubung untuk mendukung portal web.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here